Identitas & Garis Keturunan
Pertemuan empat garis darah besar sejarah (Kalingga, Arab, Sumedang Larang, Majapahit) dalam diri seorang anak, serta beban warisan yang tersembunyi di balik kesederhanaan.
Epic Narrative
Sebuah epos pop-modern tentang garis keturunan, ingatan, pengorbanan, dan pilihan, mengikuti perjalanan seorang anak Wonokromo melintasi lima puluh lima tahun sejarah.
Surabaya, 1973. Di gang-gang sempit Wonokromo, Jati Pamungkas lahir sebagai anak bungsu dari keluarga besar. Dalam dirinya bertemu empat garis keturunan sejarah: Kalingga, keilmuan pesisir Arab, Sumedang Larang, dan Majapahit melalui Brawijaya V.
Darah yang Terpendam adalah kisah tentang akar yang tersembunyi, kepakan sayap yang terbentang, keretakan yang menyatukan, rimba kehidupan yang membentuk karakter, serta fajar yang menyingsing — sebuah perjalanan menuju pemahaman bahwa martabat sejati dibentuk oleh pilihan dan pengabdian.
Pertemuan empat garis darah besar sejarah (Kalingga, Arab, Sumedang Larang, Majapahit) dalam diri seorang anak, serta beban warisan yang tersembunyi di balik kesederhanaan.
Kekuatan sejati tidak ditemukan dalam kekerasan atau dominasi, melainkan dalam kemampuan tenang untuk meredakan konflik, membaca situasi, dan memilih keadilan daripada ketakutan.
Filosofi "kulit dan isi" — bahwa keluhuran sejati tidak terletak pada gelar atau kekayaan, melainkan pada integritas, iman, dan kebaikan hati.
Kampung Wonokromo, Surabaya yang padat, riuh, dan keras pada era 1970-an dan 1980-an. Sebuah dunia dengan atap seng berkarat, gang-gang sempit, hierarki jalanan, dan solidaritas warga.
Tempat ini menjadi kawah candradimuka di mana seorang anak bertitisan darah raja belajar arti kepemimpinan sejati bukan melalui mahkota, melainkan lewat pelajaran jalanan yang tak kenal ampun.
Bab akan diterbitkan bertahap seiring proses penyuntingan.