Bhre Kertabhumi
Bab 002 — Pusar Bumi yang Bernapas
Lereng Barat Semeru, 1453 M — Raga yang membeku oleh embun upas dan bangkitnya sebuah dendam suci.
BAGIAN 1 — Demam Raga dan Kilasan Api Trowulan
Malam di lereng barat Semeru tidak turun sebagaimana malam turun di dataran rendah Trowulan. Di ibu kota Majapahit, malam adalah upacara yang tertib—genta perunggu ditabuh tiga kali dari sanggar pamujan utama, lampu-lampu minyak kelapa ditiup oleh para abdi dalem yang bergerak dengan langkah terukur, dan aroma dupa cendana mulai naik dari paviliun-paviliun pemujaan sebagai tanda bahwa dunia akan segera beristirahat. Di sana, malam adalah waktu yang diatur oleh irama gamelan dan kebiasaan turun-temurun, yang datang dengan wajah yang dapat diduga oleh setiap jiwa yang tinggal di balik tembok bata merah ibu kota.
Namun di lereng barat Semeru, malam adalah makhluk lain sama sekali. Ia datang bukan sebagai tirai yang jatuh perlahan, melainkan sebagai gelombang hitam yang bangkit dari dasar lembah—naik perlahan, seperti napas panjang yang dihembuskan oleh perut gunung itu sendiri. Ketika matahari terakhir kali menyentuh pucuk-pucuk pinus tua di ufuk barat, cahayanya tidak memudar dengan lembut. Ia direnggut. Cahaya itu ditarik mundur oleh kegelapan yang telah menunggu di balik batang-batang pohon, seperti pemburu yang telah mengintai sejak siang, sabar, tak bergerak, hingga mangsanya lengah sepersekian detik.
Kabut yang sejak pagi menggantung di lembah—kabut putih susu yang lembut, yang membuat pepohonan tampak seperti raksasa-raksaka yang sedang bermimpi—berubah warna dengan cara yang hanya dapat dilihat oleh mereka yang telah belajar melihat. Pertama, ia menjadi kelabu kebiruan, seperti kain tua yang telah dicuci terlalu sering. Lalu kelabu itu mengental, menjadi kelabu tua, lalu ungu pucat, lalu hitam pekat yang seolah menyerap segala suara, segala cahaya, segala harapan. Bintang-bintang muncul satu per satu di celah-celah dahan—bintang-bintang yang di dataran rendah tampak kecil dan jinak, namun di lereng Semeru tampak besar, tajam, dan dingin, seperti mata-mata leluhur yang sedang mengawasi dari kejauhan yang tak terukur.
Namun cahaya bintang itu tidak sampai ke dasar lembah. Di sana, di tempat Bhre Kertabhumi dan Dewamatra menghabiskan hari pertama mereka, kegelapan memiliki bobotnya sendiri. Ia bukan sekadar ketiadaan cahaya—ia adalah sesuatu yang hidup, yang bernapas, yang menekan. Kegelapan itu berat, lembap, dan penuh dengan napas-napas tak kasat mata yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah belajar mendengar. Ada desir halus di antara batang-batang pinus—bukan desir angin, melainkan sesuatu yang lebih purba, seperti suara tanah yang sedang berbicara dengan akar-akar pohon. Ada bunyi krek kecil dari dahan yang patah di kejauhan, entah karena beban burung hantu yang hinggap, entah karena langkah luwak yang sedang berburu di antara semak. Ada aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi daun pinus yang terluka, aroma yang tajam, yang menusuk hidung, yang membuat ingatan-ingatan lama bangkit dari kedalaman batin tanpa diundang.
Dan malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak pernah dirasakan Kertabhumi sepanjang hidupnya di lereng Semeru. Embun upas. Ia turun bukan sebagai tetesan air biasa. Ia turun sebagai kabut halus yang membawa racun dingin dari puncak gunung—racun yang tidak membunuh raga, melainkan membekukan jiwa. Embun itu muncul ketika matahari telah sepenuhnya tenggelam, ketika bintang-bintang mulai berkelip dengan dingin yang menusuk, ketika angin dari arah kawah berubah arah dan membawa serta aroma belerang yang samar namun tajam. Embun itu membasahi setiap helai daun, setiap batang rumput, setiap batu di lereng—namun ia tidak membasahi dengan kelembutan. Ia membasahi dengan cara yang membuat kulit terasa perih, yang membuat bulu kuduk berdiri, yang membuat napas menjadi pendek dan terputus-putus.
Kertabhumi mengenal embun upas dari cerita-cerita Resi Wangsadipa. "Embun upas turun hanya ketika Semeru sedang marah," kata sang resi bertahun-tahun lalu, ketika Kertabhumi masih berusia dua belas tahun dan duduk dihadapannya di sebuah pertapaan kecil di lereng utara. "Ia adalah air mata gunung yang membeku—air mata yang menagih janji dari mereka yang berani menapaki jalurnya tanpa persiapan yang cukup. Jika kau bertemu embun upas, anak muda, ketahuilah bahwa tubuhmu akan menjadi medan perang. Panas dan dingin akan bertarung di dalam darahmu. Jiwa dan raga akan saling menolak. Dan hanya mereka yang memiliki wiji daya yang cukup kuat yang akan selamat dari malam itu."
Kertabhumi tidak mengerti sepenuhnya makna kata-kata itu saat pertama kali mendengarnya. Namun malam ini—malam pertama setelah ujian batin yang memaksanya menatap keempat pecahan jiwanya sendiri, malam pertama setelah tapa raga yang memaksanya berdiri di atas batu hingga tubuhnya berteriak ingin roboh, malam pertama setelah ia menemukan wiji daya—benih cahaya merah keemasan yang kini berdenyut lemah di pusat perutnya—ia mulai mengerti. Embun upas sedang turun. Dan tubuhnya sedang menjadi medan perang.
Pondokan cadas tempat ia berbaring bukanlah sebuah bangunan. Ia hanyalah cekungan batu yang terbentuk oleh ribuan tahun hujan dan angin—cekungan yang cukup luas untuk menampung satu tubuh yang meringkuk, cukup dalam untuk melindunginya dari angin puncak yang kejam, namun cukup terbuka untuk membiarkan malam Semeru masuk dan menagih janji. Lantainya beralaskan janur yang baru saja dipetik—janur kuning yang dihamparkan oleh Dewamatra sendiri dengan gerakan yang lambat dan penuh hormat, seolah sang resi sedang menata persembahan untuk altar yang telah lama ditinggalkan. Janur itu masih segar, masih mengandung aroma getah kelapa yang lembut, namun kini—di tengah embun upas yang turun tanpa henti—janur itu mulai berubah.
Daun-daunnya yang sejak tadi hijau kekuningan, kini mulai menghitam di ujung-ujungnya. Getah yang sejak tadi mengalir lembut di antara seratnya, kini mengental menjadi cairan hitam yang berbau tajam—bau yang mirip dengan bau kemenyan yang dibakar terlalu lama, bau yang oleh para pertapa gunung disebut bau sang bhuta—bau yang menandakan bahwa alam sedang menolak kehadiran manusia di tempat itu. Dan ketika Kertabhumi mencoba menggerakkan tubuhnya—mencoba membalikkan badan, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman—ia merasakan bahwa janur itu telah berubah menjadi sesuatu yang asing. Ia tidak lagi empuk. Ia tidak lagi hangat. Ia menjadi kaku, keras, seperti kulit yang telah dikeringkan oleh matahari terlalu lama—namun kali ini bukan matahari yang mengeringkannya, melainkan embun upas yang membekukan setiap serat janur dari dalam. Kertabhumi mencoba mengangkat tangannya untuk menyentuh janur itu, namun jari-jarinya—yang sejak tadi gemetar oleh sisa-sisa latihan—tidak merespons dengan cepat. Gerakannya lambat, kaku, seperti gerakan tangan seorang tua yang telah lama hidup di gunung. Dan ketika ujung jarinya akhirnya menyentuh permukaan janur, ia merasakan sesuatu yang membuatnya menahan napas. Janur itu dingin. Bukan dingin biasa. Dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Dingin yang seolah-olah berasal dari dalam bumi sendiri—dari kedalaman tempat api Semeru bersemayam, dari tempat di mana batu-batu purba menyimpan panas yang tidak pernah padam, namun yang kini—karena embun upas—telah berubah menjadi dingin yang membekukan. Dingin itu merambat dari janur ke telapak tangannya, dari telapak tangan ke lengannya, dari lengan ke dadanya, hingga ke pusat perutnya—ke tempat di mana wiji daya-nya berdenyut lemah, seperti bara kecil yang sedang berjuang untuk tetap menyala di tengah badai.
Kertabhumi menarik tangannya kembali. Namun dingin itu tidak hilang. Ia tetap menempel di kulitnya, seperti lapisan es tipis yang tidak dapat dihapus dengan gosokan mana pun. Ia merambat lebih dalam, masuk ke dalam otot-ototnya, ke dalam tulang-tulangnya, ke dalam darahnya yang sejak tadi berdenyut tidak teratur oleh sisa-sisa demam yang belum sepenuhnya hilang. Dan di saat yang sama—di saat dingin itu merambat masuk—panas mulai naik dari dalam tubuhnya. Panas yang aneh. Panas yang bukan berasal dari demam biasa. Panas yang seolah-olah berasal dari suatu tempat yang lebih dalam—dari pusat perutnya, dari titik yang oleh Dewamatra disebut Tunggal Pancer, dari tempat di mana wiji daya-nya bersemayam. Panas itu merambat keluar, bertemu dengan dingin yang masuk dari luar, dan di titik pertemuan itu—di titik di mana panas dan dingin bertemu—terjadilah pertarungan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Ia menggigil. Giginya beradu satu sama lain, menghasilkan bunyi tak-tak-tak yang gema-nya memantul di dinding-dinding cadas cekungan itu. Bunyi itu terdengar asing di telinganya sendiri—seperti bunyi yang berasal dari tubuh orang lain, dari makhluk lain yang sedang kesakitan di dalam tubuhnya. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi janur yang kini telah menjadi keras di bawah kepalanya, membuat batu pipih yang menjadi bantalnya terasa licin dan dingin ketika pipinya menyentuhnya. Namun ia tetap kedinginan. Keringat itu bukan keringat yang melegakan—ia adalah keringat yang mengkhianati, yang keluar dari tubuh bukan untuk mendinginkan, melainkan untuk menandakan bahwa tubuh itu sedang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dan di tengah pertarungan antara panas dan dingin itu, Kertabhumi merasakan sesuatu yang lebih mengerikan. Rasa sakit yang bukan berasal dari tubuh. Rasa sakit yang berasal dari batin.
Ia tidak tahu kapan transisi itu dimulai. Mungkin ketika matanya mulai terasa berat oleh demam yang semakin tinggi. Mungkin ketika napasnya mulai terputus-putus oleh dingin yang semakin menusuk. Mungkin ketika wiji daya-nya—bara kecil di pusat perutnya—mulai berdenyut tidak teratur, seperti detak jantung seekor burung yang terjebak di dalam gua yang dalam. Yang ia tahu hanyalah: pada suatu saat—saat yang tidak dapat ia tentukan dengan pasti—dunia di sekelilingnya mulai berubah.
Cekungan batu tempat ia berbaring tidak lagi terasa nyata. Dinding-dinding cadas yang sejak tadi menaunginya mulai menipis, menjadi transparan, menjadi seperti kain sutra yang digoyang angin—kain yang tidak lagi dapat menyembunyikan apa yang ada di baliknya. Dan di balik kain itu, Kertabhumi melihat sesuatu yang membuatnya menahan napas. Ia melihat Trowulan. Ibu kota Majapahit.
Namun bukan Trowulan yang ia kenal—bukan Trowulan yang megah dengan bata-bata merahnya yang menjulang, bukan Trowulan yang ramai dengan langkah para abdi dalem, bukan Trowulan yang hidup dengan suara gamelan dari sanggar pamujan dan aroma dupa cendana yang naik setiap pagi. Yang ia lihat adalah Trowulan yang terbakar. Api. Api di mana-mana. Api yang melahap paviliun-paviliun keputren—paviliun yang sejak tadi ia bayangkan sebagai tempat ibunya, Dyah Kusumadewi, sedang tidur dengan tenang di balik tirai sutra. Api yang melahap balai-balai pertemuan—balai yang sejak tadi ia bayangkan sebagai tempat ayahandanya, Prabu Rajasawardhana, sedang duduk dengan tegak di atas singgasana, menatap peta kerajaan dengan mata yang tajam. Api yang melahap sanggar-sanggar pamujan—sanggar yang sejak tadi ia bayangkan sebagai tempat para brahmana sedang memanjatkan puja, meminta perlindungan dari Hyang Widhi untuk seluruh keluarga kerajaan.
Dan di tengah api itu—di tengah kobaran yang membakar segala sesuatu yang ia cintai—Kertabhumi melihat sesuatu yang membuatnya ingin menjerit, namun suaranya tidak keluar dari tenggorokannya. Ia melihat ibunya. Dyah Kusumadewi. Ibunya berdiri di tengah halaman keputren yang telah hangus separuh, rambutnya yang sejak tadi terurai rapi kini berantakan, kain sutranya yang sejak tadi bersih kini berlumuran abu dan darah—darah yang bukan darahnya sendiri. Ia memegang sesuatu di tangannya—sehelai selendang yang sejak tadi menjadi tempat pelampiasan kegelisahannya, selendang yang kini telah robek separuh, yang kini telah menjadi saksi bisu dari segala kehancuran yang telah terjadi. Matanya—mata yang sejak tadi jernih dan penuh kasih—kini lebar oleh ketakutan, oleh kepanikan, oleh sesuatu yang lebih dalam dari ketakutan: oleh keputusasaan.
"Ibu!" Kertabhumi ingin menjerit. Namun suaranya tidak keluar. Ia mencoba bangkit dari janur yang kini telah menjadi keras di bawah tubuhnya, namun tubuhnya tidak merespons. Tubuhnya lumpuh—lumpuh oleh demam, lumpuh oleh dingin, lumpuh oleh sesuatu yang lebih dalam dari keduanya: oleh kekuatan tak kasat mata yang sedang memaksanya untuk menyaksikan, untuk melihat, untuk merasakan segala kehancuran itu tanpa dapat berbuat apa-apa.
Dan ia melihat lebih banyak lagi. Ia melihat para dayang—Sri Sambi, Ninis Wulan, dan dayang-dayang lain yang sejak kecil telah menemaninya di keputren—berlarian di antara kobaran api, membawa serta kendi-kendi yang sejak tadi berisi air untuk memadamkan api, namun yang kini—ketika air itu disiramkan ke kobaran—justru membuat api itu semakin besar, semakin ganas, semakin tak terkendali. Ia melihat para abdi dalem tua—abdi yang sejak kecil telah mengajarinya cara membaca jejak di tanah, cara membedakan suara daun gugur dari suara ranting patah—rebah di tanah, tubuh mereka hangus oleh api yang tidak mengenal belas kasihan. Ia melihat anak-anak kecil—anak-anak yang sejak tadi bermain di halaman istana, yang sejak tadi tertawa riang tanpa mengetahui bahwa dunia mereka sedang runtuh—menangis di sudut-sudut lorong, mencari ibu mereka, mencari ayah mereka, mencari siapa pun yang dapat menyelamatkan mereka dari kobaran yang semakin dekat.
Dan di tengah semua itu—di tengah segala kehancuran yang membuat jantungnya ingin berhenti berdetak—Kertabhumi melihat sesuatu yang lebih mengerikan dari api mana pun. Ia melihat barisan prajurit. Bukan prajurit biasa. Bukan prajurit yang ia kenal—bukan prajurit yang sejak kecil telah melindunginya, yang sejak kecil telah mengajarinya cara memegang tombak, cara membaca arah angin sebelum badai datang. Yang ia lihat adalah prajurit-prajurit yang mengenakan pakaian gelap, yang wajahnya ditutupi kain hitam, yang matanya—yang dapat ia lihat di balik kain itu—berkilau oleh sesuatu yang bukan keberanian, melainkan oleh sesuatu yang lebih gelap: oleh niat membunuh.
Dan di lengan mereka—di lengan kiri setiap prajurit itu—terdapat sehelai kain merah. Kain merah yang diikat erat di lengan atas, kain yang oleh Kertabhumi—yang telah dibesarkan di istana, yang telah diajari segala simbol dan tanda oleh para tumenggung—langsung dikenali sebagai tanda pembelotan. Tanda bahwa mereka bukan lagi prajurit Majapahit. Tanda bahwa mereka telah menjual jiwa mereka kepada seseorang yang lebih gelap, lebih kejam, lebih kejam dari siapa pun yang pernah ia bayangkan. Bala Kraton. Pasukan pembelot. Pasukan yang—seperti yang telah diajarkan kepadanya oleh para guru istana—hanya muncul ketika ada seseorang di dalam keluarga kerajaan sendiri yang telah memutuskan untuk mengkhianati darah mereka sendiri, untuk menjual kerajaan mereka kepada kekuatan yang lebih gelap, untuk menenggelamkan Majapahit ke dalam bayangan yang tidak akan pernah padam.
Dan Kertabhumi—yang sejak kecil telah diajari untuk membaca segala tanda, untuk memahami segala simbol—seketika mengerti siapa yang berdiri di belakang para pembelot itu. Suraprabhawa. Paman yang sejak lama menunjukkan gelagat haus kuasa. Paman yang sejak lama iri pada ayahandanya. Paman yang sejak lama menunggu kesempatan untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Namun apa yang ia lihat selanjutnya—apa yang ia saksikan dengan mata batinnya yang kini terbuka lebar oleh kekuatan tak kasat mata—adalah sesuatu yang akan menghantui tidurnya untuk selamanya. Ia melihat ayahandanya. Prabu Rajasawardhana. Raja Majapahit. Ayahnya berdiri di tengah Bangsal Witana—bangsal suci yang sejak ratusan tahun lalu menjadi tempat para raja Majapahit menerima wahyu dari Hyang Widhi, bangsal yang lantainya terbuat dari batu hitam yang dipoles hingga mengkilap, yang dindingnya dihiasi relief-relief kisah Ramayana yang telah dipahat oleh tangan-tangan empu terbaik di Jawa. Ayahnya berdiri tegak—tegak seperti batang pinus tua yang tidak pernah goyah oleh angin mana pun—dengan jubah kerajaan yang sejak tadi dikenakannya, dengan mahkota sederhana yang sejak tadi bertengger di kepalanya, dengan tongkat kerajaan yang sejak tadi dipegangnya di tangan kanan.
Namun ayahnya tidak sendirian. Di belakangnya—di belakang tubuh raja yang sejak tadi berdiri tegak tanpa mengetahui bahaya yang sedang mendekat—berdiri seorang pria. Pria itu tidak besar. Pria itu tidak kekar. Namun ia memiliki sesuatu yang membuat Kertabhumi—yang sejak kecil telah diajari untuk membaca bahasa tubuh—langsung mengenalinya sebagai pembunuh dengan kemampuan tertinggi. Sesuatu dalam cara pria itu berdiri—cara yang terlalu tenang, terlalu terukur, terlalu dingin. Sesuatu dalam cara pria itu memegang senjata di tangannya—senjata yang bukan pedang, bukan tombak, melainkan sebilah keris. Keris berteluk lima.
Keris yang bilahnya tidak berkilau oleh cahaya api yang membakar di sekelilingnya, melainkan yang justru menyerap cahaya itu—keris yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai keris yang telah ditempa oleh tangan-tangan empu yang tidak hanya menguasai ilmu logam, melainkan juga ilmu gelap. Keris yang—seperti yang telah diajarkan kepadanya oleh para guru istana—hanya digunakan untuk satu tujuan: untuk membunuh seseorang yang darahnya terlalu suci untuk ditumpahkan oleh senjata biasa.
Dan pria itu—pria yang memegang keris berteluk lima itu—adalah Bharingan. Nama itu terdengar di dalam batin Kertabhumi seperti petir yang menyambar di siang bolong. Bharingan—nama yang hanya ia dengar dalam bisik-bisik para tumenggung, nama yang hanya disebut dalam keadaan paling genting, nama yang oleh para pembesar istana disebut sebagai sang pembunuh bayangan—pria yang konon telah membunuh puluhan bangsawan di seluruh Jawa, pria yang konon tidak pernah meninggalkan saksi hidup, pria yang konon hanya bekerja untuk mereka yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang cukup untuk membayar jasanya.
Dan kini—kini Bharingan berdiri di belakang ayahandanya, dengan keris berteluk lima di tangannya, dengan mata yang berkilau oleh niat yang tidak dapat disembunyikan lagi. Kertabhumi ingin menjerit. Ingin memperingatkan ayahnya. Ingin melompat dari cekungan batu itu, dari jarak yang entah berapa jauh, dari dunia batin yang entah bagaimana terhubung dengan dunia nyata, dan menebas Bharingan dengan kerisnya sendiri sebelum pria itu sempat melukai ayahandanya. Namun tubuhnya tetap lumpuh. Suaranya tetap terkunci.
Dan ia hanya dapat menyaksikan—dengan mata yang lebar oleh horor, dengan jantung yang berdetak begitu kencang hingga ia dapat merasakannya di setiap urat nadinya, dengan napas yang terputus-putus oleh kepanikan yang tidak dapat ia kendalikan—apa yang terjadi selanjutnya. Bharingan bergerak. Gerakannya tidak cepat—tidak secepat gerakan pembunuh yang terburu-buru. Gerakannya lambat, terukur, seperti gerakan seorang pendeta yang sedang melakukan ritual suci. Ia mengangkat kerisnya—mengangkat dengan tangan kanan, dengan jari-jari yang memegang gagang keris dengan kelembutan yang aneh, seolah-olah keris itu bukan senjata, melainkan persembahan yang ia berikan kepada seseorang yang ia hormati. Dan kemudian—dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tidak terlihat—ia menusukkan keris itu ke punggung Prabu Rajasawardhana. Tepat di antara tulang belikat. Tepat di tempat di mana jantung ayahandanya bersemayam.
Kertabhumi melihat ayahnya tersentak—tersentak seperti pohon yang dihantam petir, seperti batu yang dibelah oleh palu raksasa. Tubuh raja yang sejak tadi berdiri tegak kini mulai goyah—goyah seperti batang pinus tua yang akhirnya menyerah pada angin yang terlalu kencang, goyah seperti gunung yang akhirnya runtuh oleh getaran yang terlalu kuat. Namun ayahnya tidak langsung jatuh. Ia masih berdiri—berdiri dengan kaki yang gemetar, dengan tangan yang masih memegang tongkat kerajaan, dengan kepala yang masih tegak meski darahnya telah mulai mengalir keluar dari luka di punggungnya.
Dan kemudian—kemudian ayahnya menoleh. Menoleh perlahan, dengan leher yang kaku oleh rasa sakit yang tidak dapat dibayangkan, dengan mata yang sejak tadi tenang kini lebar oleh sesuatu yang bukan ketakutan, melainkan oleh sesuatu yang lebih dalam: oleh pengkhianatan. Ayahnya melihat Bharingan. Dan Bharingan—dengan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun, dengan mata yang dingin seperti mata ular yang sedang mengawasi mangsanya—menarik kerisnya keluar dari punggung raja. Darah. Darah yang merah pekat—darah yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai darah ayahandanya, darah yang telah mengalir di dalam tubuhnya sendiri, darah yang telah membentuk siapa dirinya—muncrat keluar dari luka itu, membasahi jubah kuning keemasan yang sejak tadi dikenakan oleh rajanya, membasahi lantai batu hitam Bangsal Witana yang sejak ratusan tahun lalu telah menjadi saksi segala kejayaan dan segala kehancuran Majapahit.
Ayahnya jatuh. Jatuh dengan lutut yang menyentuh lantai terlebih dahulu, lalu dengan tangan yang masih memegang tongkat kerajaan, lalu dengan dada yang menghantam batu hitam itu dengan bunyi yang—meski Kertabhumi berada di dunia yang berbeda, di tempat yang berbeda, di waktu yang berbeda—terdengar begitu jelas di telinganya hingga ia dapat merasakannya di setiap serat ototnya. Dan kemudian—kemudian ayahnya menatap ke arahnya. Menatap bukan dengan mata fisik—melainkan dengan mata batin, dengan mata yang seolah-olah dapat menembus jarak, dapat menembus waktu, dapat menembus segala penghalang yang memisahkan mereka. Dan di mata itu—di mata ayahandanya yang sejak tadi tenang, yang sejak tadi bijaksana, yang sejak tadi penuh kasih—Kertabhumi melihat sesuatu yang akan menghantui tidurnya untuk selamanya. Ia melihat pesan. Pesan yang tidak diucapkan dengan kata-kata. Pesan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Pesan yang hanya dapat disampaikan melalui tatapan—tatapan yang berkata: "Jaga ibumu. Balaskan dendamku. Jadilah raja yang lebih besar dari aku. Dan jangan—jangan pernah—menyerah pada bayangan." Lalu mata itu menutup.
Dan Prabu Rajasawardhana—raja Majapahit, ayahandanya, manusia yang sejak kecil telah menjadi teladannya, yang sejak kecil telah menjadi alasannya untuk menjadi lebih baik—hembuskan napas terakhirnya.
Kertabhumi menjerit. Jeritan yang tidak keluar dari tenggorokannya—jeritan yang keluar dari jiwanya, dari kedalaman batinnya yang sejak tadi telah terkunci oleh kekuatan tak kasat mata, dari tempat di mana segala kasih, segala hormat, segala cinta pada ayahandanya telah bersemayam sejak ia pertama kali membuka mata di dunia ini. Jeritan itu bergema di dalam kepalanya, di dalam dadanya, di dalam setiap serat ototnya, hingga ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat—bergetar bukan oleh demam, bukan oleh dingin, melainkan oleh sesuatu yang lebih dalam: oleh dendam yang sejak tadi telah mulai mengkristal di dalam hatinya.
Dan kemudian—kemudian dunia di sekelilingnya runtuh. Pengelihatan atau mimpi Trowulan yang terbakar menghilang—menghilang seperti kabut yang tersapu angin pagi, menghilang seperti mimpi yang buyar ketika mata terbuka. Cekungan batu tempat ia berbaring kembali muncul di hadapannya—dinding-dinding cadas yang sejak tadi menaunginya, janur yang sejak tadi menjadi keras di bawah tubuhnya, batu pipih yang sejak tadi menjadi bantalnya. Dan di samping cekungan itu—di tepi batu yang sejak tadi menjadi tempat Dewamatra berdiri—ia melihat sosok sang resi agung. Dewamatra.
Sang resi berdiri dengan punggung yang lurus seperti batang pinus tua, dengan tongkat kayu cemara hitam yang menancap di tanah di sampingnya, dengan jubah kuning keemasannya yang sejak tadi basah oleh embun upas—embun yang kini telah membuat kain tenun kasar itu tampak lebih gelap di beberapa bagian, lebih berat, lebih dingin. Matanya yang dalam—mata yang seolah dapat melihat hingga ke tulang terdalam, hingga ke benih cahaya yang baru saja tumbuh di pusat perut muridnya—menatap Kertabhumi dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Bukan kasihan. Bukan marah. Bukan kecewa. Melainkan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang oleh para resi gunung disebut wajah sang hyang—wajah yang tidak menunjukkan emosi, namun yang mengandung segala emosi, wajah yang hanya dapat dimiliki oleh mereka yang telah lama melewati segala penderitaan dan segala kemenangan.
Kertabhumi ingin bertanya. Ingin bertanya apa yang baru saja ia lihat. Ingin bertanya apakah mimpi itu nyata—nyata dalam arti bahwa ia sedang menyaksikan sesuatu yang sedang terjadi di Trowulan saat ini, atau nyata dalam arti bahwa ia sedang menyaksikan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Ingin bertanya apakah ayahandanya—ayahandanya yang sejak tadi ia bayangkan berdiri tegak di Bangsal Witana—masih hidup, masih selamat, masih menunggu kepulangannya di istana.
Namun Dewamatra tidak berbicara. Sang resi hanya berdiri, menatapnya dengan mata yang dalam, dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, dengan keheningan yang lebih keras daripada teriakan mana pun. Dan di dalam keheningan itu—di dalam keheningan yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai jawaban—ia merasakan sesuatu yang lebih berat dari segala pertanyaan yang ingin ia ajukan. Ia merasakan kebenaran. Kebenaran yang tidak dapat dibantah.
Kebenaran yang—meski ia belum siap untuk menerimanya, meski ia belum siap untuk menghadapinya—telah mulai mengkristal di dalam hatinya, seperti es yang mulai terbentuk di permukaan telaga ketika musim dingin tiba. Ayahandanya telah mati. Atau akan mati. Dan Suraprabhawa—paman yang sejak lama menunjukkan gelagat haus kuasa, paman yang sejak lama iri pada ayahandanya, paman yang sejak lama menunggu kesempatan untuk merebut apa yang bukan miliknya—adalah dalang di balik segala kehancuran itu.
Kertabhumi bangkit dari janur yang kini telah hancur oleh cengkeramannya sendiri. Janur yang sejak tadi menjadi keras oleh embun upas, yang sejak tadi menjadi kaku oleh dingin yang membekukan, kini telah pecah menjadi serpihan-serpihan kecil—serpihan yang oleh Kertabhumi tidak ia sadari telah ia remas dengan jari-jarinya yang sejak tadi gemetar oleh demam, oleh dingin, oleh dendam yang sejak tadi mulai mengkristal di dalam hatinya. Serpihan-serpihan itu jatuh ke tanah, bercampur dengan lumut tua yang sejak tadi menjadi alas cekungan batu itu, dan Kertabhumi—yang kini telah duduk dengan punggung yang tegak, dengan kepala yang tegak, dengan mata yang sejak tadi lebar oleh sesuatu yang bukan ketakutan melainkan oleh keteguhan—menatap serpihan-serpihan itu dengan tatapan yang berbeda dari tatapan-tatapan sebelumnya. Tatapan yang lebih dalam. Tatapan yang lebih jernih. Tatapan yang lebih kokoh.
Tatapan seseorang yang telah melewati sesuatu yang besar—sesuatu yang melampaui kata-kata, sesuatu yang melampaui pikiran, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh logika. Tatapan seseorang yang telah menyaksikan kehancuran yang tidak dapat ia cegah, yang telah merasakan kehilangan yang tidak dapat ia ganti, yang telah memahami kebenaran yang tidak dapat ia bantah. Dan di dalam tatapan itu—di dalam tatapan yang oleh Dewamatra langsung dikenali sebagai tatapan seseorang yang telah melewati ambang yang tidak semua manusia mampu lewati—terdapat sesuatu yang baru. Sesuatu yang sejak tadi belum ada. Dendam.
Dendam yang bukan dendam biasa—dendam yang bukan berasal dari amarah sesaat, yang bukan berasal dari keinginan untuk membalas sakit yang baru saja dirasakan. Dendam yang berasal dari kedalaman batin—dari tempat di mana segala kasih pada ayahandanya, segala hormat pada ibunya, segala cinta pada Majapahit telah bersemayam sejak ia pertama kali membuka mata di dunia ini. Dendam yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai sesuatu yang bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk membentuknya—membentuknya menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih kokoh, lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Ia menelan ludah. Rasanya pahit.
Pahit seperti empedu yang sejak tadi menggenang di tenggorokannya, pahit seperti racun yang sejak tadi merambat di dalam darahnya, pahit seperti kebenaran yang sejak tadi ingin ia bantah namun yang tidak dapat ia bantah. "Sang Resi…" bisiknya, suaranya serak—serak seperti suara seseorang yang telah melewati malam yang panjang tanpa seteguk air, namun serak itu kini mengandung keteguhan yang sebelumnya tidak ada. "Apa yang baru saja saya lihat… apakah itu…?" Ia tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak tahu kata apa yang dapat menggambarkan apa yang baru saja ia saksikan—mimpi Trowulan yang terbakar, mimpi ibunya yang berdiri di tengah kobaran api, mimpi ayahandanya yang ditusuk dari belakang oleh Bharingan di Bangsal Witana. Ia hanya tahu bahwa ia telah melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya—sesuatu yang telah lama menunggunya, sesuatu yang telah lama memanggilnya, sesuatu yang kini telah menerimanya sebagai bagian dari dirinya.
Dewamatra tidak langsung menjawab. Sang resi hanya berdiri, menatap Kertabhumi dengan mata yang dalam, dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, dengan keheningan yang lebih keras daripada teriakan mana pun. Dan di dalam keheningan itu—di dalam keheningan yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai jawaban—ia merasakan sesuatu yang lebih berat dari segala pertanyaan yang ingin ia ajukan. Kemudian—kemudian Dewamatra mengangkat tongkatnya. Mengangkat dengan gerakan yang lambat, yang penuh hormat, seolah-olah tongkat itu bukan sekadar kayu, melainkan perpanjangan dari tangannya sendiri, perpanjangan dari napasnya sendiri, perpanjangan dari napas Semeru yang mengalir melaluinya. Ujung tongkat itu menyentuh tanah—menyentuh dengan kelembutan yang membuat lumut keemasan di sekelilingnya tidak ikut bergerak. Krek.
Suara itu tidak keras. Namun getarannya merambat melalui batu, melalui akar-akar pohon, melalui tanah lembap—merambat dengan cara yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang telah belajar mendengar bahasa bumi. Getaran itu menuju Kertabhumi, masuk melalui telapak kakinya yang masih menapak di atas lumut, naik ke tulang betisnya, ke pinggangnya, ke dadanya, hingga ke pusat perutnya. Di sana, getaran itu bertemu dengan denyut wiji daya-nya—dan untuk sesaat, keduanya berdenyut bersama, seperti dua jantung yang sedang belajar menyatu. Lalu Dewamatra berbicara. "Kau telah melihat," ujarnya pelan, suaranya rendah namun khidmat. "Kau telah menyaksikan apa yang sedang terjadi—atau apa yang akan terjadi—di Trowulan. Dan kau telah merasakan dendam yang sejak tadi mulai mengkristal di dalam hatimu." Ia berhenti sejenak.
Matanya menatap Kertabhumi dengan tatapan yang tajam—tatapan yang seolah dapat melihat hingga ke tulang terdalam, hingga ke benih cahaya yang baru saja tumbuh di pusat perut muridnya. "Namun ketahuilah, Kertabhumi," lanjutnya, suaranya kini lebih rendah, lebih khidmat. "Dendam itu—dendam yang sejak tadi mulai mengkristal di dalam hatimu—adalah pedang bermata dua. Ia dapat membentukmu menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih kokoh, lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Namun ia juga dapat menghancurkanmu—jika kau biarkan ia menguasaimu, jika kau biarkan ia membutakanmu, jika kau biarkan ia mengubahmu menjadi seseorang yang tidak berbeda dari Suraprabhawa."
Kertabhumi menelan ludah. Rasa pahit di tenggorokannya belum hilang—namun kini, di tengah rasa pahit itu, ia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam, lebih kokoh, lebih tahan lama. Sesuatu yang oleh Dewamatra disebut sebagai keteguhan—keteguhan yang bukan berasal dari amarah, melainkan dari kesadaran. Kesadaran bahwa apa yang baru saja ia saksikan—apa yang baru saja ia rasakan—adalah sesuatu yang tidak dapat ia ubah, sesuatu yang tidak dapat ia batalkan, sesuatu yang harus ia hadapi dengan kepala tegak, dengan napas teratur, dengan batin yang kokoh. "Saya mengerti, Sang Resi," bisiknya pelan. "Namun… bagaimana saya bisa menghadapi Suraprabhawa—seseorang yang telah berani mengkhianati darah sendiri—jika saya tidak memiliki dendam di dalam hati saya?" Dewamatra tersenyum tipis.
Senyum yang kali ini berbeda dari senyum-senyum sebelumnya—senyum yang mengandung pengajaran, senyum yang mengandung kesabaran, senyum yang hanya datang ketika seorang guru tahu bahwa muridnya telah mulai memahami—namun yang juga tahu bahwa pemahaman itu masih baru, masih rapuh, masih perlu ditempa oleh waktu dan oleh ujian. "Dendam dan keteguhan adalah dua hal yang berbeda, Kertabhumi," ujarnya pelan. "Dendam adalah api yang membakar—api yang dapat menerangi jalanmu, namun yang juga dapat membakar dirimu sendiri jika kau tidak mengendalikannya. Keteguhan adalah batu yang kokoh—batu yang dapat menopangmu di tengah badai, namun yang juga dapat menimpamu jika kau tidak tahu cara menggunakannya." Ia berhenti sejenak.
Matanya menatap Kertabhumi dengan tatapan yang dalam—tatapan yang seolah dapat melihat hingga ke masa depan, hingga ke takdir yang telah ditulis untuk muridnya. "Tugasmu," lanjutnya, "bukan untuk memadamkan dendammu. Tugasmu adalah untuk mengubahnya menjadi keteguhan—keteguhan yang akan menopangmu di tengah badai yang akan datang, keteguhan yang akan membuatmu tetap berdiri ketika seluruh dunia mencoba meruntuhkanmu, keteguhan yang akan membuatmu menjadi raja yang lebih besar dari ayahmu." Kertabhumi mendengarkan dalam diam.
Setiap kata Dewamatra terasa seperti batu yang diletakkan satu per satu di atas dadanya—batu yang tidak menekan, melainkan membangun. Membangun sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya, namun yang ia rasakan benar di dalam batinnya. Membangun fondasi yang akan menopangnya dalam perjalanan yang masih panjang—perjalanan menuju singgasana Majapahit, perjalanan menuju takdir yang telah ditulis untuknya oleh semesta. "Dan untuk itu," lanjut Dewamatra, "kau harus belajar bernapas dengan cara yang baru. Cara yang akan membuatmu tetap kokoh di tengah badai, cara yang akan membuatmu tetap tenang di tengah ketakutan, cara yang akan membuatmu tetap hidup di tengah segala ujian yang akan datang." Ia menunjuk ke arah ufuk timur—ke arah di mana fajar akan segera muncul, ke arah di mana matahari akan segera menyingkapkan wajahnya, ke arah di mana hari baru akan segera dimulai. "Tidurlah sebentar," ujarnya pelan. "Karena ketika fajar tiba, pelajaranmu yang sesungguhnya akan dimulai."
Kertabhumi tidak tidur. Ia hanya berbaring—berbaring di atas lumut tua yang kini telah menjadi alasnya, di atas batu pipih yang kini telah menjadi bantalnya, di dalam cekungan cadas yang kini telah menjadi tempat perlindungannya dari embun upas yang masih turun tanpa henti. Ia memejamkan matanya—memejamkan bukan untuk tidur, melainkan untuk menyaksikan kembali apa yang baru saja ia lihat, untuk merasakan kembali apa yang baru saja ia rasakan, untuk memahami kembali apa yang baru saja ia pahami.
Dan di dalam keheningan itu—di dalam keheningan yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai keheningan yang hidup, keheningan yang bernapas, keheningan yang memiliki kesadarannya sendiri—ia merasakan sesuatu yang baru. Ia merasakan dendam itu—dendam yang sejak tadi mulai mengkristal di dalam hatinya—mulai berubah. Berubah bukan menjadi sesuatu yang lebih lemah. Berubah bukan menjadi sesuatu yang lebih mudah ditanggung. Melainkan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih kokoh, lebih tahan lama. Sesuatu yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai keteguhan—keteguhan yang bukan berasal dari amarah, melainkan dari kesadaran. Kesadaran bahwa apa yang baru saja ia saksikan—apa yang baru saja ia rasakan—adalah sesuatu yang tidak dapat ia ubah, sesuatu yang tidak dapat ia batalkan, sesuatu yang harus ia hadapi dengan kepala tegak, dengan napas teratur, dengan batin yang kokoh.
Dan di tengah keteguhan itu—di tengah keteguhan yang sejak tadi mulai tumbuh di dalam hatinya—ia merasakan sesuatu yang lain. Ia merasakan wiji daya-nya—bara kecil di pusat perutnya—berdenyut lebih kuat. Berdenyut bukan dengan irama yang tidak teratur seperti sejak tadi malam. Berdenyut dengan irama yang stabil, yang kuat, yang hidup. Bara yang seolah-olah telah menjadi bagian dari dirinya—bukan lagi benda asing yang harus dijaga, melainkan jantung kedua yang telah tumbuh di dalam raganya, yang akan menemaninya dalam setiap langkah yang akan ia ambil mulai hari ini. Dan di saat yang sama—di saat bara kecil itu berdenyut dengan irama yang stabil—ia merasakan sesuatu yang lebih dalam lagi.
Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Bukan Dewamatra yang ia rasakan—meskipun ia tahu sang resi agung itu pasti sedang mengawasinya dari suatu tempat di luar cekungan. Bukan Resi Wangsadipa, yang telah lama pergi ke tempat yang tidak ia ketahui. Bukan ayahnya—ayah yang kini telah tiada, yang kini telah menjadi kenangan, yang kini telah menjadi dendam yang mengkristal di dalam hatinya. Bukan ibunya—ibu yang kini sedang menunggunya di keputren, yang kini sedang cemas menunggunya di balik tirai sutra. Yang ia rasakan adalah kehadiran yang lebih tua, lebih dalam, lebih purba. Kehadiran Semeru. Gunung itu sedang menjaganya. Gunung itu sedang bernapas bersamanya. Gunung itu sedang menyanyikan nyanyian purba yang hanya dapat didengar oleh mereka yang telah belajar mendengar dengan batin, bukan dengan telinga. Dan Kertabhumi—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—mendengarnya dengan jelas.
Di luar cekungan, Dewamatra berdiri di atas batu besar. Batu itu terletak di punggung bukit kecil yang menghadap ke lembah tempat Kertabhumi berbaring—bukit yang cukup tinggi untuk memungkinkan sang resi melihat seluruh lembah dengan jelas, namun cukup tersembunyi oleh pepohonan pinus tua agar tidak terlihat oleh mata biasa. Jubah kuning keemasannya berkibar pelan dalam angin malam—angin yang di puncak bukit ini bertiup lebih kencang daripada di lembah, yang membawa serta aroma tanah basah dan wangi pinus yang tajam. Dewamatra tidak bergerak.
Ia berdiri dengan kaki yang dibuka selebar bahu, dengan punggung yang lurus seperti batang pinus tua, dengan tangan kirinya yang memegang tongkat kayu cemara hitam—tongkat yang telah menemaninya selama puluhan tahun, tongkat yang konon terbuat dari dahan pohon yang tumbuh di atas makam seorang resi agung dari zaman Singhasari. Tangan kanannya diletakkan di dadanya, tepat di atas jantungnya, dalam gestur yang oleh para brahmana gunung disebut anjalirasa—gestur yang berarti "merasakan dengan hati".
Matanya yang dalam menatap ke arah pondokan cadas tempat muridnya berbaring. Ia tidak dapat melihat Kertabhumi dari jarak ini—kegelapan malam terlalu pekat, jarak terlalu jauh, dan cekungan batu itu terlalu dalam. Namun ia tidak perlu melihat. Ia dapat merasakan. Ia dapat merasakan denyut wiji daya yang baru saja lahir di pusat perut Kertabhumi—denyut yang lemah, yang tidak teratur, yang seperti detak jantung burung yang baru menetas, namun yang terus berdetak, yang terus berjuang, yang terus menolak untuk padam meski badai melandanya.
Dan ia dapat merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru. Sesuatu yang sejak tadi malam belum ada. Dendam. Dendam yang oleh Dewamatra langsung dikenali sebagai dendam yang bukan berasal dari amarah sesaat, melainkan dari kedalaman batin—dari tempat di mana segala kasih pada ayah, segala hormat pada ibu, segala cinta pada Majapahit telah bersemayam sejak Kertabhumi pertama kali membuka mata di dunia ini. Dendam yang oleh Dewamatra langsung dipahami sebagai sesuatu yang bukan untuk menghancurkan muridnya, melainkan untuk membentuknya—membentuknya menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih kokoh, lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Dan Dewamatra—yang telah melatih puluhan murid selama hidupnya, yang telah melihat ratusan pemuda datang ke lereng Semeru dengan mata yang berkilau oleh ambisi, dengan dada yang membusung oleh kebanggaan, dengan langkah yang mantap oleh keyakinan bahwa mereka ditakdirkan untuk menjadi besar—tahu bahwa dendam seperti itu adalah pedang bermata dua.
Ia dapat membentuk Kertabhumi menjadi raja yang besar. Namun ia juga dapat menghancurkannya—jika Dewamatra tidak berhasil mengajarkannya cara mengubah dendam itu menjadi keteguhan, cara mengendalikan api itu agar tidak membakar dirinya sendiri, cara menggunakan batu itu agar tidak menimpa dirinya sendiri. Dan Dewamatra—yang sejak tadi malam telah memutuskan untuk menerima Kertabhumi sebagai muridnya—telah memutuskan untuk mencoba. Ia mengangkat tongkatnya. Dengan gerakan yang lambat, yang penuh hormat, ia mengetukkannya sekali ke tanah. Bruk.
Suara itu tidak keras. Namun getarannya merambat melalui batu, melalui akar-akar pohon, melalui tanah lembap—merambat dengan cara yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang telah belajar mendengar bahasa bumi. Getaran itu menuju cekungan tempat Kertabhumi berbaring—bukan untuk membantu, bukan untuk meringankan rasa sakit, bukan untuk memberikan kehangatan. Getaran itu hanya untuk memberitahu: Semeru masih menjagamu. Namun kau harus menjaga dirimu sendiri. Kertabhumi pasti merasakannya. Dewamatra tahu itu.
Ia tahu bahwa di dalam cekungan batu itu, tubuh muridnya akan bergetar sebentar—bukan karena dingin, bukan karena demam, melainkan karena getaran bumi yang sedang berkata: "Aku di sini. Kau tidak sendirian. Namun kau harus tetap berjuang." Dan Dewamatra tahu bahwa Kertabhumi—dengan cara yang misterius, dengan cara yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memiliki darah raja dan darah bumi di dalam tubuhnya—akan mengerti pesan itu.
Ia mengangkat wajahnya, menatap langit. Bintang-bintang berkelip di atasnya—bintang-bintang yang telah menyaksikan ribuan malam seperti malam ini, bintang-bintang yang telah menyaksikan ribuan pemuda datang ke lereng Semeru untuk ditempa, untuk diuji, untuk diubah menjadi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Beberapa dari pemuda itu menjadi raja. Beberapa menjadi resi. Beberapa menjadi legenda. Namun lebih banyak lagi yang gagal, yang pulang dengan tangan hampa, yang kembali ke istana sebagai pangeran yang sama dengan ketika mereka datang—pangeran yang memiliki gelar namun tidak memiliki jiwa, yang memiliki kekuasaan namun tidak memiliki kebijaksanaan. Dewamatra tidak tahu ke mana Kertabhumi akan pergi setelah malam ini.
Ia tidak tahu apakah pemuda itu akan menjadi raja yang besar, atau resi yang bijaksana, atau legenda yang akan diceritakan oleh anak-cucu selama ratusan tahun. Yang ia tahu hanyalah: Kertabhumi memiliki sesuatu yang jarang dimiliki oleh para pemuda yang datang ke lereng Semeru. Ia memiliki wiji daya yang bukan hanya lahir dari latihan, melainkan dari darah—darah raja yang telah bercampur dengan darah bumi selama ratusan tahun, sejak zaman Singhasari, sejak zaman Kediri, sejak zaman sebelum Jawa dikenal oleh dunia.
Dan wiji daya seperti itu—wiji daya yang lahir dari darah—adalah benih yang langka, yang harus dijaga dengan hati-hati, yang harus ditempa dengan sabar, yang tidak boleh dipaksakan untuk tumbuh lebih cepat dari waktunya. Malam terus berjalan. Dewamatra tetap berdiri di atas batu. Ia tidak duduk. Ia tidak beristirahat. Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri, seperti penjaga tua yang telah menunggu ribuan malam untuk melihat cahaya kecil dinyalakan kembali di lembah yang telah lama gelap. Jubahnya berkibar pelan dalam angin. Tongkatnya menancap di tanah. Matanya tidak pernah meninggalkan arah cekungan batu tempat Kertabhumi berbaring.
Dan jauh di puncak Semeru, bulan naik perlahan—bulan sabit yang tipis, yang cahayanya lembut, yang membuat pepohonan pinus tampak seperti siluet-siluet raksasa yang sedang berlutut menyembah sesuatu yang belum terlihat. Cahaya bulan itu menyentuh wajah Dewamatra, membuat kerutan-kerutan di wajahnya tampak lebih dalam, lebih tua, lebih bijaksana. Ia tampak seperti patung yang dipahat oleh tangan-tangan leluhur—patung yang telah berdiri di lereng Semeru selama ratusan tahun, yang akan tetap berdiri meski badai melanda, meski zaman berganti, meski dunia berubah.
Malam terus berjalan. Dan di dalam cekungan cadas itu, seorang pangeran muda belajar bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari kemenangan—melainkan dari kesediaan untuk bertahan ketika seluruh tubuh berteriak ingin menyerah. Dan di atas bukit, seorang resi agung belajar—sekali lagi—bahwa murid yang sejati tidak datang ketika ia dipanggil. Murid yang sejati datang ketika semesta mengirimnya.
Menjelang fajar, ketika langit di ufuk timur mulai berubah warna dari hitam menjadi kelabu tua, Dewamatra akhirnya bergerak. Ia menurunkan tongkatnya dari tanah—tongkat yang telah menancap di batu selama berjam-jam, yang kini meninggalkan jejak kecil yang dalam. Ia mengangkat tangannya dari dadanya, menggerakkan jari-jarinya yang kaku oleh dingin malam. Ia menghela napas panjang—napas yang keluar dari mulutnya sebagai uap putih yang tipis, yang langsung menghilang dalam angin pagi.
Lalu ia turun dari batu. Langkahnya pelan, namun mantap. Jubahnya yang basah oleh embun—embun yang telah turun sejak tengah malam, yang telah membasahi seluruh tubuhnya tanpa ia sadari—berkibar pelan di belakangnya. Ia berjalan menuruni bukit, melewati pepohonan pinus tua, melewati batu-batu besar yang tertutup lumut, melewati akar-akar yang menjulur seperti tangan-tangan tua yang sedang meminta-minta. Dan ketika ia tiba di tepi cekungan tempat Kertabhumi berbaring, ia berhenti. Ia menatap muridnya.
Kertabhumi masih berbaring dalam posisi yang sama—namun wajahnya telah berubah. Wajah yang sejak tadi tegang oleh rasa sakit, kini telah rileks. Wajah yang sejak tadi pucat oleh demam, kini telah sedikit merona. Wajah yang sejak tadi tampak seperti wajah orang yang sedang sekarat, kini tampak seperti wajah orang yang sedang tidur nyenyak—tidur yang damai, tidur yang dalam, tidur yang hanya dapat dicapai oleh mereka yang telah berdamai dengan diri mereka sendiri.
Namun Dewamatra tahu bahwa Kertabhumi tidak tidur. Ia tahu bahwa mata muridnya—yang masih terpejam—sedang bergerak di balik kelopak. Ia tahu bahwa napasnya—yang kini teratur dan dalam—adalah napas seseorang yang sedang terjaga, bukan tidur. Ia tahu bahwa bara kecil di pusat perut Kertabhumi—yang dapat ia rasakan denyutnya dari jarak beberapa langkah—kini berdenyut dengan irama yang stabil, yang kuat, yang tidak lagi seperti detak jantung burung yang baru menetas, melainkan seperti detak jantung pemuda yang sedang belajar menjadi manusia yang utuh.
Dan Dewamatra—yang sejak tadi malam telah memutuskan untuk menerima Kertabhumi sebagai muridnya—merasakan sesuatu yang baru. Ia merasakan bahwa muridnya—murid yang sejak tadi malam telah ia tempa dengan ujian batin, dengan tapa raga, dengan embun upas, dengan pengelihatan atau mimpi Trowulan yang terbakar—kini telah melewati ambang yang tidak semua murid dapat lewati. Ambang antara manusia yang mendengar dengan telinga, dan manusia yang mendengar dengan batin. Ambang antara manusia yang bernapas sendirian, dan manusia yang bernapas bersama semesta. Ambang antara manusia yang masih terikat pada dunia yang terlihat, dan manusia yang telah mulai menyentuh dunia yang tak terlihat.
Dan ia tahu—perjalanan Kertabhumi baru saja memasuki babak yang lebih dalam. Babak yang akan membawanya lebih jauh, lebih dalam, lebih tinggi menuju takdir yang telah ditulis untuknya oleh semesta. Babak yang akan mengujinya bukan hanya sebagai pangeran, bukan hanya sebagai pewaris Majapahit, melainkan sebagai manusia yang telah belajar mendengar napas bumi—manusia yang suatu hari akan memimpin bukan hanya dengan kekuasaan, melainkan dengan kebijaksanaan yang datang dari kesatuan dengan semesta. "Kau telah melewati malam pertama," bisik Dewamatra pelan, suaranya nyaris tak terdengar oleh angin pagi. "Dan kau tidak akan bangun sebagai orang yang sama." Ia mengangkat tongkatnya.
Namun kali ini ia tidak mengetukkannya ke tanah. Ia hanya meletakkannya di samping tubuh Kertabhumi—meletakkannya dengan hati-hati, dengan hormat, seolah-olah tongkat itu adalah persembahan yang ia berikan kepada muridnya yang baru saja melewati ujian pertama. Tongkat itu terbuat dari kayu cemara hitam—kayu yang keras, yang tahan lama, yang konon memiliki kekuatan untuk menolak segala pengaruh jahat. Dan ketika tongkat itu diletakkan di samping tubuh Kertabhumi, bara kecil di pusat perut muridnya—wiji daya-nya—berdenyut sekali dengan kuat, seolah-olah sedang menyapa tongkat itu, seolah-olah sedang mengenalinya sebagai teman lama.
Dewamatra mengangguk puas. Lalu ia berbalik, berjalan perlahan menjauhi cekungan, menghilang di balik pepohonan pinus seperti bayangan yang memilih untuk pulang. Ia akan kembali saat fajar. Ia akan kembali ketika matahari pertama kali menyentuh pucuk-pucuk pinus. Ia akan kembali untuk memulai pelajaran kedua—pelajaran yang akan membawa Kertabhumi melangkah lebih jauh, lebih dalam, lebih tinggi menuju takdir yang telah ditulis untuknya oleh semesta. Namun untuk saat ini, ia membiarkan muridnya sendirian. Ia membiarkan Kertabhumi menikmati kemenangan pertamanya—kemenangan atas tubuhnya sendiri, atas rasa sakitnya sendiri, atas keinginannya untuk menyerah. Karena Dewamatra tahu bahwa kemenangan seperti itu—kemenangan yang sunyi, yang tidak dilihat oleh siapa pun, yang tidak dirayakan oleh siapa pun—adalah kemenangan yang paling berharga. Kemenangan yang akan menjadi fondasi bagi segala kemenangan berikutnya.
Dan di dalam cekungan batu itu, Kertabhumi—yang masih memejamkan mata, yang masih berbaring di atas lumut tua yang kini telah menjadi alasnya, yang masih menjaga bara kecil di pusat perutnya—merasakan sesuatu yang baru. Ia merasakan kedamaian. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan di istana. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan di hutan. Kedamaian yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah berdamai dengan diri mereka sendiri—yang telah menerima segala pecahan jiwa mereka, yang telah menyatukan segala ketakutan mereka, yang telah berhenti berlari dari bayangan mereka sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kertabhumi merasa utuh. Ia merasa utuh bukan karena ia telah menjadi manusia yang sempurna—ia tahu, ia masih jauh dari sempurna. Ia masih memiliki ketakutan. Ia masih memiliki keraguan. Ia masih memiliki kelemahan. Namun ia merasa utuh karena ia telah belajar menerima segala itu—menerimanya bukan sebagai musuh yang harus dikalahkan, melainkan sebagai bagian dari dirinya yang harus dihargai. Ia merasa utuh karena ia telah belajar bahwa kekuatan sejati bukan datang dari kemampuan untuk mengendalikan segalanya—melainkan dari kemampuan untuk melepaskan. Melepaskan napasnya ke pusar. Melepaskan dirinya ke bumi. Melepaskan jiwanya ke semesta.
Dan ia merasa utuh karena ia telah belajar bahwa ia tidak sendirian. Ia tidak sendirian karena Semeru sedang menjaganya. Ia tidak sendirian karena wiji daya-nya—bara kecil di pusat perutnya—sedang menemaninya, sedang menjaganya, sedang berkata kepadanya: "Aku di sini. Aku akan menjagamu. Kau tidak sendirian."
Dan di luar cekungan, ketika fajar mulai menyingkapkan wajahnya di ufuk timur, Dewamatra—yang telah berjalan menjauhi lembah, yang telah menghilang di balik pepohonan pinus—berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang. Menatap ke arah cekungan batu tempat Kertabhumi berbaring—cekit yang sejak tadi malam telah menjadi tempat perlindungannya, yang sejak tadi malam telah menjadi tempat ia ditempa, yang sejak tadi malam telah menjadi tempat ia belajar menjadi manusia yang utuh untuk pertama kalinya.
Dan Dewamatra—yang sejak tadi malam telah memutuskan untuk menerima Kertabhumi sebagai muridnya—merasakan sesuatu yang baru. Ia merasakan bahwa perjalanan Kertabhumi—perjalanan yang sejak tadi malam telah memasuki babak yang lebih dalam—kini telah melewati ambang yang tidak semua manusia mampu lewati. Ambang antara manusia yang mendengar dengan telinga, dan manusia yang mendengar dengan batin. Ambang antara manusia yang bernapas sendirian, dan manusia yang bernapas bersama semesta.
Dan ia tahu—perjalanan Kertabhumi baru saja memasuki babak yang lebih dalam lagi. Babak yang akan membawanya lebih jauh, lebih dalam, lebih tinggi menuju takdir yang telah ditulis untuknya oleh semesta. Babak yang akan mengujinya bukan hanya sebagai pangeran, bukan hanya sebagai pewaris Majapahit, melainkan sebagai manusia yang telah belajar mendengar napas bumi—manusia yang suatu hari akan memimpin bukan hanya dengan kekuasaan, melainkan dengan kebijaksanaan yang datang dari kesatuan dengan semesta.
"Kau telah melewati malam pertama, Bhre Kertabhumi," bisik Dewamatra pelan, suaranya nyaris tak terdengar oleh angin pagi. "Namun perjalananmu masih panjang. Masih sangat panjang." Ia mengangkat wajahnya, menatap ufuk timur—ufuk di mana fajar akan segera muncul, ufuk di mana matahari akan segera menyingkapkan wajahnya, ufuk di mana hari baru akan segera dimulai. Dan di saat yang sama—di saat fajar mulai menyingkapkan wajahnya di ufuk timur—Dewamatra merasakan sesuatu yang lain. Ia merasakan bahwa Semeru—gunung yang sejak tadi malam telah menjadi saksi segala penderitaan dan segala kemenangan Kertabhumi—kini sedang bersiap untuk memberikan pelajaran berikutnya. Pelajaran yang akan membawa Kertabhumi melangkah lebih jauh, lebih dalam, lebih tinggi menuju takdir yang telah ditulis untuknya oleh semesta. Dan Dewamatra—yang sejak tadi malam telah memutuskan untuk menerima Kertabhumi sebagai muridnya—siap untuk mengiringinya. Siap untuk mengujinya. Siap untuk menempa-nya. Siap untuk menjadikannya seseorang yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Fajar datang. Dan dengan fajar itu—dengan fajar yang menyingkapkan wajahnya di ufuk timur, dengan fajar yang membawa serta cahaya keemasan yang lembut, dengan fajar yang membuat pepohonan pinus tampak seperti siluet-siluet raksasa yang sedang berlutut menyembah sesuatu yang belum terlihat—perjalanan Bhre Kertabhumi memasuki babak yang baru. Babak yang akan membawanya lebih jauh, lebih dalam, lebih tinggi menuju takdir yang telah ditulis untuknya oleh semesta. Babak yang akan mengujinya bukan hanya sebagai pangeran, bukan hanya sebagai pewaris Majapahit, melainkan sebagai manusia yang telah belajar mendengar napas bumi. Dan Semeru—saksi abadi—mengiringi setiap langkah itu dengan napasnya yang purba.
BAGIAN 2 — Fajar Keemasan dan Raga yang Terlahir Kembali
Fajar di lereng barat Semeru tidak datang dengan gegap gempita sebagaimana fajar menyapa dataran rendah Trowulan. Di ibu kota, fajar adalah upacara yang tertib—genta perunggu ditabuh tiga kali dari sanggar pamujan utama, lampu-lampu minyak kelapa ditiup oleh para abdi dalem yang bergerak dengan langkah terukur, dan aroma dupa cendana mulai naik dari paviliun-paviliun pemujaan sebagai tanda bahwa dunia akan segera terbangun. Di sana, fajar adalah waktu yang diatur oleh irama gamelan dan kebiasaan turun-temurun, yang datang dengan wajah yang dapat diduga oleh setiap jiwa yang tinggal di balik tembok bata merah ibu kota.
Namun di lereng barat Semeru, fajar adalah makhluk lain sama sekali. Ia datang bukan sebagai cahaya yang menyapu langit dengan tergesa, melainkan sebagai bisikan yang perlahan-lahan mengubah warna kegelapan. Langit di ufuk timur yang sejak tadi malam hitam pekat, perlahan-lahan mulai memudar menjadi kelabu tua, seperti kain mori yang dicuci berulang kali hingga warna aslinya mulai memudar. Lalu kelabu itu berubah menjadi ungu pucat, warna yang hanya dapat dilihat oleh mereka yang telah lama menatap langit dari dasar lembah—warna yang oleh para pertapa gunung disebut warna sang sandikala, warna peralihan antara malam yang enggan pergi dan pagi yang belum sepenuhnya tiba.
Dan kemudian, barulah pecah semburat keemasan. Semburat itu tidak muncul sekaligus, melainkan menetes perlahan di antara celah-celah dahan pinus tua, seperti madu yang mengalir dari ujung sendok kayu. Cahaya itu tidak jatuh ke tanah dengan terburu-buru. Ia merayap turun seperti tirai sutra yang ditarik perlahan oleh tangan-tangan tak kasat mata, menyapu kabut tebal yang masih memeluk lembah, mengubah butiran embun yang menempel di ujung dedaunan menjadi permata-permata kecil yang memantulkan cahaya pagi dengan kelembutan yang menenangkan. Di dalam cekungan cadas tempat Bhre Kertabhumi menghabiskan malam yang penuh siksaan, cahaya keemasan itu akhirnya menyentuh ujung kakinya.
Cahaya itu datang dengan kelembutan yang luar biasa. Ia tidak menyilaukan, tidak memanaskan, melainkan menyapa kulit Kertabhumi seperti sentuhan tangan ibu yang mengelus dahi anaknya yang sedang demam. Cahaya itu merambat perlahan dari ujung kakinya, naik ke betis, ke paha, ke pinggang, hingga akhirnya menyentuh wajahnya yang sejak tadi malam dibasahi oleh keringat dingin dan air mata yang telah mengering.
Kertabhumi membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, bukan oleh kantuk, melainkan oleh sisa-sisa air mata yang telah mengering di sudut matanya semalam—air mata yang ia tumpahkan ketika menyaksikan visi Trowulan yang terbakar, ketika menyaksikan ayahandanya, Prabu Rajasawardhana, roboh di Bangsal Witana oleh tusukan keris berteluk lima milik Bharingan. Bayangan pengkhianatan itu masih membekas di dalam batinnya, mengguratkan dendam yang kini telah mengkristal menjadi keteguhan. Namun ketika ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara pagi yang dingin dan lembap, ia menyadari sesuatu yang ganjil.
Rasa sakit itu telah hilang. Semalam, tubuhnya adalah medan perang antara panasnya demam dan dinginnya embun upas yang membekukan tulang. Semalam, setiap sendinya menjerit, setiap urat nadinya terasa seperti dialiri bara api yang bercampur dengan es dari puncak gunung. Semalam, ia menggigil hebat, giginya beradu satu sama lain menghasilkan bunyi tak-tak-tak yang gema-nya memantul di dinding-dinding cadas cekungan itu. Semalam, keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi janur yang sejak tadi telah menjadi keras di bawah kepalanya.
Namun kini, ketika ia mencoba menggerakkan jari-jemarinya, jari-jari itu merespons dengan keluwesan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengepalkan tangannya perlahan, merasakan otot-otot di lengannya mengencang. Tidak ada rasa kaku. Tidak ada gemetar. Tidak ada rasa sakit yang menusuk dari sendi ke sendi. Kulitnya yang semalam pucat dan berkeringat dingin, kini tampak bersih, merona tipis oleh aliran darah yang mengalir lancar di bawahnya. Ia bangkit dari alas tidurnya.
Janur kuning yang semalam menjadi keras dan hancur oleh cengkeramannya, kini hanya tersisa sebagai serpihan-serpihan kering yang berserakan di atas lumut tua. Kertabhumi menatap serpihan-serpihan itu sejenak—serpihan yang olehnya langsung dikenali sebagai saksi bisu dari pertarungan yang telah ia lalui semalam. Setiap helai janur yang hancur itu menyimpan ingatan: ingatan tentang dingin yang menusuk tulang, ingatan tentang panas yang membakar dada, ingatan tentang bara kecil di pusat perutnya yang nyaris padam, ingatan tentang keteguhan yang membuatnya bertahan ketika seluruh tubuhnya berteriak ingin menyerah.
Ia menatap kedua telapak tangannya. Telapak tangan yang sejak kecil telah memegang keris, yang telah memanah, yang telah membaca jejak di tanah, yang telah menyentuh batang-batang pohon di rimba Semeru. Telapak tangan yang semalam telah meremas janur hingga hancur, yang telah mencengkeram batu pipih hingga kukunya memutih, yang telah memegang tongkat kayu cemara hitam milik Dewamatra ketika sang resi meletakkannya di samping tubuhnya sebagai tanda pengakuan. Kini telapak tangan itu terasa berbeda. Bukan sekadar pulih dari kelelahan, melainkan seolah-olah telah dibongkar dan disusun kembali oleh tangan-tangan alam semalam. Ia merasakan denyut halus di pusat perutnya—di titik Tunggal Pancer yang kemarin ia temukan. Wiji daya, benih daya merah keemasan yang lahir dari darah raja dan darah bumi itu, kini tidak lagi berdenyut lemah seperti burung yang terjebak di dalam gua. Ia berdenyut dengan irama yang stabil, dalam, dan hangat, seperti detak jantung kedua yang menopang seluruh raganya.
Setiap kali benih itu berdenyut, Kertabhumi merasakan gelombang kehangatan yang menjalar ke dada, ke lengan, hingga ke ujung-ujung jarinya, mengusir sisa-sisa dingin malam yang masih mencoba menempel di kulitnya. Kehangatan itu bukan kehangatan yang membakar, melainkan kehangatan yang menenangkan—kehangatan yang oleh para pertapa gunung disebut hangatnya sang hyang, kehangatan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah berhasil menyatukan jiwanya dengan raganya.
Ia menutup matanya sejenak, memusatkan cipta ke dalam dirinya sendiri. Ada ingatan baru yang tertinggal di dalam otot-ototnya. Ingatan yang tidak tersimpan di dalam akal budi, melainkan di dalam daging dan tulang. Tubuhnya mengingat bagaimana rasanya bertahan di ambang kematian. Tubuhnya mengingat bagaimana rasanya melepaskan kendali dan membiarkan alam mengambil alih. Tubuhnya mengingat getaran tongkat kayu cemara hitam milik Dewamatra yang merambat melalui tanah, memberitahunya bahwa ia tidak sendirian. Ingatan raga ini membuatnya merasa lebih berat, seolah kakinya kini menapak tanah dengan bobot yang lebih kokoh, namun di saat yang sama, ia merasa lebih ringan, seolah angin dapat mengangkatnya kapan saja ia menghendaki. Dua rasa yang bertolak belakang itu—berat dan ringan, kokoh dan luwes—kini hidup berdampingan di dalam dirinya, seperti dua sungai yang mengalir menuju laut yang sama.
Kertabhumi membuka matanya kembali, menatap keluar dari cekungan cadas. Hutan di hadapannya tampak sama, namun matanya kini melihat dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar melihat pepohonan; ia melihat aliran prana yang naik dari akar-akar tua menuju dahan-dahan yang basah oleh embun. Ia tidak lagi sekadar mendengar suara angin; ia mendengar bisikan tanah yang bergesekan dengan batu, mendengar desir serangga kecil yang bersembunyi di balik lumut, mendengar napas Semeru yang mengalir perlahan di antara celah-celah lembah. Ia menatap sehelai daun pinus yang jatuh dari dahan—daun yang sejak tadi malam telah menguning di ujungnya, yang kini jatuh dengan gerakan yang begitu lambat, begitu anggun, seolah-olah daun itu sedang menari untuk terakhir kalinya sebelum menyentuh tanah. Ia melihat bagaimana daun itu berputar-putar di udara, bagaimana cahaya pagi memantul di permukaannya yang basah oleh embun, bagaimana akhirnya daun itu mendarat di atas lumut keemasan dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Dunia tidak berubah. Namun Kertabhumi telah berubah. Dan kini setiap helai daun, setiap batu, setiap embun memiliki rasa yang dapat ia baca. Setiap desir angin, setiap kicau burung, setiap tetes air memiliki makna yang dapat ia pahami. Ia tidak lagi sekadar melihat dunia; ia merasakannya, ia mendengarkannya, ia menjadi bagian darinya.
Ia bangkit perlahan dari alas tidurnya yang telah hancur. Gerakannya lambat, terukur, seperti gerakan seorang pertapa yang telah lama hidup di gunung—gerakan yang tidak terburu-buru karena ia tahu bahwa waktu di gunung berjalan dengan iramanya sendiri. Ia menatap sekeliling cekungan cadas itu untuk terakhir kalinya—cekit yang sejak semalam telah menjadi tempat perlindungannya, yang sejak semalam telah menjadi tempat ia ditempa, yang sejak semalam telah menjadi tempat ia belajar menjadi manusia yang utuh untuk pertama kalinya. Dinding-dinding cadas yang sejak tadi menaunginya tampak berbeda di bawah cahaya pagi. Batu-batu yang sejak semalam tampak kelabu dan dingin, kini tampak lebih hangat, lebih hidup, seolah-olah cahaya pagi telah membangunkan mereka dari tidur panjang mereka. Lumut-lumut yang menempel di dinding batu tampak lebih hijau, lebih segar, seolah-olah mereka sedang merayakan kedatangan pagi dengan cara mereka sendiri. Lanjutkan isi bab baru di sini.
Kertabhumi melangkah keluar dari cekungan. Kakinya menapak tanah dengan hati-hati, merasakan setiap inci tanah di bawah telapak kakinya. Tanah itu lembap oleh embun pagi, dingin namun tidak menusuk seperti semalam. Ia merasakan tekstur tanah yang berbeda-beda di setiap langkahnya—tanah yang lebih padat di dekat batu, tanah yang lebih lembut di dekat akar pohon, tanah yang lebih licin di dekat aliran air kecil yang sejak semalam mengalir di dekat cekungan.
Ia berjalan menuju tepi tebing, tempat di mana ia dapat melihat lembah di bawahnya. Dan di sana, di bawah cahaya pagi yang kini telah menyapu seluruh lembah, ia melihat keindahan yang membuatnya menahan napas. Lembah itu terbentang luas, dihiasi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi, oleh aliran sungai kecil yang memantulkan cahaya matahari, oleh kabut tipis yang masih menggantung di antara pepohonan seperti selimut sutra yang ditenun oleh tangan-tangan tak kasat mata. Di kejauhan, ia dapat melihat puncak Semeru yang berdiri megah, puncaknya yang tertutup awan tipis seolah-olah sedang bersentuhan dengan langit.
Ia menarik napas panjang. Udara pagi itu dingin, namun tidak lagi menusuk. Ia membawa serta aroma tanah basah, aroma daun pinus, aroma bunga-bunga liar yang sejak semalam telah mekar di antara semak-semak. Aroma itu masuk ke dalam paru-parunya, mengisi seluruh tubuhnya dengan kesegaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan udara pagi itu menyapu seluruh raganya, membiarkan aroma-aroma itu masuk ke dalam batinnya, membiarkan keindahan lembah itu meresap ke dalam jiwanya. Dan di saat itu, ia merasakan sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang membuatnya membuka mata dengan cepat.
Dari balik kabut tipis yang masih menggantung di tepi tebing, sebuah sosok perlahan menampakkan diri. Tidak ada suara langkah kaki yang terdengar. Tidak ada ranting yang patah. Tidak ada desir kain yang menggesek dedaunan. Sosok itu muncul seolah-olah ia dibentuk oleh kabut itu sendiri, mengental menjadi wujud manusia, lalu memadat menjadi sosok Resi Dewamatra. Kertabhumi menatap sosok itu dengan mata yang lebar. Sang resi agung itu mengenakan jubah kuning keemasan yang sama dengan yang ia kenakan semalam. Namun, di bawah cahaya fajar, kain tenun kasar yang dicelup dengan kunyit dan akar-akar hutan itu tampak berkilau samar, memantulkan cahaya matahari pagi dengan kelembutan yang menenangkan. Jubah itu basah oleh embun, menempel di bahu dan lengannya, namun Dewamatra tidak tampak terganggu oleh dinginnya air yang meresap ke dalam serat kain.
Ia berdiri dengan punggung yang lurus bagaikan batang pinus yang telah bertahan ratusan tahun melawan badai. Tangannya yang kiri memegang tongkat kayu cemara hitam—tongkat yang sejak semalam telah menjadi perpanjangan dari tangannya sendiri, perpanjangan dari napasnya sendiri, perpanjangan dari napas Semeru yang mengalir melaluinya. Sementara tangan kanannya tersembunyi di balik lipatan jubahnya. Wajah Dewamatra tenang. Kerutan-kerutan tua di sekitar matanya tampak lebih dalam di bawah cahaya pagi, menyimpan ribuan rahasia gunung yang tidak akan pernah ia ucapkan kepada sembarang orang. Matanya yang hitam dan dalam menatap Kertabhumi tanpa sorot kasihan, tanpa sorot bangga yang berlebihan, melainkan dengan tatapan wening—tatapan jernih yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah lama menyatu dengan keheningan alam.
Tatapan itu seolah berkata: Kau telah bertahan. Namun perjalanan baru saja dimulai. Kertabhumi menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menyatukan telapak tangan dalam sikap sembah yang takzim. "Selamat pagi, Sang Resi," ucap Kertabhumi. Suaranya masih sedikit serak, namun tidak lagi lemah. Ada keteguhan baru yang menopang setiap suku kata yang keluar dari bibirnya.
Dewamatra tidak membalas sapaan itu dengan kata-kata. Di lereng Semeru, kata-kata seringkali dianggap sebagai beban yang mengganggu kesucian pagi. Para brahmana gunung percaya bahwa fajar adalah waktu ketika bumi sedang berbicara, dan manusia harus belajar untuk mendengarkan, bukan memaksa alam mendengar ocehan mereka. Sebagai gantinya, Dewamatra hanya mengangguk pelan—sebuah anggukan yang sangat halus, nyaris tak terlihat, namun mengandung pengakuan yang membuat dada Kertabhumi terasa hangat. Kemudian, sang resi mengangkat tongkat kayu cemara hitamnya. Ujung tongkat itu tidak diketukkan ke tanah seperti semalam. Dewamatra hanya mengarahkannya ke bawah, menuju tebing curam yang tersembunyi di balik rimbunan pohon beringin dan akar-akar raksasa yang menjulur ke dalam jurang. Isyarat itu singkat, padat, dan tidak menawarkan ruang untuk bertanya. Ikuti aku.
Kertabhumi menatap isyarat itu dengan mata yang tajam. Ia memahami pesan yang terkandung di dalamnya—pesan yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, pesan yang dapat dibaca oleh mereka yang telah belajar membaca bahasa alam. Tanpa menunggu Kertabhumi bergerak, Dewamatra berbalik dan melangkah menuju tepi tebing. Jubah kuning keemasannya berkibar pelan, menyapu ujung-ujung daun pakis yang basah. Langkahnya begitu ringan, seolah tarikan bumi tidak berlaku pada tubuhnya, seolah ia hanya menapak di atas permukaan kabut, bukan di atas batu dan tanah yang licin oleh embun pagi. Kertabhumi tidak membuang waktu. Ia membetulkan letak keris pendek di pinggangnya—keris yang bilahnya masih buram oleh sisa-sisa darah dan getah pohon dari pelariannya kemarin—lalu melangkah keluar dari cekungan cadas, mengikuti jejak sang resi menuju tebing yang curam.
Sebelum ia melangkah lebih jauh, ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia menatap cekungan cadas yang sejak semalam telah menjadi tempat perlindungannya. Ia menatap janur yang telah hancur, yang kini hanya tersisa sebagai serpihan-serpihan kering yang berserakan di atas lumut tua. Ia menatap batu pipih yang sejak semalam telah menjadi bantalnya, yang permukaannya masih basah oleh air matanya yang telah mengering. Ia menatap semua itu dengan rasa hormat yang dalam. Karena ia tahu—cekit itu bukan sekadar cekungan batu. Cekit itu telah menjadi saksi dari pertarungan yang telah ia lalui, dari keteguhan yang telah ia tunjukkan, dari kemenangan sunyi yang telah ia raih. Cekit itu telah menjadi guru pertamanya di lereng barat Semeru, guru yang telah mengajarinya bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari kemenangan, melainkan dari kesediaan untuk bertahan ketika seluruh tubuh berteriak ingin menyerah. "Terima kasih," bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar oleh angin pagi. Lalu ia berbalik, dan melangkah mengikuti Dewamatra.
Langkahnya mantap, namun tidak terburu-buru. Ia menuruni tebing dengan hati-hati, merasakan setiap inci tanah di bawah telapak kakinya. Ia melewati pepohonan pinus tua, melewati batu-batu besar yang tertutup lumut, melewati akar-akar yang menjulur seperti tangan-tangan tua yang sedang meminta-minta. Di depannya, Dewamatra bergerak tanpa suara. Sosok berjubah keemasan itu sesekali menghilang ditelan kabut, lalu muncul kembali di tikungan jalur yang lebih rendah, selalu menjaga jarak yang sama, selalu menuntun tanpa pernah menoleh ke belakang untuk memastikan apakah muridnya masih mengikuti.
Kertabhumi memahami bahwa di jalur ini, seorang murid tidak boleh dituntun seperti anak kecil yang buta. Ia harus belajar membaca jejak, membaca arah angin, membaca patahan ranting yang sengaja ditinggalkan oleh sang guru sebagai penunjuk jalan. Dan ia mulai membaca. Ia melihat goresan samar pada batang pohon waru, menunjukkan arah turunan yang aman. Ia merasakan perubahan hawa di celah-celah batu, yang menandakan adanya rongga atau tanah labil yang harus dihindari. Ia mendengar perubahan nada gemericik air di kejauhan, yang memberitahunya bahwa mereka sedang mendekati sumber mata air purba. Semua pelajaran yang dulu ia dapatkan dari Resi Wangsadipa—pelajaran yang dulu terasa seperti dongeng belaka—kini bangkit hidup di dalam batinnya, menyatu dengan naluri barunya, membimbingnya menuruni tebing yang mematikan itu dengan keselamatan yang nyaris sempurna.
Perjalanan turun itu memakan waktu berjam-jam, atau mungkin hanya beberapa waktu yang terasa seperti keabadian. Di dalam hutan Semeru, waktu tidak diukur oleh posisi matahari semata, melainkan oleh irama napas gunung, oleh tebal-tipisnya kabut, oleh wangi tanah yang berubah seiring naiknya suhu bumi. Kertabhumi tidak tahu berapa lama ia telah berjalan—yang ia tahu hanyalah bahwa setiap langkah membawanya lebih dekat ke sesuatu yang belum ia ketahui, sesuatu yang sedang menunggunya di ujung perjalanan. Semakin jauh ia turun, semakin berubah pula wujud hutan di sekelilingnya.
Pohon-pohon pinus yang tinggi dan ramping perlahan digantikan oleh pepohonan yang lebih tua, lebih besar, dan lebih gelap. Batang-batang pohon beringin dan pohon gayam berukuran raksasa mendominasi pandangan, dahan-dahan mereka saling bertaut di atas kepala, membentuk kubah alami yang menghalangi sebagian besar cahaya matahari untuk menembus ke dasar hutan. Udara di sini terasa lebih berat, lebih lembap, dan mengandung aroma yang berbeda—bukan sekadar wangi tanah basah dan daun pinus, melainkan wangi kemenyan samar, wangi kayu gaharu yang telah lapuk dimakan zaman, dan wangi bunga-bunga kantil yang hanya mekar di tempat-tempat yang dianggap suci oleh para leluhur. Suara hutan pun berubah.
Kicau burung liar yang sejak tadi menemani perjalanan mereka perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang padat. Keheningan ini bukan keheningan kosong yang menakutkan, melainkan keheningan yang bermartabat, seperti keheningan di dalam balairung agung ketika raja sedang bersemadi, atau keheningan di dalam candi perwara ketika para brahmana sedang memanjatkan puja kepada Hyang Widhi. Kertabhumi merasakan bahwa ia sedang memasuki wilayah yang berbeda—wilayah yang tidak lagi merupakan hutan biasa, melainkan wilayah yang telah disentuh oleh kekuatan purba, wilayah yang oleh para pertapa gunung disebut wilayah sang hyang, wilayah yang hanya dapat dimasuki oleh mereka yang telah diizinkan oleh alam. Ia menoleh ke belakang, menatap lorong batu yang baru saja ia lewati. Dari luar, lorong itu tampak seperti celah biasa di antara dua batu raksasa. Namun dari dalam, ia menyadari bahwa lorong itu berfungsi seperti gerbang—gerbang yang memisahkan dunia ramai dari ruang sunyi, gerbang yang hanya dapat dilalui oleh mereka yang telah diizinkan oleh alam. Dan ia tahu—di balik gerbang itu, sesuatu yang besar sedang menunggunya. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Di depannya, Dewamatra berhenti sejenak. Sang resi menoleh, menatap Kertabhumi dengan mata yang dalam. Tatapan itu mengandung pesan yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata—pesan yang berkata: Kita hampir sampai. Bersiaplah. Kertabhumi mengangguk pelan, memahami pesan itu. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara lembap yang mengandung aroma kemenyan dan kayu gaharu itu mengisi paru-parunya. Ia memusatkan cipta, mempersiapkan batinnya untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Lalu Dewamatra berbalik, dan melanjutkan langkahnya. Kertabhumi mengikutinya, dengan langkah yang kini lebih mantap, lebih kokoh, lebih siap.
Dan di saat itu, di ujung sebuah lorong alami yang dibentuk oleh dua buah batu andesit raksasa yang berlumut, Kertabhumi melihatnya. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya. Sesuatu yang oleh para resi gunung disebut Dataran Sunyi.
BAGIAN 3 — Jalur Sunyi dan Gerbang Batu Punden
Dataran Sunyi itu belum sepenuhnya terlihat, namun Kertabhumi telah merasakan kehadirannya—hadir seperti kehadiran seorang tua yang telah lama menunggu di balik tirai tebal, hadir seperti kehadiran sesuatu yang purba yang tidak perlu diperkenalkan karena ia telah dikenal oleh darah yang mengalir di dalam urat nadi setiap keturunan Rajasa.
Dari ujung lorong batu andesit yang baru saja ia intip, cahaya keemasan fajar menembus celah-celah dahan dengan cara yang aneh—tidak jatuh lurus sebagaimana cahaya matahari biasa, melainkan melengkung lembut, seolah-olah ditarik oleh sesuatu yang berada di balik pepohonan. Cahaya itu tidak menyilaukan mata, namun ia menyapa batin dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Kertabhumi meremang. Di depannya, Dewamatra berhenti sejenak. Sang resi tidak menoleh, namun Kertabhumi tahu—dari cara bahu sang resi yang sedikit turun, dari cara tongkat kayu cemara hitamnya yang ditegakkan dengan gerakan halus—bahwa Dewamatra sedang menunggu. Bukan menunggu Kertabhumi untuk menyusul, melainkan menunggu sesuatu yang lebih dalam: menunggu izin dari tempat yang sedang mereka tuju, menunggu persetujuan dari bumi tua yang telah lama tidur di balik kubah pepohonan raksasa itu.
"Tempat yang akan kau masuki," suara Dewamatra akhirnya terdengar, rendah dan pelan, seolah ia sendiri enggan memecah keheningan yang telah turun bersama kabut pagi, "bukan tempat yang dapat dimasuki oleh sembarang langkah. Ia memiliki tata caranya sendiri. Ia memiliki bahasanya sendiri. Dan ia memiliki ingatannya sendiri—ingatan yang lebih panjang dari ingatan para raja Majapahit, lebih dalam dari ingatan para brahmana yang pernah memanjatkan puja di sanggar-sanggar pamujan Trowulan." Kertabhumi menelan ludah. Rasanya pahit, seperti rasa logam yang menempel di lidah setelah ia berlari terlalu jauh di rimba. Namun rasa pahit itu bukan berasal dari kelelahan—ia berasal dari rasa hormat yang tiba-tiba membuncah di dadanya, rasa hormat yang ia rasakan setiap kali ia berdiri di hadapan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. "Apa yang harus saya lakukan, Sang Resi?" tanyanya pelan. Dewamatra akhirnya menoleh.
Matanya yang hitam dan dalam menatap Kertabhumi dengan tatapan yang tidak dapat dibaca—tatapan yang oleh para pertapa gunung disebut tatapan sang wening, tatapan jernih yang tidak mengandung penghakiman, tidak mengandung harapan, tidak mengandung kekecewaan. Tatapan yang hanya menyaksikan, seperti telaga yang hanya memantulkan wajah siapa pun yang datang kepadanya tanpa memilih. "Langkahmu harus menjadi doa," ujar Dewamatra akhirnya. "Setiap tapak kaki yang kau letakkan di atas tanah tempat ini harus diletakkan dengan kesadaran penuh—kesadaran bahwa kau sedang menapaki tanah yang telah disucikan oleh kaki-kaki para resi sebelum kau. Setiap napas yang kau hirup harus kau hirup dengan rasa syukur—syukur karena tempat ini mengizinkanmu untuk masuk. Setiap detak jantungmu harus kau dengarkan—dengarkan sebagai irama yang harus kau selaraskan dengan irama tempat ini."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam batin Kertabhumi seperti air yang meresap ke dalam tanah kering. "Dan yang paling penting," lanjutnya, suaranya kini lebih rendah, hampir seperti bisikan, "jangan membawa kesombongan seorang pangeran ke dalam tempat itu. Tinggalkan gelarmu di luar gerbang. Tinggalkan darah kerajaan di luar lorong batu. Masuklah sebagai cantrik—seorang murid yang belum tahu apa-apa, yang belum memiliki apa-apa, yang datang dengan tangan kosong dan hati yang terbuka." Kertabhumi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia memahami pesan itu—memahami bukan hanya dengan akal budinya, melainkan dengan seluruh raganya, dengan seluruh batinnya, dengan seluruh jiwanya yang sejak semalam telah ditempa oleh embun upas dan oleh visi api Trowulan yang masih membekas di dalam ingatannya. Ia tahu bahwa apa yang sedang ia hadapi bukanlah sekadar ujian fisik, melainkan ujian kerendahan hati—ujian yang akan menentukan apakah ia layak untuk menerima apa yang sedang menunggunya di balik gerbang batu itu.
Dengan perlahan, ia melepaskan keris pendek dari pinggangnya. Keris itu—keris pemberian Tumenggung Badhra Wisesa, keris yang telah menemaninya sejak pertama kali ia menghadapi macan kumbang di usia lima belas, keris yang bilahnya masih buram oleh sisa-sisa darah dan getah pohon dari pelariannya kemarin—ia letakkan dengan hati-hati di atas batu datar di samping lorong. Bilah keris itu berkilau samar di bawah cahaya pagi yang menembus celah dahan, seolah-olah ia sedang mengucapkan selamat tinggal kepada tuannya, seolah-olah ia sedang berjanji untuk menunggu dengan sabar hingga sang pangeran kembali.
"Kau tidak akan membutuhkan besi di tempat itu," ujar Dewamatra, seolah ia tahu apa yang sedang dilakukan Kertabhumi meski tidak menoleh. "Di tempat itu, senjatamu adalah kerendahan hatimu. Perisaimu adalah keteguhanmu. Dan kekuatanmu adalah napasmu yang telah mulai belajar menyatu dengan napas bumi." Kertabhumi mengangguk pelan. Ia melangkah maju, mengikuti Dewamatra yang telah mulai bergerak menuju lorong batu andesit yang menjulang di hadapan mereka. Lorong itu sempit—hanya cukup lebar untuk satu orang dewasa yang berjalan dengan hati-hati—dan tinggi, dengan dinding-dinding batu yang ditumbuhi lumut tebal berwarna kehitaman. Di antara kedua dinding itu, cahaya pagi masuk dengan cara yang aneh—tidak jatuh lurus, melainkan merayap perlahan, seolah-olah ia sendiri sedang meminta izin untuk menyentuh tanah di dalam lorong itu.
Langkah pertama Kertabhumi ke dalam lorong terasa berbeda dari langkah-langkah yang telah ia ambil sejak pagi. Tanah di bawah kakinya tidak lagi licin oleh embun, tidak lagi lunak oleh lumut basah. Tanah di dalam lorong itu padat, keras, seolah-olah telah dipadatkan oleh jutaan tapak kaki yang telah melintasinya selama berabad-abad—tapak kaki para pertapa, para resi, para brahmana gunung yang datang ke tempat ini untuk mendengarkan napas bumi. Setiap kali telapak kakinya menyentuh tanah, ia merasakan getaran halus yang merambat naik ke tulang betisnya, ke pinggangnya, ke dadanya, hingga ke pusat perutnya—getaran yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai sapaan. Sapaan dari tanah itu sendiri.
"Kau datang," seolah-olah tanah itu sedang berkata kepadanya, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan getaran yang merambat melalui tulang-tulangnya. "Kami telah menunggumu. Namun kau harus membuktikan bahwa kau layak untuk berjalan di atas kami." Kertabhumi memperlambat langkahnya. Ia tidak lagi berjalan sebagaimana ia biasa berjalan di rimba—berjalan dengan langkah yang panjang, yang mantap, yang cepat. Kini ia berjalan dengan langkah yang pendek, yang hati-hati, yang penuh rasa hormat. Setiap tapak kakinya diletakkan dengan kesadaran penuh—kesadaran bahwa ia sedang menapaki tanah yang telah disucikan, tanah yang oleh para leluhur disebut tanah sang hyang, tanah yang hanya dapat diinjak oleh mereka yang datang dengan hati yang bersih.
Di depannya, Dewamatra bergerak dengan cara yang sama. Langkah sang resi begitu ringan, begitu halus, hingga Kertabhumi—yang sejak kecil telah belajar membaca jejak di tanah—hampir tidak dapat melihat bekas tapak kakinya di atas tanah yang padat itu. Jubah kuning keemasannya yang basah oleh embun berkibar pelan di belakangnya, menyapu dinding-dinding lorong dengan kelembutan yang seolah-olah ia sedang mengelus tubuh seorang tua yang telah lama tidur. Tongkat kayu cemara hitamnya tidak lagi diketukkan ke tanah—ia hanya memegangnya dengan lembut, seolah-olah tongkat itu bukan alat, melainkan perpanjangan dari tangannya sendiri, perpanjangan dari napasnya sendiri. Lorong itu semakin dalam.
Cahaya pagi yang masuk dari celah-celah di atas semakin redup, digantikan oleh kegelapan yang lembut—kegelapan yang bukan menakutkan, melainkan menenangkan, seperti kegelapan di dalam rahim ibu yang sedang menunggu kelahiran. Dinding-dinding batu di kiri-kanan lorong semakin dekat, seolah-olah mereka sedang mendekat untuk menyambut Kertabhumi, untuk memeluknya, untuk membisikkan rahasia-rahasia yang telah mereka simpan selama ribuan tahun. Dan di dinding-dinding itu, Kertabhumi melihat sesuatu yang membuatnya menahan napas. Ukiran.
Ukiran-ukiran samar yang telah tergerus oleh hujan dan angin selama berabad-abad, namun yang masih dapat dibaca oleh mata yang telah belajar melihat. Ukiran-ukiran itu bukan ukiran biasa—ia adalah ukiran yang dibuat oleh tangan-tangan empu dari zaman sebelum Majapahit berdiri, dari zaman ketika para raja Singhasari dan Kediri masih memerintah tanah Jawa, bahkan mungkin dari zaman yang lebih tua lagi, dari zaman ketika leluhur pertama kali menapakkan kaki di tanah ini. Di dinding kiri, terdapat ukiran sulur-sulur daun teratai—daun yang oleh para brahmana disebut puspa sang hyang, bunga yang tumbuh di telaga suci, bunga yang oleh para pertapa digunakan sebagai lambang kesadaran yang murni. Sulur-sulur itu meliuk-liuk dengan anggun, seolah-olah mereka sedang menari di atas batu, seolah-olah mereka sedang menceritakan kisah yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang telah belajar membaca bahasa batu.
Di dinding kanan, terdapat ukiran yang lebih aneh—ukiran berbentuk lingkaran dengan empat lengan yang melengkung ke arah yang sama. Kertabhumi mengenal simbol itu—ia adalah swastika, simbol suci yang oleh para leluhur digunakan sebagai lambang perputaran semesta, lambang matahari yang bergerak dari timur ke barat, lambang kehidupan yang tidak pernah berhenti berputar. Namun swastika di dinding itu berbeda dari swastika yang biasa ia lihat di candi-candi Trowulan. Swastika di dinding itu tidak dipahat dengan tegas, tidak dipahat dengan kebanggaan—ia dipahat dengan kelembutan, dengan kerendahan hati, seolah-olah sang empu yang memahatnya sedang berkata: "Aku hanyalah alat. Tangan yang memahat adalah tangan semesta. Aku hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh batu ini." Kertabhumi berhenti sejenak di hadapan ukiran itu.
Ia mengangkat tangannya perlahan—lambat seperti gerakan tangan seorang pertapa yang telah lama hidup di gunung, yang tidak pernah terburu-buru karena ia tahu bahwa ia sedang mendekati sesuatu yang sakral. Ujung jarinya menyentuh permukaan ukiran itu, dan seketika ia merasakan getaran yang berbeda dari getaran tanah di bawah kakinya. Getaran itu lebih dalam. Getaran itu lebih purba. Getaran itu seolah-olah berasal dari suatu tempat yang lebih tua dari waktu itu sendiri—dari suatu tempat di mana batu-batu ini masih berupa cairan panas yang mengalir dari perut bumi, dari suatu tempat di mana leluhur pertama masih berupa benih yang belum tumbuh, dari suatu tempat di mana Semeru sendiri masih muda dan sedang belajar menjadi gunung.
"Jangan menyentuh terlalu lama," suara Dewamatra terdengar dari depan, rendah namun tegas. "Batu-batu ini memiliki ingatannya sendiri. Jika kau menyentuh terlalu lama, ingatan itu akan masuk ke dalam dirimu, dan kau akan kehilangan dirimu sendiri di dalamnya." Kertabhumi menarik tangannya kembali. Namun getaran itu masih terasa di ujung jarinya—getaran yang bukan hanya dirasakan oleh kulitnya, melainkan oleh seluruh raganya, oleh seluruh batinnya, oleh seluruh jiwanya. Getaran yang seolah-olah sedang berkata kepadanya: "Ingatlah kami. Ingatlah mereka yang telah berjalan di lorong ini sebelum kau. Ingatlah mereka yang telah mendengarkan napas bumi di tempat yang sedang kau tuju. Dan ketika kau sampai di sana, sampaikan salam kami kepada batu tua yang sedang menunggu." Kertabhumi mengangguk pelan, meski ia tahu batu-batu itu tidak dapat melihatnya. Lalu ia melanjutkan langkahnya, mengikuti Dewamatra yang telah semakin jauh di depannya.
Lorong itu akhirnya berakhir. Bukan dengan tiba-tiba, melainkan dengan perlahan—dinding-dinding batu yang sejak tadi mengapit mereka mulai menjauh, mulai merendah, mulai melebar, hingga akhirnya mereka keluar dari lorong itu dan mendapati diri mereka berdiri di ambang sesuatu yang membuat Kertabhumi menahan napas. Di hadapannya terbentang sebuah dataran. Dataran itu berbentuk lingkaran sempurna—lingkaran yang begitu sempurna hingga Kertabhumi—yang sejak kecil telah belajar mengukur segala sesuatu dengan mata—langsung menyadari bahwa lingkaran itu tidak dibuat oleh tangan manusia biasa. Lingkaran itu dibuat oleh sesuatu yang lebih besar dari manusia, oleh sesuatu yang oleh para pertapa gunung disebut tangan sang hyang—tangan yang bekerja tanpa suara, tanpa alat, tanpa waktu.
Diameter dataran itu kira-kira tiga puluh langkah—cukup luas untuk menampung beberapa orang yang sedang bersemadi, namun cukup kecil untuk membuat siapa pun yang masuk ke dalamnya merasa kecil, merasa rendah, merasa bahwa ia sedang berdiri di hadapan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Tanah di dataran itu rata. Bukan rata oleh cangkul atau oleh tangan manusia, melainkan rata oleh sesuatu yang lebih purba—oleh napas bumi yang telah bertiup di tempat itu selama ribuan tahun, oleh embun yang telah turun dan menguap selama ribuan pagi, oleh langkah-langkah para resi yang telah menapaki tempat itu selama ribuan malam. Tanah itu tertutup oleh hamparan lumut tipis berwarna keemasan—lumut yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai lumut yang hanya tumbuh di tempat-tempat yang telah disentuh oleh kekuatan purba, lumut yang warnanya tidak pernah pudar meski telah terkena hujan dan angin selama berabad-abad.
Di sekeliling dataran itu, berdiri batu-batu tua. Batu-batu andesit yang dipahat kasar, berdiri tegak melingkar seperti para penjaga bisu yang telah berjaga di tempat itu sejak zaman sebelum Majapahit berdiri. Batu-batu itu tidak sama tingginya—ada yang setinggi dada orang dewasa, ada yang setinggi kepala, ada yang lebih tinggi lagi, menjulang seperti jari-jari tangan yang sedang menunjuk ke langit. Beberapa batu itu ditumbuhi akar-akar kecil yang melilitnya seperti urat nadi, sementara yang lain masih menyisakan ukiran-ukiran samar yang telah tergerus oleh waktu.
Namun yang membuat Kertabhumi terpukau bukanlah batu-batu itu sendiri, melainkan apa yang mereka pancarkan. Dari setiap batu itu, terpancar hawa yang berbeda-beda. Dari batu yang paling tinggi di utara, terpancar hawa dingin—dingin yang bukan berasal dari angin, melainkan dari dalam batu itu sendiri, dingin yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai dinginnya puncak Semeru, dinginnya salju abadi yang konon hanya dapat dilihat oleh mereka yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi. Dari batu yang paling rendah di timur, terpancar hawa hangat—hangat yang bukan berasal dari matahari, melainkan dari dalam batu itu sendiri, hangat yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai hangatnya api perut bumi, hangatnya dahana purba yang sedang tidur di kedalaman Semeru.
Dari batu-batu yang lain, terpancar hawa-hawa yang berbeda—hawa lembap seperti hawa sungai, hawa kering seperti hawa padang, hawa tajam seperti hawa angin gunung, hawa lembut seperti hawa embun pagi. Semua hawa itu berputar perlahan di sekeliling dataran, bertemu, bercampur, lalu berpisah lagi, seperti penari-penari yang sedang menari dalam ritme yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang telah belajar mendengar bahasa alam. Dan di tengah-tengah dataran itu, di tengah-tengah lingkaran batu-batu tua itu, terdapat sesuatu yang membuat jantung Kertabhumi berhenti berdetak sejenak. Sesuatu yang sejak tadi telah ia rasakan kehadirannya—kehadiran yang lebih tua dari batu-batu penjaga, lebih dalam dari lumut keemasan, lebih purba dari ukiran-ukiran di dinding lorong.
Namun sebelum ia dapat melihatnya dengan jelas, Dewamatra mengangkat tangannya. "Berhenti." Suara itu tidak keras, namun memiliki ketajaman yang membuat udara di sekeliling Kertabhumi seolah menegang. Kertabhumi berhenti seketika, kakinya yang sejak tadi melangkah kini membeku di atas lumut keemasan, napasnya yang sejak tadi teratur kini tertahan di tenggorokan. "Jangan melangkah lebih jauh," lanjut Dewamatra, suaranya kini lebih rendah, lebih khidmat. "Sebelum kau melangkah ke tengah dataran itu, kau harus memahami satu hal."
Kertabhumi menatap sang resi dengan mata yang lebar. Dewamatra berbalik, menghadap Kertabhumi dengan wajah yang serius—wajah yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai wajah yang sedang menyampaikan sesuatu yang sakral, sesuatu yang tidak boleh didengar oleh sembarang telinga, sesuatu yang hanya boleh disampaikan di tempat yang telah disucikan oleh waktu. "Tempat ini," ujar Dewamatra pelan, suaranya bergema lembut di antara batu-batu tua, "disebut Dataran Sunyi oleh para resi gunung. Namun nama itu hanyalah nama yang diberikan oleh manusia—nama yang tidak dapat menggambarkan hakikat tempat ini. Tempat ini tidak memiliki nama, karena ia lebih tua dari nama. Tempat ini tidak memiliki batas, karena ia lebih luas dari segala batas yang dapat dipikirkan oleh manusia. Tempat ini tidak memiliki waktu, karena ia telah ada sebelum waktu itu sendiri dimulai."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam batin Kertabhumi. "Yang kau lihat di sekelilingmu ini—batu-batu yang berdiri melingkar, lumut keemasan yang menutupi tanah, hawa-hawa yang berputar di udara—semua itu hanyalah wujud lahir dari tempat ini. Wujud yang dapat dilihat oleh mata, yang dapat didengar oleh telinga, yang dapat dirasakan oleh kulit. Namun di balik wujud itu, ada sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah belajar merasakan dengan batin, bukan dengan indra." Kertabhumi mendengarkan dalam diam.
Setiap kata Dewamatra terasa seperti batu yang diletakkan satu per satu di atas dadanya—batu yang tidak menekan, melainkan membangun. Membangun sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya, namun yang ia rasakan benar di dalam batinnya. "Di tengah dataran ini," lanjut Dewamatra, "terdapat sesuatu yang oleh para resi gunung disebut pusar Semeru—titik di mana bumi gunung ini bernapas. Titik di mana napas manusia dan napas bumi berasal dari sumber yang sama. Titik di mana segala batas antara diri dan semesta, antara raga dan jiwa, antara manusia dan dewata, menjadi kabur—menjadi satu."
Ia menunjuk ke tengah dataran—ke tempat di mana sesuatu yang sejak tadi membuat jantung Kertabhumi berhenti berdetak sejenak. "Dan di titik itulah," lanjutnya, suaranya kini lebih rendah, lebih khidmat, "kau akan belajar pelajaran yang paling penting dalam hidupmu—pelajaran yang akan mengubahmu dari seorang pangeran yang dikejar bahaya menjadi seorang pemimpin yang mampu menghadapi bayangan keluarganya sendiri." Kertabhumi menelan ludah.
Rasa pahit di tenggorokannya belum hilang—namun kini, di tengah rasa pahit itu, ia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam, lebih kokoh, lebih tahan lama. Sesuatu yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai keteguhan—keteguhan yang bukan berasal dari amarah, melainkan dari kesadaran. Kesadaran bahwa apa yang sedang ia hadapi—apa yang sedang menunggunya di tengah dataran itu—adalah sesuatu yang tidak dapat ia ubah, sesuatu yang tidak dapat ia batalkan, sesuatu yang harus ia hadapi dengan kepala tegak, dengan napas teratur, dengan batin yang kokoh.
"Apa yang ada di tengah dataran itu, Sang Resi?" tanyanya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar—nyaris tak terdengar bahkan di dalam sunyinya dataran itu. Namun ia mengucapkan kata-kata itu dengan kesadaran penuh—kesadaran bahwa ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang besar. Dewamatra tersenyum tipis. Senyum yang kali ini berbeda dari senyum-senyum sebelumnya—senyum yang mengandung pengajaran, senyum yang mengandung kesabaran, senyum yang hanya datang ketika seorang guru tahu bahwa muridnya telah siap untuk melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi darinya. "Mendekatlah," ujarnya pelan. "Dan lihatlah dengan matamu sendiri."
Kertabhumi melangkah maju. Langkahnya pelan—pelan seperti langkah seorang pertapa yang telah lama hidup di gunung, yang tidak pernah terburu-buru karena ia tahu bahwa ia sedang mendekati sesuatu yang sakral. Setiap tapak kakinya di atas lumut keemasan itu ia usahakan tidak menimbulkan suara—suara yang olehnya langsung dipahami sebagai sesuatu yang dapat merusak kesucian tempat ini, suara yang dapat mengusik tidur sesuatu yang sedang menunggunya di tengah dataran.
Ia melewati batu-batu penjaga yang berdiri melingkar di sekeliling dataran. Setiap kali ia melewati salah satu dari batu-batu itu, ia merasakan hawa yang berbeda—hawa yang olehnya langsung dipahami sebagai sapaan dari batu itu, sapaan yang tidak diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan hawa yang merambat melalui kulitnya, melalui dagingnya, melalui tulang-tulangnya.
Batu pertama di sebelah kirinya menghembuskan hawa dingin yang tajam—hawanya seperti hawa puncak gunung di malam yang paling dingin, hawa yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai hawa yang membawa pesan: "Bersiaplah. Apa yang akan kau lihat akan mengujimu."
Batu kedua di sebelah kanannya menghembuskan hawa hangat yang lembut—hawanya seperti hawa api yang sedang tidur di dalam tungku, hawa yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai hawa yang membawa pesan: "Jangan takut. Kau tidak sendirian."
Batu ketiga, batu keempat, batu kelima—masing-masing menghembuskan hawa yang berbeda, masing-masing membawa pesan yang berbeda, namun semua pesan itu bermuara pada satu hal yang sama: "Kau telah datang. Kami telah menunggumu. Sekarang, lihatlah dengan matamu sendiri."
Dan kemudian, setelah melewati batu penjaga terakhir di sebelahnya, Kertabhumi akhirnya melihatnya. Ia melihat sesuatu yang membuat seluruh raganya bergetar—bergetar bukan oleh ketakutan, bukan oleh kekaguman, melainkan oleh sesuatu yang lebih dalam dari keduanya: oleh pengakuan. Pengakuan bahwa ia sedang berdiri di hadapan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Pengakuan bahwa ia sedang berdiri di hadapan sesuatu yang telah lama menunggunya. Pengakuan bahwa ia sedang berdiri di hadapan sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Di tengah dataran itu, di atas hamparan lumut keemasan yang berkilau samar di bawah cahaya remang yang menembus kubah dahan, terdapat sebuah batu. Batu oval. Seukuran perut manusia dewasa. Batu itu berwarna hitam kebiruan—hitam yang mengandung sedikit kebiruan, seperti warna langit di malam yang paling gelap, seperti warna laut di kedalaman yang tidak pernah disentuh oleh cahaya matahari. Permukaannya halus seperti kulit yang telah dipoles selama ribuan tahun—halus oleh tangan-tangan tak kasat mata, halus oleh angin yang bertiup melintasinya, halus oleh embun yang turun setiap malam dan menguap setiap pagi. Ia berbaring di tengah dataran, seolah sedang tidur. Atau sedang menunggu. Menunggu seseorang yang telah datang untuk mendengarkannya. Menunggu seseorang yang telah siap untuk menyatukan napasnya dengan napasnya. Menunggu Kertabhumi.
Kertabhumi berhenti beberapa langkah dari batu itu. Ia menatapnya dengan mata yang lebar—mata yang sejak semalam telah belajar melihat dengan cara yang baru, mata yang kini dapat merasakan kehadiran yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Ia merasakan denyut halus dari batu itu—denyut yang lambat, yang dalam, yang seperti detak jantung makhluk tua yang sedang tidur. Ia merasakan kehangatan yang merambat keluar dari permukaan batu itu—kehangatan yang bukan untuk membakar, melainkan untuk menyambut, untuk mengakui, untuk berkata: "Kau telah datang. Aku telah menunggumu."
Namun yang paling membuatnya terpukau bukanlah denyut itu, bukanlah kehangatan itu, melainkan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang oleh Kertabhumi langsung dipahami sebagai napas. Batu itu bernapas. Bukan bernapas dalam arti fisik—tidak ada udara yang masuk dan keluar dari permukaannya, tidak ada gerakan naik-turun yang dapat dilihat oleh mata. Namun batu itu bernapas dalam arti yang lebih dalam—arti yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang telah belajar mendengar dengan batin, bukan dengan telinga. Napas itu lambat, dalam, purba—napas yang oleh Kertabhumi langsung dikenali sebagai napas yang sama dengan napas yang ia rasakan di pusat perutnya, napas yang oleh Dewamatra disebut napas Tunggal Pancer, napas yang oleh para resi gunung disebut napas sang hyang.
Dan di saat yang sama—di saat ia menyadari bahwa batu itu sedang bernapas—ia merasakan sesuatu yang lain. Ia merasakan bahwa wiji daya-nya—bara kecil di pusat perutnya yang sejak semalam telah ia jaga—mulai berdenyut dengan irama yang berbeda. Irama yang lebih cepat. Irama yang lebih kuat. Irama yang seolah-olah sedang menyapa napas batu itu, seolah-olah sedang mengenalinya sebagai saudara tua yang telah lama terpisah. "Kau merasakannya, bukan?" suara Dewamatra terdengar dari belakangnya—suara yang rendah, yang tenang, yang seperti aliran sungai kecil yang mengalir di antara batu-batu tua.
Kertabhumi mengangguk pelan, tanpa menoleh. "Saya... saya merasakannya, Sang Resi," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar—nyaris tak terdengar bahkan di dalam sunyinya dataran itu. "Batu itu... ia bernapas. Dan napasnya... napasnya seperti napas yang ada di dalam diriku." Dewamatra tersenyum tipis. Senyum yang kali ini mengandung kebanggaan—kebanggaan yang tidak sering ia rasakan, kebanggaan yang hanya datang ketika seorang guru melihat muridnya mulai memahami sesuatu yang besar.
"Benar," ujarnya pelan. "Batu itu bernapas. Dan napasnya adalah napas yang sama dengan napasmu—napas yang berasal dari sumber yang sama, napas yang oleh para resi kuno disebut napas Tunggal Pancer, napas yang mengalir dari pusat bumi menuju pusat tubuh setiap manusia yang lahir ke dunia ini." Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Kertabhumi, matanya menatap batu oval itu dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca—antara hormat, rindu, dan sesuatu yang lebih dalam.
"Batu ini disebut Watu Gendheng," lanjutnya, suaranya kini lebih rendah, lebih khidmat. "Dalam bahasa leluhur, ia bermakna Batu Pusar—batu yang oleh para resi gunung disebut sebagai pusar Semeru, titik di mana bumi gunung ini bernapas. Para resi dari zaman Majapahit awal, dari zaman Singhasari, bahkan dari zaman raja-raja Mataram Kuno yang pertama kali menapakkan kaki di tanah Jawa, datang ke tempat ini untuk mendengarkan napas bumi." Kertabhumi menatap batu itu dengan rasa hormat yang mendalam. Dadanya berdesir.
Wiji daya di dalam Tunggal Pancer-nya seolah merespons kehadiran batu itu, berdenyut sedikit lebih cepat, seperti seorang anak yang mengenali wajah kakeknya yang belum pernah ia temui. "Mengapa batu ini menghangat, Sang Resi?" tanyanya pelan, suaranya nyaris berupa bisikan, takut merusak kesucian tempat itu. "Karena ia bernapas," jawab Dewamatra singkat. "Gunung Semeru bukanlah onggokan tanah dan batu yang mati, Kertabhumi. Ia adalah makhluk hidup yang tertidur. Di dalam perutnya, api dahana terus bergejolak, menjaga keseimbangan antara langit dan bumi. Dan batu ini... batu ini adalah lubang hidung gunung itu. Setiap hawa hangat yang kau rasakan adalah hembusan napas Semeru. Setiap embun yang turun di hutan luar adalah uap dari napasnya yang mendingin."
Dewamatra melangkah mendekat, lalu perlahan-lahan meletakkan telapak tangan kanannya di atas permukaan Watu Gendheng. "Letakkan tanganmu," perintah sang resi. Kertabhumi tidak ragu. Ia melangkah maju, mengangkat kedua tangannya yang gemetar halus—bukan oleh ketakutan, melainkan oleh rasa takzim yang membuncah di dadanya—lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan batu oval yang hitam kebiruan itu.
Seketika, sebuah getaran merambat masuk ke dalam tubuhnya. Getaran itu tidak keras, tidak mengguncang, namun kedalamannya tidak terhingga. Ia merambat dari permukaan batu, masuk melalui pori-pori telapak tangan Kertabhumi, naik melalui urat nadi di lengannya, mengalir ke dadanya, dan akhirnya berhenti di pusat perutnya, tepat di titik di mana wiji daya-nya bersemayam. Di dalam benaknya, Kertabhumi tidak mendengar suara kata-kata. Ia mendengar irama.
Sebuah irama yang sangat lambat, sangat dalam, dan sangat purba. Irama itu seperti detak jantung raksasa yang berdenyut satu kali untuk setiap seribu putaran musim. Irama itu membawa serta gambaran-gambaran samar yang melintas di balik kelopak matanya yang terpejam: ia melihat lautan api yang bergejolak di kedalaman bumi, ia melihat akar-akar pohon yang menembus kegelapan tanah mencari air, ia melihat hujan deras yang menghantam puncak gunung selama berabad-abad, ia melihat para resi tua yang duduk bersila di tempat yang sama, menua dan mati, sementara batu itu tetap ada, tetap hangat, tetap bernapas.
Air mata menetes dari sudut mata Kertabhumi, jatuh ke permukaan batu yang hangat itu, dan menguap seketika menjadi kabut tipis. Ia menangis bukan karena kesedihan. Ia menangis karena rasa kecil yang tiba-tiba menyadarinya. Di hadapan batu ini, di hadapan napas Semeru yang purba, segala gelar yang ia sandang—Bhre Kertabhumi, pewaris Majapahit, putra Rajasawardhana—terasa begitu rapuh, begitu fana, begitu tidak berarti. Ia hanyalah sebutir debu yang sedang berdiri di atas dada raksasa yang sedang tidur.
Namun di saat yang sama, ia merasa diterima. Raksasa itu tidak mengusirnya. Raksasa itu membiarkannya berdiri di sana, membiarkannya merasakan kehangatan napasnya, mengakui bahwa debu ini memiliki darah yang sama dengan tanah yang menopangnya. "Cukup," suara Dewamatra terdengar, menarik Kertabhumi kembali dari kedalaman semadinya. Kertabhumi membuka matanya, menarik kedua tangannya dari permukaan batu dengan perlahan, seolah-olah ia sedang melepaskan genggaman tangan seorang sahabat lama. Telapak tangannya terasa hangat, dan kehangatan itu tidak hilang meski ia telah tidak menyentuh batu itu lagi.
"Kau telah merasakan napasnya," ujar Dewamatra, menatap mata Kertabhumi dengan sorot yang tajam. "Kau telah merasakan bagaimana bumi bernapas dari pusatnya, dari kedalaman yang tidak tersentuh oleh angin atau hujan. Ia tenang. Ia lambat. Ia tidak tergesa-gesa. Namun tenaganya menopang seluruh pulau Jawa." Kertabhumi mengangguk pelan, masih terhanyut oleh keagungan rasa yang baru saja ia alami. "Benar, Sang Resi," bisiknya. "Napasnya... begitu dalam. Begitu penuh." "Namun napasmu sendiri masih kacau," potong Dewamatra, suaranya kini berubah menjadi lebih tegas, membawa nada seorang guru yang siap untuk menempa besi mentah menjadi pedang yang tajam.
Kertabhumi tersentak halus, menyadari kebenaran kata-kata itu. Sejak tadi, napasnya masih naik turun di dadanya, mengikuti irama keterkejutannya, mengikuti rasa yang bergejolak di batinnya. "Napas dada adalah napas manusia fana," lanjut Dewamatra, berjalan memutari batu oval itu, tongkatnya sesekali mengetuk lumut keemasan di bawahnya. "Ia adalah napas yang digunakan untuk berbicara, untuk berlari, untuk marah, untuk takut. Napas dada mudah terputus oleh kelelahan. Mudah dicekik oleh ketakutan. Ketika kau berhadapan dengan Bharingan, atau ketika kau berhadapan dengan bayangan Suraprabhawa kelak, napas dadamu akan terhenti, dan ragamu akan menjadi kaku, menunggu untuk dibantai."
Dewamatra berhenti tepat di hadapan Kertabhumi, menatap lurus ke dalam manik mata sang pangeran muda. "Jika kau ingin bertahan, jika kau ingin menyatukan wiji daya di dalam tubuhmu dengan tenaga dahana Semeru, kau harus memindahkan napasmu. Kau harus belajar bernapas seperti batu ini. Bernapas dari pusar. Bernapas dari Tunggal Pancer." Kertabhumi menatap Watu Gendheng, lalu menatap gurunya. Keteguhan di dadanya mengeras, menggantikan sisa-sisa keharuan yang tadi membanjiri batinnya. Ia tahu bahwa masa perenungan telah usai. Masa penempaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Ajarkan saya, Sang Resi," ucap Kertabhumi mantap. "Ajarkan saya cara bernapas seperti bumi." Dewamatra tersenyum tipis, senyuman yang menandakan bahwa besi mentah itu telah siap untuk dipukul oleh palu tempa. "Duduklah di hadapan Watu Gendheng," perintah sang resi. "Kita akan memulai siksaan yang akan meruntuhkan kesombongan ragamu, sebelum kita membangunnya kembali menjadi wadah yang layak bagi napas para dewata."
Kertabhumi melipat kakinya, duduk bersila di atas lumut keemasan, menghadap batu oval yang menghangat itu. Ia memejamkan mata, memusatkan cipta, dan bersiap untuk menghadapi pertarungan paling brutal yang pernah ia alami: pertarungan melawan kebiasaan raganya sendiri. Di luar Dataran Sunyi, angin Semeru bertiup lebih kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon beringin raksasa, seolah-olah gunung itu sendiri sedang menarik napas panjang, bersiap untuk menyaksikan seorang pangeran muda ditempa oleh api dan kesunyian. Perjalanan menuju singgasana Majapahit baru saja memasuki babak yang lebih dalam. Dan Semeru—saksi abadi—mengiringi setiap langkah itu dengan napasnya yang purba.
English Version Notice
English Translation Coming Soon
We deeply regret that this epic chapter is not yet available in English. We kindly ask for your patience. The English version will be published shortly.
Please stay tuned for our official updates on Facebook, Instagram, X, TikTok, and LinkedIn.