Darah yang Terpendam — Volume 1: Akar yang Terpendam
Bab 1 — Anak Kesembilan
Wonokromo, Juli 1973. Di mana darah raja tidak mengalir di istana, melainkan ditempa di gang sempit, pasar yang riuh, dan jalanan yang kejam.
ADEGAN 1 — WONOKROMO, MALAM HUJAN
Wonokromo tidak pernah benar-benar gelap. Bahkan di tengah malam seperti ini, ketika hujan turun rintik-rintik membasahi atap-atap seng yang berkarat dan jalanan tanah yang setengah becek, selalu ada cahaya yang menyala dari suatu tempat — lampu teplok di jendela seseorang yang belum bisa tidur karena memikirkan utang, bara rokok kretek yang berpindah dari satu mulut ke mulut lain di pos ronda, atau nyala api kecil di warung kopi Mak Iyem yang buka dua puluh empat jam karena, katanya, "wong Wonokromo ora tau sepi, Nak."
Malam itu, Juli 1973, hujan datang lebih deras dari biasanya. Air mengalir di selokan-selokan kecil di sepanjang gang, membawa serta daun-daun kering dan bungkus rokok yang dibuang sembarangan, menuju got besar yang bermuara entah ke mana — mungkin ke Kalimas, mungkin ke laut, tidak ada yang benar-benar peduli untuk mencari tahu.
Gang di mana keluarga itu tinggal hanya cukup dilalui satu becak, dan itu pun sopirnya harus pelan-pelan menghindari genangan air yang menyembunyikan lubang-lubang di bawahnya. Rumah-rumah berdempetan seperti gigi yang berjejal dalam mulut yang terlalu kecil, dindingnya saling bersandar, atapnya nyaris bersentuhan di beberapa titik sehingga kalau hujan turun, suara tetesan air dari satu atap ke atap lain menciptakan semacam musik yang aneh — tidak merdu, tapi akrab bagi siapa saja yang lahir dan besar mendengarnya.
Di ujung gang, tepat di pertigaan yang menghubungkan kampung dengan jalan besar, berdiri sebuah pos ronda kecil yang malam itu ditempati oleh tiga pemuda kampung. Mereka duduk melingkari lampu teplok, kartu remi tergeletak di antara mereka, meski permainan sudah lama berhenti karena hujan membuat suasana malas untuk berkonsentrasi pada apa pun selain rokok dan obrolan.
"Sik, krungu ora?" salah satu dari mereka, seorang pemuda bertubuh kekar bernama Kasdu yang dikenal sebagai salah satu "penjaga" tak resmi blok itu, mendongak sedikit ke arah gang.
"Krungu opo?"
"Kuwi lho. Swara wong nangis."
Yang lain diam sejenak, memasang telinga. Di antara suara hujan yang jatuh ke seng dan gemericik air di selokan, samar-samar terdengar suara yang lebih manusiawi — jeritan tertahan seorang perempuan, diselingi suara-suara lain yang bergerak cepat di dalam rumah.
"Oh, kuwi. Bu Ratna arep nglairke, kandane wingi."
Kasdu mengangguk-angguk, lalu kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. "Wis pira iki? Wolu?"
"Sanga, kandane. Iki sing kesanga."
Salah satu yang lain, pemuda yang lebih muda dan masih terhitung baru di antara mereka, bersiul pelan. "Akeh temen. Piye carane menehi mangan sanga bocah nganggo gaji pegawe biasa?"
Kasdu tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah gelapnya gang, ke arah rumah petak yang jendelanya menyala remang-remang, tempat suara-suara itu berasal. Ada semacam rasa hormat aneh dalam diam Kasdu — meski ia sendiri lebih dikenal karena kepalan tangannya daripada kesantunannya, ia tahu batas mana yang tidak boleh dilewati bahkan oleh orang seperti dirinya. Keluarga yang sedang melahirkan itu tidak pernah membuat masalah dengan siapa pun, tidak pernah meminta perlindungan yang harus dibayar, tidak pernah menyombongkan diri meski — begitu bisik-bisik yang beredar di kampung — mereka punya darah "orang atas" entah dari mana asalnya. Kasdu sendiri tidak terlalu percaya gosip semacam itu. Bagi Kasdu dan orang-orang macam dia, darah biru atau bukan, semua orang di Wonokromo sama saja di depan lapar dan hujan.
Ia membuang puntung rokoknya ke genangan air, mendengar desis kecil ketika bara itu padam.
"Muga-muga slamet," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada kedua temannya.
Di seberang gang, dalam sebuah rumah petak lain yang lebih kecil, seorang perempuan tua bernama Mak Sarni duduk di depan pintu yang sedikit terbuka, menyaksikan hujan sambil sesekali melirik ke arah rumah keluarga yang sedang riuh oleh proses kelahiran itu. Mak Sarni sudah tua, cucunya sendiri sudah tiga, dan ia dikenal di kampung sebagai salah satu orang yang paling banyak tahu soal siapa-melahirkan-apa dan kapan, karena rumahnya berada di jalur paling strategis untuk mengamati siapa saja yang lewat membawa kabar.
"Bapake kok during ketok metu-metu?" gumamnya pada dirinya sendiri, memperhatikan tidak ada tanda-tanda sang suami keluar rumah untuk memanggil bantuan tambahan atau sekadar merokok melepas gugup seperti biasanya dilakukan para suami di kampung itu saat istri mereka melahirkan.
Ia tidak tahu bahwa di dalam rumah itu, sang suami — seorang pria yang selama bertahun-tahun tinggal di kampung ini dikenal sebagai sosok pendiam yang jarang berbicara lebih dari yang perlu — sedang berdiri kaku di sudut ruang depan, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang tertutup, sementara tangannya, tanpa ia sadari sepenuhnya, meraba-raba sesuatu di balik lipatan sarungnya. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun ia simpan, yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada istrinya sendiri — meski dari sorot mata istrinya setiap kali menyentuh kain lusuh itu tanpa sengaja, ia curiga perempuan itu tahu lebih banyak dari yang pernah ia akui.
Malam itu, entah kenapa, benda itu terasa lebih berat dari biasanya di balik kainnya. Seolah-olah benda itu sendiri tahu bahwa sesuatu penting sedang terjadi, dan ingin ikut menyaksikannya.
Hujan terus turun, tak peduli pada kelahiran atau kematian, tak peduli pada darah biru yang terpendam atau kemiskinan yang nyata. Ia jatuh sama ratanya di atas atap rumah orang kaya di Surabaya bagian atas dan di atas seng-seng berkarat Wonokromo, membasahi jalan-jalan yang akan dilalui seorang anak yang belum lahir menuju takdir yang bahkan tak bisa dibayangkan oleh siapa pun yang berdiri menunggu malam itu.
Di dalam kamar sempit itu, di antara cahaya lampu teplok yang berkedip-kedip diterpa angin yang menyelinap dari celah jendela, seorang dukun beranak bernama Mbah Kirno — perempuan berusia enam puluhan yang tangannya sudah membantu ratusan kelahiran di kampung itu selama tiga dekade — menyeka keringat di dahinya sendiri sambil terus membimbing Nyi Mas Ratnaningsih melalui kontraksi yang semakin sering dan semakin kuat.
"Ngoyo, Nduk. Ngoyo maneh," bisiknya, suaranya tenang meski di dalam hatinya sendiri Mbah Kirno merasakan sesuatu yang aneh malam itu — semacam firasat yang tak bisa ia jelaskan, yang membuat bulu kuduknya berdiri setiap kali menatap wajah Nyi Mas Ratnaningsih yang bersimbah keringat namun anehnya tenang, seolah perempuan itu tahu persis apa yang sedang terjadi dan tidak takut sedikit pun menghadapinya.
Di luar, hujan mulai mereda sedikit, seolah alam sendiri sedang menahan napas.
ADEGAN 2 — SEMBILAN MENUNGGU DI RUANG DEPAN
Ruang depan rumah petak itu tidak pernah dirancang untuk menampung delapan anak sekaligus, apalagi pada malam ketika salah satu dari mereka akan segera mendapatkan adik baru. Ruangan berukuran sekitar empat kali tiga meter itu — dengan sebuah dipan kayu tua di salah satu sudut, meja kecil yang kakinya sudah diganjal potongan kayu bakar karena patah, dan sebuah lemari kayu yang pintunya tak lagi bisa tertutup rapat — malam itu dipadati oleh tubuh-tubuh kecil dan tidak begitu kecil yang duduk berjejalan, sebagian di dipan, sebagian di lantai beralas tikar pandan yang sudah mulai lusuh di pinggir-pinggirnya.
Yang tertua, seorang gadis berusia enam belas tahun bernama Sulastri, duduk paling dekat dengan pintu kamar, punggungnya tegak, wajahnya berusaha keras terlihat tenang meski jari-jarinya terus-menerus meremas ujung selendang yang melilit di lehernya. Sebagai anak sulung, ia sudah terbiasa menjadi orang kedua yang bertanggung jawab di rumah itu setiap kali ibunya berhalangan — dan malam ini, dengan ibunya sedang berjuang di balik pintu yang tertutup itu, tanggung jawab itu jatuh sepenuhnya ke pundaknya.
"Kabeh meneng," bisiknya, meski sebenarnya tidak ada seorang pun dari adik-adiknya yang benar-benar berisik. Ia mengucapkannya lebih sebagai cara untuk menenangkan dirinya sendiri.
Di sampingnya, anak kedua — seorang laki-laki berusia empat belas tahun bernama Kusno yang sudah mulai membantu ayahnya mencari tambahan penghasilan dengan berjualan koran pagi sebelum berangkat sekolah — duduk dengan lutut ditekuk dan dagu bersandar di atasnya, matanya menerawang ke arah lampu teplok yang nyalanya bergoyang-goyang setiap kali angin masuk lewat celah dinding papan. Kusno bukan tipe anak yang banyak bicara. Bertahun-tahun membantu ayahnya di pasar dan berjualan koran membuatnya lebih cepat dewasa dari anak-anak seusianya, tapi juga membuatnya lebih pendiam, lebih suka mengamati daripada berbicara.
"Piye yo, Mbak. Lanang po wedok kiro-kiro?" bisik anak ketiga, seorang gadis berusia dua belas tahun bernama Sri, memecah keheningan. Ia duduk memeluk lutut, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang khas anak-anak seusianya — belum sepenuhnya memahami beban yang menyertai setiap kelahiran baru di keluarga mereka, hanya merasakan kegembiraan sederhana akan kehadiran adik baru.
"Ora ngerti. Ibu ora tau ngomong," jawab Sulastri singkat.
"Nek lanang, jenenge sopo yo?"
"Wis, meneng ta, Sri. Iki durung wektune takon jeneng," Kusno menyela, meski nadanya tidak keras.
Sri cemberut sebentar, tapi kemudian diam, mengikuti arahan kakak-kakaknya seperti biasa.
Di sudut lain ruangan, anak keempat dan kelima — sepasang anak laki-laki kembar berusia sepuluh tahun bernama Wagimin dan Wagiman — duduk berdempetan, salah satu dari mereka (tidak ada yang bisa membedakan dengan pasti dalam gelapnya ruangan itu) menguap lebar-lebar sebelum buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, malu ketahuan mengantuk pada malam sepenting ini.
"Ojo turu," bisik yang satunya, menyikut pelan.
"Aku ora turu. Mung ngantuk."
"Podo wae kuwi."
Perdebatan kecil khas anak kembar itu berhenti ketika terdengar lagi suara dari balik pintu kamar — suara ibu mereka yang lebih keras dari sebelumnya, diikuti suara Mbah Kirno yang menenangkan. Kedua anak kembar itu langsung diam, mata mereka yang tadinya mengantuk kini terbuka lebar, menatap ke arah pintu dengan campuran rasa takut dan penasaran yang sulit dijelaskan.
Anak keenam, seorang gadis berusia delapan tahun bernama Yuni, yang sejak tadi duduk paling dekat dengan Sulastri, mulai terisak pelan. Bukan karena sedih, tapi karena suara-suara dari balik pintu itu terdengar menakutkan baginya yang belum pernah menyaksikan langsung proses seperti ini sebelumnya — ia masih terlalu kecil ketika adiknya yang sekarang berusia dua tahun lahir untuk benar-benar mengingat atau memahami apa yang terjadi.
Sulastri segera merengkuh Yuni ke dalam pelukannya. "Ora popo, Dik. Ibu kuat. Ibu wis biasa," bisiknya, meski dalam hatinya sendiri Sulastri tidak sepenuhnya yakin dengan kata-kata itu. Ia sudah cukup umur untuk mengingat bahwa dua kelahiran sebelumnya berjalan lebih sulit dari yang lain, dan ia sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa usia ibunya sekarang bukan usia yang muda lagi untuk melahirkan anak kesembilan.
Anak ketujuh, seorang laki-laki berusia enam tahun bernama Bambang, duduk paling jauh dari pintu, di dekat lemari kayu yang pintunya tak bisa tertutup rapat, memainkan sebuah kelereng yang ia gulirkan pelan-pelan di atas lantai tanpa benar-benar memperhatikan ke mana kelereng itu menggelinding. Ia terlalu kecil untuk sepenuhnya memahami ketegangan yang menyelimuti ruangan itu, tapi cukup besar untuk merasakan bahwa malam ini bukan malam biasa — bahwa ada sesuatu yang berbeda di udara, sesuatu yang membuat kakak-kakaknya lebih diam dari biasanya dan membuat ayahnya, yang biasa duduk di kursi sambil membaca koran bekas kemarin, malam ini berdiri kaku di sudut ruangan tanpa bergerak sama sekali.
Anak kedelapan — yang paling kecil sebelum kelahiran malam ini, seorang balita berusia dua tahun bernama Endang — sudah tertidur di pangkuan Sulastri, tak menyadari sama sekali bahwa posisinya sebagai anak bungsu akan segera berakhir malam ini, digantikan oleh adik yang bahkan belum sempat ia kenal.
Ayah mereka, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan tanpa bergerak, akhirnya melangkah pelan mendekati jendela, membuka sedikit tirai kain yang menutupinya, menatap ke luar ke arah gang yang masih basah oleh hujan yang baru saja mereda. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Kasdu dan teman-temannya yang mulai membubarkan diri dari pos ronda, tanda hujan benar-benar sudah berhenti.
Ia menatap ke arah anak-anaknya yang duduk berjajar di ruangan itu — delapan wajah yang menatapnya balik dengan ekspresi berbeda-beda: harap, cemas, kantuk, penasaran. Delapan anak yang sudah ia besarkan dengan susah payah dari penghasilan seorang pegawai rendahan, delapan anak yang tak satu pun tahu rahasia yang ia simpan di balik lipatan sarungnya.
Dan sebentar lagi, akan ada anak kesembilan.
Entah kenapa, menatap deretan wajah anak-anaknya malam itu, pria itu merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan — semacam firasat bahwa anak kesembilan ini akan berbeda dari delapan yang lain. Bukan karena ia menyayangi mereka kurang, tapi karena ada sesuatu tentang malam ini, tentang cara hujan turun begitu deras sebelum tiba-tiba mereda, tentang cara benda di balik sarungnya terasa lebih berat dari biasanya, yang membuatnya yakin bahwa hidup keluarga mereka akan berubah setelah malam ini — meski ia tidak tahu persis bagaimana atau kapan.
Ia menutup kembali tirai jendela, dan kembali berdiri diam di sudut ruangan, menunggu bersama kesembilan— tidak, untuk sesaat lagi, masih delapan — anaknya.
ADEGAN 3 — DETIK KELAHIRAN
Kamera imajiner yang mengikuti malam itu, seandainya ada yang merekamnya, akan membuka adegan ini dengan sebuah bidikan lambat dari atas atap seng yang berkarat — air hujan yang tersisa masih menetes satu-satu dari ujung genting yang pecah, jatuh ke tanah becek di bawahnya dengan bunyi tes... tes... tes... yang berirama seperti detak jarum jam raksasa yang menghitung mundur menuju sesuatu. Setiap tetes memantulkan cahaya remang dari lampu teplok di dalam rumah, berkelip sekilas sebelum lenyap diserap tanah.
Lensa itu kemudian akan turun perlahan, menembus dinding papan yang renggang, menyusup lewat celah yang biasa dipakai angin malam untuk masuk, memasuki kamar sempit tempat drama sesungguhnya sedang berlangsung.
Di dalam, cahaya lampu teplok berwarna kuning pucat menerangi ruangan dengan bayang-bayang yang bergoyang liar setiap kali sumbunya bergetar diterpa hembusan angin dari celah dinding. Bayangan Mbah Kirno yang membungkuk membesar dan mengecil di dinding, seperti siluet raksasa yang menari dalam ritme yang tak menentu. Peluh membasahi dahi perempuan tua itu, menetes dari ujung hidungnya, jatuh tanpa suara ke atas tikar yang sudah basah oleh keringat dan cairan ketuban.
Nyi Mas Ratnaningsih berbaring dengan rambut panjangnya yang tergerai berantakan, sebagian menempel di dahinya yang basah oleh keringat, sebagian lagi tersangkut di sudut bibirnya yang terus bergerak, kadang mengucap kalimat syahadat dalam bisikan tertahan, kadang hanya mengeluarkan erangan panjang yang tertahan agar tak membangunkan seluruh kampung.
Matanya — sepasang mata yang selama ini dikenal tenang, dikenal teduh oleh siapa pun yang pernah bertatap dengannya di pasar atau di sumur umum — kini menyala dengan intensitas yang berbeda. Bukan lagi ketenangan seorang ibu rumah tangga biasa, melainkan sesuatu yang lebih purba, lebih liar: tekad seorang perempuan yang sedang bertarung dengan taruhan nyawanya sendiri demi kehidupan lain yang sedang berjuang keluar dari dalam dirinya.
"Ngoyo maneh, Nduk! Ayo! Sitik meneh!" seru Mbah Kirno, suaranya kini tak lagi berbisik, dipenuhi urgensi yang tak bisa disembunyikan lagi. Tangannya bergerak cepat dan pasti, meski di balik ketenangan gerakannya, jantung perempuan tua itu berdegup kencang — insting tiga puluh tahun pengalamannya membantu persalinan mengatakan bahwa detik-detik berikutnya adalah yang paling menentukan.
Di luar pintu, suara-suara itu — jeritan tertahan, instruksi Mbah Kirno, derit dipan kayu — menembus dinding tipis, mencapai telinga delapan anak yang duduk membeku di ruang depan. Sulastri memejamkan mata, bibirnya bergerak tanpa suara melafalkan doa yang diajarkan ibunya sendiri bertahun-tahun lalu. Kusno menggenggam tangan Sri yang mulai gemetar. Si kembar Wagimin dan Wagiman berpegangan tangan tanpa sadar, wajah mereka pucat pasi diterangi cahaya lampu teplok yang temaram.
Kembali ke dalam kamar — bidikan kamera imajiner itu kini mendekat, memenuhi bingkai dengan wajah Nyi Mas Ratnaningsih yang bermandi peluh. Sebuah tetes keringat menggelinding dari pelipisnya, melintasi pipinya yang memerah oleh tenaga yang dikerahkan habis-habisan, jatuh ke bantal yang sudah basah kuyup.
Detik-detik berikutnya berjalan lambat, seolah waktu sendiri menahan napas bersama seisi kampung. Hujan di luar sudah sepenuhnya berhenti, menyisakan keheningan yang aneh — bahkan jangkrik-jangkrik yang biasa berbunyi riuh di celah-celah dinding malam itu seolah ikut diam, menunggu.
Lalu, dalam satu tarikan napas panjang yang disusul jeritan terakhir yang jauh lebih keras dari sebelumnya — jeritan yang menembus dinding, menembus ruang depan, menembus jendela yang setengah terbuka, menembus ke dalam malam Wonokromo yang basah — segalanya berubah.
Dan kemudian, hening.
Satu detik.
Dua detik.
Mbah Kirno bergerak cepat, tangannya yang berpengalaman mengangkat sesosok tubuh kecil yang basah dan merah, tak bergerak, tak bersuara.
Tiga detik.
Di ruang depan, delapan pasang mata membeku, delapan napas tertahan. Sulastri menggenggam tangan Yuni erat-erat, matanya terpaku pada pintu kamar yang tertutup, menunggu suara yang seharusnya sudah terdengar sejak tadi.
Ayah mereka, yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan, kini melangkah maju tanpa sadar, satu langkah, dua langkah, mendekati pintu kamar dengan tangan yang gemetar hebat, benda di balik sarungnya seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
Empat detik hening yang terasa seperti empat abad.
Kemudian—
Sebuah tangis. Kecil, lemah pada awalnya, seperti sungai yang baru mulai mengalir dari mata air yang tersembunyi jauh di dalam gunung, sebelum akhirnya mengeras, menguat, memenuhi ruangan sempit itu dengan suara yang penuh kehidupan, penuh perlawanan, penuh pernyataan bahwa makhluk kecil ini — meski baru saja tiba di dunia yang keras dan penuh air mata seperti Wonokromo — sudah bertekad untuk hidup, untuk bertahan, untuk berjuang.
Mbah Kirno tersenyum lega, meski air matanya sendiri ikut menetes tanpa ia sadari — bukan karena sedih, tapi karena setiap kali menyaksikan momen ini, momen ketika kematian dan kehidupan bertarung dalam jarak sepersekian detik dan kehidupan yang menang, sesuatu di dalam dirinya selalu tergerak, tak peduli sudah berapa ratus kali ia menyaksikannya.
"Alhamdulillah," bisiknya, suaranya bergetar. "Lanang, Nduk. Anakmu lanang."
Di ruang depan, tangis bayi itu menembus dinding tipis, mencapai telinga delapan kakak yang sejak tadi menahan napas. Serentak, seolah dikomando oleh satu isyarat yang sama, mereka semua menghembuskan napas panjang yang selama ini mereka tahan, beberapa di antara mereka — Sulastri, Yuni, bahkan Kusno yang biasanya begitu terkendali — tak mampu menahan air mata yang mengalir begitu saja di pipi mereka.
Ayah mereka berdiri kaku di depan pintu kamar yang masih tertutup, tangannya terangkat setengah, ragu apakah harus mengetuk atau menunggu diizinkan masuk. Wajahnya — wajah yang selama bertahun-tahun dikenal orang-orang kampung sebagai wajah yang datar, sulit ditebak — kini basah oleh air mata yang mengalir tanpa suara, tanpa isak, hanya menetes pelan dari sudut matanya, jatuh ke lantai kayu yang sudah tua dan berdebu.
Di luar rumah, seolah alam semesta sendiri ikut merayakan kedatangan makhluk kecil ini, langit yang tadinya tertutup awan hujan mulai menampakkan celah-celah kecil, memperlihatkan bintang-bintang yang berkelip di antara awan yang mulai membubar. Angin malam yang tadinya membawa hawa dingin dan bau tanah basah kini berhembus lebih lembut, seolah membawa kabar itu menyebar ke seluruh penjuru kampung — bahwa di sebuah rumah petak kecil di gang sempit Wonokromo, seorang anak baru saja lahir.
Kasdu, yang sudah hampir sampai di rumahnya sendiri, berhenti sejenak ketika mendengar samar-samar suara tangis bayi yang terbawa angin malam. Ia menoleh ke arah gang tempat rumah keluarga itu berada, tersenyum tipis — senyum yang jarang sekali terlihat di wajah pemuda yang lebih dikenal karena kepalan tangannya itu.
"Slamet," gumamnya pelan, sebelum melanjutkan langkahnya pulang.
Mak Sarni, yang masih duduk di depan pintu rumahnya meski hujan sudah lama berhenti, juga mendengar suara itu. Ia tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam, "Sanga saiki. Sembilan. Mugo-mugo dadi bocah sing apik."
Ia tidak tahu — tidak ada seorang pun malam itu yang tahu — betapa jauh dari sekadar "bocah sing apik" nasib yang menanti anak kesembilan itu.
Di dalam kamar, Nyi Mas Ratnaningsih, dengan tubuh yang masih gemetar kelelahan, mengulurkan kedua tangannya yang lemah namun penuh kerinduan menerima bayinya yang baru saja dibersihkan seadanya oleh Mbah Kirno. Bayi itu masih menangis, wajahnya merah, tinjunya yang mungil mengepal erat seperti sedang menantang dunia yang baru saja ia masuki.
Perempuan itu mendekap bayinya ke dadanya, merasakan detak jantung kecil yang berpacu cepat di bawah kulit tipis yang masih hangat oleh sisa-sisa panas dalam kandungan. Air matanya sendiri mengalir tanpa bisa ia bendung, jatuh satu-satu ke atas kepala bayinya yang masih basah.
"Kowe wis teko, Nak," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di antara isak yang tertahan. "Suwe tenan aku ngenteni kowe."
Sebuah kalimat yang terdengar aneh bagi siapa pun yang mungkin mendengarnya — seolah-olah perempuan itu bukan sekadar menyambut anak kesembilannya, melainkan menyambut seseorang yang sudah lama ia tunggu, seseorang yang kedatangannya sudah ia ramalkan jauh sebelum malam ini.
Di luar pintu, ketukan pelan terdengar. "Bu... Bu Ratna... angsal kulo mlebet?"
Suara ayah Jati, bergetar, meminta izin masuk untuk pertama kalinya melihat anak kesembilannya.
Fajar masih beberapa jam lagi. Tapi di dalam kamar sempit itu, sebuah cahaya baru — kecil, rapuh, namun penuh kehidupan — sudah lebih dulu terbit.
ADEGAN 4 — ASAL-USUL AYAH
(Sisipan flashback — bergeser dari Wonokromo 1973 menuju masa lampau yang jauh lebih tua)
Untuk memahami mengapa seorang pria bernama — dalam catatan-catatan keluarga yang jarang dibuka, namanya tertulis Slamet Wongsokusumo, meski di kampung ia hanya dipanggil "Pak Slamet" — bisa berdiri gemetar di depan pintu kamar istrinya malam itu, dengan air mata yang tak bisa ia jelaskan sendiri asal-usulnya, kita perlu mundur jauh, jauh sekali, melampaui Wonokromo, melampaui Surabaya, bahkan melampaui apa yang bisa dijangkau ingatan manusia biasa.
Bayangkan sebuah pesisir utara Jawa Tengah, berabad-abad sebelum kelahiran Jati — masa ketika kerajaan bernama Kalingga, atau yang juga dikenal sebagai Holing, berdiri dengan pengaruhnya membentang dari pedalaman hingga jalur pelayaran yang menghubungkan Nusantara dengan dunia luar. Di masa itu, di antara abad ketujuh hingga kesembilan, seorang penguasa — catatannya sudah kabur ditelan waktu, namanya nyaris hilang dari prasasti-prasasti yang rapuh — memiliki garis keturunan yang, alih-alih punah bersama runtuhnya kerajaan itu sendiri, justru bertahan diam-diam, mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat jalur-jalur yang nyaris tak tercatat: pernikahan yang disembunyikan, anak-anak yang dititipkan ke keluarga biasa demi keselamatan, pusaka yang dipindahtangankan dalam kesunyian malam demi menghindari incaran kekuasaan baru yang datang silih berganti — Mataram Kuno, lalu kerajaan-kerajaan Islam pesisir, lalu kolonial Belanda, lalu republik yang baru merdeka.
Darah itu — darah yang oleh nenek Jati sendiri disebut sebagai "darah yang tidak boleh sembarangan bicara" — akhirnya sampai, setelah melewati rentetan generasi yang panjangnya tak lagi bisa dihitung dengan pasti, kepada seorang lelaki tua yang di masa mudanya dikenal di kampungnya sebagai Eyang Wongsokusumo.
Bayangkan sekarang sebuah desa kecil di pesisir utara Jawa Tengah, sekitar tahun 1920-an. Matahari pagi menyinari pematang sawah dengan cahaya keemasan yang menyilaukan, embun masih menggantung di ujung-ujung daun padi, dan asap dari dapur-dapur rumah panggung mengepul pelan ke udara yang masih sejuk. Di salah satu rumah paling sederhana di ujung desa, tinggal seorang lelaki muda — Eyang Wongsokusumo di masa mudanya, sebelum ia menjadi "eyang" bagi siapa pun — yang oleh kedua orang tuanya sejak kecil sudah diberi tahu, dengan suara berbisik dan mata yang selalu was-was melihat ke sekeliling, bahwa dalam dirinya mengalir darah para penguasa lama, darah yang harus dijaga bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk disembunyikan.
"Kowe kudu ngerti, Le," bisik ayahnya sendiri suatu malam, sambil menunjukkan sebuah keris kecil terbungkus kain putih yang sudah menguning dimakan usia, cahaya lampu minyak menari-nari di wajah tua yang penuh guratan itu, "iki dudu keris biasa. Iki tinggalan sing wis ono sadurunge Mataram, sadurunge Majapahit. Sing nduwe iki mbiyen, iku sing mrentah tlatah kene, ewonan taun kepungkur."
Kalimat itu tidak sepenuhnya dipahami oleh lelaki muda itu malam itu. Tapi tanggung jawab yang menyertainya — untuk menjaga, untuk diam, untuk tidak pernah membiarkan darah itu jatuh ke tangan yang salah atau digunakan untuk ambisi kekuasaan yang bisa mengundang bahaya — tertanam dalam dirinya sedalam akar pohon jati yang menembus tanah.
Kehidupan membawa Eyang Wongsokusumo muda merantau, seperti kebanyakan pemuda pesisir Jawa Tengah pada masanya, mencari penghidupan yang lebih baik. Perjalanannya membawanya — lewat jalur dagang, lewat kapal-kapal kecil yang menyusuri pantai utara — hingga bersinggungan dengan sebuah komunitas kecil keturunan Arab yang menetap di salah satu kota pesisir, sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang ulama kecil namun disegani, bernama Habib Salim bin Abdullah al-Attas.
Habib Salim bukan ulama besar yang namanya tercatat dalam sejarah, hanya seorang alim yang mengajar mengaji dan fikih dasar kepada anak-anak kampung di sekitar masjid kecil yang ia dirikan sendiri dari hasil tabungannya sebagai pedagang kain. Tapi kesalehan dan ketulusannya membuat namanya dihormati jauh melampaui batas kampungnya.
Habib Salim memiliki seorang putri, Syarifah Fatimah, perempuan muda yang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan yang kental dengan ajaran agama, fasih membaca Al-Qur'an, dan dikenal karena kesabarannya yang jarang ditemukan pada perempuan seusianya. Wajahnya menampakkan garis keturunan Arabnya yang jelas — kulit yang lebih terang, hidung yang mancung, mata yang tajam namun teduh — namun jiwanya sepenuhnya telah menyatu dengan tanah Jawa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Pertemuan antara Eyang Wongsokusumo muda dan Syarifah Fatimah terjadi di sebuah majelis pengajian yang diselenggarakan Habib Salim, ketika pemuda perantau itu, dalam pengembaraannya mencari penghidupan, singgah untuk sekadar menumpang shalat dan mendengarkan pengajian. Dalam pandangan pertama yang sederhana itu — tak ada yang dramatis, tak ada kilat yang menyambar atau firasat ajaib — tumbuh sebuah ketertarikan yang perlahan-lahan, dengan restu dan proses yang panjang dan penuh kehati-hatian khas masyarakat pesisir yang religius, berujung pada pernikahan.
Habib Salim, sebelum merestui pernikahan putrinya, memanggil pemuda itu secara khusus, menatapnya lama dengan mata yang seolah bisa menembus isi hati orang yang dipandangnya.
"Kulo mireng, Nak," kata Habib Salim pelan, dalam bahasa Jawa yang halus meski logat Arabnya masih terasa kental, "menawi panjenengan gadhah tedhak turun ingkang kedah dipun jagi kanthi ngatos-atos. Leluhur ingkang mboten kenging dipun-umumaken."
Eyang Wongsokusumo muda terkejut bukan main. Bagaimana mungkin seorang ulama pendatang dari jauh bisa mengetahui rahasia yang bahkan tak pernah ia ceritakan pada siapa pun di luar keluarganya sendiri?
Habib Salim hanya tersenyum tipis, seolah membaca kebingungan di wajah pemuda itu. "Gusti Allah maringi pirsa dhateng kawula ingkang purun mirengaken, Nak. Sanes kula ingkang linuwih. Namung, kula pitados, bilih tedhak turun kados makaten mesti gadhah tugas ingkang dereng rampung. Lan panjenengan, insyaallah, badhe dados salah setunggaling lantaran."
Allah memberi tahu kepada hamba yang mau mendengarkan. Bukan aku yang istimewa. Hanya saja, aku percaya, keturunan seperti itu pasti memiliki tugas yang belum selesai. Dan kamu, insyaallah, akan jadi salah satu perantaranya.
Kalimat itu, diucapkan puluhan tahun sebelum kelahiran Jati Pamungkas, akan menjadi salah satu benang tak kasat mata yang menghubungkan seluruh kisah ini — sebuah nubuat kecil yang diucapkan dengan rendah hati oleh seorang ulama kampung, yang bahkan ia sendiri mungkin tak sepenuhnya memahami betapa jauh gaungnya akan terasa di masa depan.
Pernikahan Eyang Wongsokusumo dan Syarifah Fatimah — yang kelak akan dikenal cucu-cucunya sebagai "Mbah Kakung" dan "Mbah Putri", dan salah satu darinya sendiri, dalam adegan-adegan sebelumnya, telah muncul sekilas sebagai sosok nenek misterius yang mengucap kalimat teka-teki tentang "darah yang tidak boleh sembarangan bicara" — menghasilkan beberapa orang anak, salah satunya adalah lelaki yang kelak menjadi ayah Jati: Slamet Wongsokusumo.
Slamet kecil tumbuh dalam rumah tangga yang unik: darah penguasa Jawa kuno dari sang ayah, bercampur dengan darah Arab dan didikan agama yang ketat dari sang ibu. Setiap malam, sebelum tidur, ibunya — Syarifah Fatimah, yang meski sudah puluhan tahun tinggal di tanah Jawa tetap mempertahankan kebiasaan mengajarkan anak-anaknya membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar — akan duduk di samping ranjangnya, membacakan ayat-ayat suci dengan suara lembut yang bergema di ruangan kecil itu, sementara ayahnya, dengan wajah serius yang jarang tersenyum, akan sesekali menyisipkan cerita-cerita samar tentang leluhur yang "mrentah tanah Jawa nalika during ono Islam, during ono Walisongo, malah durung ono Majapahit."
Dua warisan yang bertolak belakang secara zaman namun menyatu secara darah: kekuasaan duniawi purba dari abad ketujuh hingga kesembilan, dan kesalehan spiritual yang jauh lebih muda usianya namun jauh lebih dalam mengakar dalam jiwa. Slamet Wongsokusumo tumbuh sebagai anak yang membawa keduanya sekaligus — waspada dan pendiam seperti ayahnya yang selalu menjaga rahasia, namun juga taat dan lembut hati seperti ibunya yang selalu memegang teguh ajaran agama.
Ketika Slamet dewasa dan waktunya tiba untuk mewarisi tanggung jawab menjaga garis keturunan itu — sebuah upacara sederhana yang dilakukan Eyang Wongsokusumo di tengah malam, jauh dari mata siapa pun, ketika ia menyerahkan benda pusaka terbungkus kain lusuh yang sama yang kelak akan disentuh dengan gemetar oleh Slamet di Wonokromo puluhan tahun kemudian — sang ayah hanya berpesan singkat, kalimat yang akan terus terngiang di telinga Slamet sepanjang hidupnya:
"Le, aja nate kandha sopo-sopo. Aja nate nggunakke kanggo pamer, kanggo kuasa, kanggo bandha. Jaga wae, kaya anak dhewe. Lan nek wektune teko — kowe bakal ngerti dhewe kapan wektu kuwi — pasrahno marang wong sing pantes."
Nak, jangan pernah bilang siapa-siapa. Jangan pernah pakai untuk pamer, untuk kekuasaan, untuk harta. Jaga saja, seperti anak sendiri. Dan kalau waktunya tiba — kamu akan tahu sendiri kapan waktu itu — serahkan pada orang yang pantas.
Slamet muda mengangguk, menerima benda itu dengan tangan gemetar, tak sepenuhnya memahami betapa berat beban yang baru saja berpindah ke pundaknya.
Dan sejak malam itu, Slamet Wongsokusumo — yang kelak akan dikenal orang-orang Wonokromo hanya sebagai "Pak Slamet", pegawai rendahan yang pendiam, ayah dari sembilan anak, suami dari seorang perempuan yang juga menyimpan rahasia darahnya sendiri — hidup dengan satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab, yang terus menghantuinya hingga malam kelahiran Jati: kapan waktu itu akan tiba? Dan kepada siapa, dari sembilan anaknya, ia harus mewariskan beban sekaligus berkah ini?
Malam ketika Jati lahir, berdiri di depan pintu kamar istrinya dengan air mata yang mengalir tanpa bisa dijelaskan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Slamet Wongsokusumo merasakan sesuatu yang mendekati jawaban.
Ia belum yakin. Tapi firasat itu — firasat yang sama yang membuat benda di balik sarungnya terasa berdenyut sepanjang malam — mulai berbisik kepadanya bahwa pencarian panjang leluhurnya, pencarian yang sudah berlangsung sejak berabad-abad silam sejak runtuhnya Kalingga, mungkin akhirnya, malam ini, menemukan arahnya.
ADEGAN 5 — ASAL-USUL IBU: SUMEDANG LARANG
(Sisipan flashback kedua — bergeser dari garis ayah menuju garis ibu, dari pesisir utara Jawa Tengah menuju tanah Priangan)
Jika darah ayah Jati mengalir dari kegelapan abad ketujuh yang nyaris terlupakan, darah ibunya mengalir dari sebuah senja yang lebih jelas tercatat, meski tak kalah pedih — senja sebuah kerajaan yang harus tunduk pada kekuasaan asing yang datang dari seberang lautan.
Bayangkan tanah Priangan di penghujung abad kesembilan belas, perbukitan hijau yang berkabut di pagi hari, dengan Gunung Tampomas berdiri anggun di kejauhan seperti penjaga abadi yang menyaksikan pasang-surut kerajaan yang pernah berdiri gagah di kakinya: Sumedang Larang, kerajaan yang dahulu pernah menjadi salah satu penerus kebesaran Pajajaran, kini tinggal bayang-bayang kemegahan yang harus tunduk di bawah bendera pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Di dalam kompleks keraton yang temboknya mulai ditumbuhi lumut, di mana upacara-upacara adat masih dijalankan meski kekuasaan sesungguhnya sudah lama berpindah tangan, hiduplah seorang pangeran — putra dari raja terakhir Sumedang Larang yang masih memegang gelar kebangsawanan meski kekuasaan politiknya sudah nyaris seluruhnya diambil alih oleh residen Belanda yang berkantor tak jauh dari keraton itu sendiri.
Pangeran ini — dalam catatan keluarga yang diwariskan turun-temurun disebut sebagai Raden Suryaatmaja — tumbuh dengan kesadaran pahit yang menggerogoti setiap sudut masa kecilnya: bahwa gelar "raden" yang disandangnya, bahwa darah biru yang mengalir dalam nadinya, tak lebih dari cangkang kosong yang dipertahankan pemerintah kolonial hanya untuk kepentingan mereka sendiri — menjaga agar rakyat tetap patuh lewat penghormatan pada bangsawan lokal, sementara kekuasaan sesungguhnya, keputusan sesungguhnya, sepenuhnya berada di tangan penjajah.
Ayahnya, sang raja, sering duduk termenung di serambi keraton pada senja hari, menatap ke arah barat tempat matahari tenggelam di balik perbukitan, wajahnya yang keriput memancarkan kepedihan yang tak pernah ia ucapkan dengan kata-kata namun jelas terlihat oleh siapa pun yang cukup dekat untuk mengamatinya. Ia adalah raja, tapi raja yang harus meminta izin gubernur Belanda untuk urusan sekecil apa pun. Ia adalah pemimpin, tapi pemimpin yang harus menyaksikan hasil bumi rakyatnya diangkut ke pelabuhan untuk dikirim ke negeri yang bahkan tak pernah ia lihat dengan matanya sendiri.
"Suryaatmaja," saurna hiji sonten ka putrana anu harita masih ngora, sorana beurat pinuh ku pasrah anu dipaksakeun, "anjeun kedah ngartos, sadaya ieu—" anjeunna ngagerakkeun leungeunna nunjuk ka sakuliah kompleks karaton anu agung tapi kosong tina kakawasaan nu sajati, "—ngan cangkang. Eusina parantos dicandak. Nu kantun ngan ngaran sareng gelar."
Kamu harus mengerti, semua ini hanya cangkang. Isinya sudah diambil. Yang tersisa hanya nama dan gelar.
Namun dari kepahitan itu, tumbuh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kekuasaan duniawi yang hilang: tekad diam-diam untuk tetap menjaga martabat, kehormatan, dan — yang terpenting — garis keturunan yang telah bertahan sejak zaman Pajajaran, agar suatu hari, ketika penjajahan berakhir (sesuatu yang diyakini betul oleh sang raja tua akan terjadi, meski ia sendiri mungkin tak akan hidup untuk menyaksikannya), keturunannya akan bangkit kembali membawa kehormatan yang selama ini terpaksa disembunyikan di balik ketundukan yang dipaksakan.
Raden Suryaatmaja, dalam usia dewasanya, menikah dengan seorang perempuan yang membawa garis keturunan yang tak kalah beratnya untuk disandang: Raden Ayu Kusumaningdyah, seorang perempuan yang dalam nadinya mengalir darah dari kerajaan yang jauh lebih besar dan lebih tragis kejatuhannya — Majapahit, lewat garis keturunan yang bersambung hingga ke Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang pemerintahannya runtuh di tengah gejolak perebutan kekuasaan dan masuknya pengaruh Islam yang mengubah wajah Nusantara selamanya.
Kisah bagaimana darah Brawijaya V sampai ke tangan Raden Ayu Kusumaningdyah adalah kisah pelarian dan penyamaran yang panjang — konon, setelah runtuhnya Majapahit, sebagian keturunan sang prabu melarikan diri ke berbagai penjuru Nusantara, sebagian ke Bali, sebagian ke pedalaman Jawa Timur, dan sebagian lagi, lewat jalur pernikahan dan pengungsian yang berliku selama berabad-abad, akhirnya menetap dan berbaur dengan garis keturunan bangsawan Sunda di tanah Priangan, termasuk yang akhirnya bersambung dengan keluarga Kusumaningdyah.
Raden Ayu Kusumaningdyah sendiri tumbuh dengan kesadaran akan warisan gandanya — keanggunan budaya Sunda yang mengalir dalam gerak-geriknya, namun juga bayang-bayang kebesaran dan kejatuhan Majapahit yang diwariskan lewat cerita-cerita yang dibisikkan neneknya sendiri menjelang tidur, cerita tentang kejayaan yang begitu megah hingga akhirnya runtuh oleh perpecahan dari dalam — sebuah pelajaran yang akan terus ia pegang teguh dan ia wariskan kelak kepada anak perempuannya.
"Karajaan sagede-gedéna, Nyai," ceuk ninina hiji peuting, ngusap sirah Kusumaningdyah leutik anu keur mihape dina pangkonanana, "upami parantos beulah ti jero, bakal ambrug ku sorangan, taya kedah aya musuh ti luar."
Kerajaan sebesar apa pun, kalau sudah retak dari dalam, akan runtuh sendiri, tanpa perlu musuh dari luar.
Pernikahan Raden Suryaatmaja dan Raden Ayu Kusumaningdyah menyatukan dua garis keturunan kerajaan besar Jawa yang pernah berkuasa — Sumedang Larang yang meneruskan kebesaran Pajajaran, dan Majapahit lewat garis Brawijaya V — dalam satu ikatan yang, ironisnya, terjadi justru di masa ketika kedua garis keturunan itu sama-sama telah kehilangan kekuasaan sesungguhnya, tunduk di bawah bayang-bayang kolonialisme yang sama.
Dari pernikahan inilah, beberapa tahun kemudian, lahir seorang putri yang diberi nama Ratnaningsih — yang kelak, setelah menikah dan pindah jauh dari tanah kelahirannya, akan dikenal dengan gelar kehormatan yang tetap disandangnya meski kehidupannya jauh dari kemewahan keraton: Nyi Mas Ratnaningsih.
Ratnaningsih kecil tumbuh di lingkungan keraton yang sudah mulai kehilangan kejayaannya, dididik dengan tata krama keraton yang ketat oleh ibunya, namun juga diajarkan oleh ayahnya sebuah pelajaran yang tak lazim bagi seorang putri keraton: bahwa kehormatan sejati tidak terletak pada gelar atau kemewahan, melainkan pada keteguhan menjaga adab dan kejujuran, bahkan — terutama — ketika dunia di sekitarmu runtuh dan berubah.
"Ratnaningsih," saur ramana hiji dinten, waktos budak awéwé leutik éta naros kunaon aranjeunna teu gaduh deui kakawasaan sapertos anu dicaritakeun dina dongéng-dongéng karuhun, "kadang-kadang Gusti Allah nyandak kakawasaan, supados tiasa maparin nu séjén — kasabaran, élmu, iman. Kakawasaan téh gampil leungit. Tapi iman sareng kahadéan, éta anu moal tiasa dicandak ku sasaha."
Kadang Allah mengambil kekuasaan, supaya bisa memberikan yang lain — kesabaran, ilmu, iman. Kekuasaan itu mudah hilang. Tapi iman dan kebaikan, itu yang tidak akan bisa diambil siapa pun.
Kalimat itu tertanam dalam diri Ratnaningsih, membentuknya menjadi perempuan yang, ketika dewasa, memilih jalan hidup yang mengejutkan banyak kerabat keratonnya: menolak perjodohan dengan sesama kalangan bangsawan yang ditawarkan orang tuanya, dan justru memilih menikah dengan seorang pemuda perantau sederhana dari Jawa Tengah yang ia temui lewat jalur dagang keluarganya — seorang pemuda pendiam bernama Slamet Wongsokusumo, yang meski tak pernah ia ketahui secara pasti, ternyata membawa rahasia darahnya sendiri yang tak kalah beratnya dengan darah yang mengalir dalam dirinya.
Ketika kedua orang tuanya awalnya menentang keras pernikahan itu — bagaimana mungkin seorang putri dengan dua garis keturunan kerajaan besar menikah dengan pemuda tanpa nama dan tanpa harta dari tanah Jawa Tengah? — Ratnaningsih hanya menjawab dengan tenang, mengulang kembali kalimat yang pernah diajarkan ayahnya sendiri:
"Bapa nu ngawulang ka abdi, yén iman sareng kahadéan téh langkung penting tibatan getih sareng kakawasaan. Abdi ningali iman sareng kahadéan aya dina jalmi ieu."
Bapak yang mengajari saya, bahwa iman dan kebaikan itu lebih penting daripada darah dan kekuasaan. Saya melihat iman dan kebaikan pada orang ini.
Raden Suryaatmaja, mendengar jawaban putrinya, hanya bisa terdiam lama, sebelum akhirnya — dengan mata yang berkaca-kaca, menyadari bahwa ajaran yang ia tanamkan sendiri kini berbalik menjadi argumen yang tak bisa ia bantah — merestui pernikahan itu, meski dengan syarat bahwa Ratnaningsih tidak akan pernah sepenuhnya melupakan atau meninggalkan tanggung jawabnya sebagai penjaga garis keturunan gandanya, meski ia akan hidup jauh dari tanah Priangan.
"Anjeun kedah émut, Nyai," pesen panungtung ramana saméméh Ratnaningsih angkat nuturkeun salakina ngumbara ka Jawa Wétan, "getih ieu moal leungit, sanaos hirup anjeun basajan. Sareng engké, pasti aya waktosna, getih ieu diperelukeun deui — pikeun tujuan anu langkung agung tibatan kakawasaan pribadi."
Kamu harus ingat, Nak, darah ini tidak akan hilang, meski hidupmu sederhana. Dan nanti, pasti ada waktunya, darah ini dibutuhkan lagi — untuk tujuan yang lebih besar daripada kekuasaan pribadi.
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah rumah petak sempit di Wonokromo, ketika Nyi Mas Ratnaningsih mendekap bayi kesembilannya yang baru lahir dengan bisikan "Suwe tenan aku ngenteni kowe" — kalimat yang terdengar aneh bagi siapa pun yang mendengarnya malam itu — sesungguhnya ia sedang menggenapi pesan ayahnya sendiri, disadari atau tidak. Sebab dalam diri bayi yang menangis di dadanya itu, untuk pertama kalinya setelah berabad-abad terpisah lewat jalur sejarah yang berbeda-beda, dua garis keturunan kerajaan besar Jawa yang pernah berkuasa dari pesisir utara hingga pedalaman Priangan — Kalingga, Majapahit lewat Brawijaya V, dan Sumedang Larang — bertemu dan menyatu dalam satu tubuh kecil yang rapuh, bersanding pula dengan garis kesalehan yang diwariskan seorang habib kecil keturunan Arab dari pesisir Jawa Tengah.
Empat warisan besar, empat sungai sejarah yang mengalir dari empat arah berbeda, akhirnya bermuara pada satu titik: seorang bayi laki-laki yang malam itu, di tengah hujan yang baru saja reda di atas Wonokromo, hanya dikenal sebagai anak kesembilan dari keluarga pegawai rendahan yang hidup sederhana.
Tak seorang pun di ruangan itu malam itu — bahkan ayah dan ibunya sendiri, meski masing-masing menyimpan firasat samar tentang keistimewaan anak ini — benar-benar memahami betapa besar warisan yang baru saja diwariskan kepada satu jiwa kecil yang bahkan belum bisa membuka matanya dengan sempurna.
ADEGAN 6 — NENEK DAN KALIMAT TEKA-TEKI
(Kembali ke Wonokromo, malam yang sama, menjelang dini hari)
Kamera imajiner kita kini kembali dari perjalanan panjangnya melintasi abad-abad silam, kembali ke rumah petak sempit di Wonokromo, di mana malam telah berganti menjadi dini hari yang paling sunyi — waktu ketika bahkan kampung seramai apa pun akan terdiam sejenak, seolah dunia sendiri sedang mengambil napas sebelum menyambut hari baru.
Syarifah Fatimah — perempuan yang di adegan-adegan sebelumnya baru saja kita kenali sebagai gadis muda keturunan Arab, putri Habib Salim, yang dinikahi Eyang Wongsokusumo puluhan tahun silam — kini telah menjadi seorang perempuan tua, rambutnya yang dulu hitam legam kini memutih sepenuhnya, tertutup kerudung putih yang selalu ia kenakan sejak kembali dari tanah suci bertahun-tahun lalu, memberinya gelar kehormatan "Hajjah" yang jarang ia gunakan sendiri karena kerendahan hatinya.
Ia duduk di kursi kayu tua dekat jendela ruang depan, tempat ia sudah duduk sejak awal malam, punggungnya yang bungkuk dimakan usia tetap tegak dengan disiplin yang jarang dimiliki perempuan seusianya, kedua tangannya yang keriput namun masih kokoh menggenggam tasbih kayu yang butir-butirnya sudah mengilat licin dimakan puluhan tahun perputaran doa yang tak terhitung jumlahnya. Bibirnya bergerak tanpa suara, terus-menerus, tanpa henti, sejak jeritan pertama menantunya terdengar dari balik pintu kamar hingga detik ini — sebuah zikir yang tak pernah benar-benar berhenti, seolah perempuan tua itu tahu bahwa malam ini membutuhkan lebih banyak doa daripada malam-malam kelahiran sebelumnya.
Cahaya lampu teplok yang mulai meredup memantul di wajahnya yang penuh guratan, menciptakan bayang-bayang yang membuat matanya — mata yang bahkan di usia senja ini masih menyimpan ketajaman garis keturunan Arabnya, sepasang mata cokelat gelap yang seolah bisa menembus permukaan apa pun yang ia pandang — tampak berkilau seperti sedang menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari yang bisa diungkapkan kata-kata.
Ketika tangis bayi Jati pertama kali terdengar menembus dinding, memenuhi seluruh ruangan dengan pengumuman kehidupan yang begitu penuh tenaga, Syarifah Fatimah adalah orang pertama di ruang depan yang bereaksi — bukan dengan air mata seperti cucu-cucunya yang lain, bukan pula dengan sorak kegembiraan, melainkan dengan sebuah keheningan yang lebih dalam, sebuah jeda yang membuat tasbihnya berhenti berputar untuk pertama kalinya sejak awal malam.
Matanya terpejam. Bibirnya masih bergerak, tapi kini gerakannya berbeda — bukan lagi zikir biasa, melainkan sesuatu yang lebih personal, lebih intim, seperti sedang berbicara langsung dengan sesuatu yang jauh di luar jangkauan indra manusia biasa.
Beberapa detik berlalu seperti itu — cukup lama hingga Sulastri, yang duduk paling dekat dengannya, menoleh dengan wajah cemas, khawatir neneknya yang sudah tua itu mengalami sesuatu yang tidak baik.
"Mbah... mboten nopo-nopo?" bisik Sulastri, tangannya terulur ragu menyentuh lengan neneknya.
Syarifah Fatimah membuka matanya perlahan, seolah baru saja kembali dari perjalanan jauh yang tak seorang pun bisa mengikutinya. Ia menatap Sulastri, lalu menatap ke arah pintu kamar tempat tangis bayi masih terdengar, kini disertai suara-suara Mbah Kirno yang membersihkan dan merapikan segala sesuatunya.
"Mboten nopo-nopo, Ndhuk," jawabnya pelan, suaranya masih memiliki jejak logat Arab yang samar meski sudah bercampur sempurna dengan Jawa halus yang telah menjadi bahasanya sehari-hari selama puluhan tahun. "Mbah mung... ngrasakke soko sing durung tau dirasakke sadurunge."
Saya hanya... merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Ketika akhirnya Slamet keluar dari kamar, wajahnya basah oleh air mata yang tak bisa ia sembunyikan, menggendong bayinya yang sudah dibedong dengan kain sederhana namun bersih, langkah pertama yang ia tuju bukanlah menuju anak-anaknya yang lain yang segera mengerumuninya dengan penuh rasa ingin tahu, melainkan menuju ibunya sendiri yang masih duduk diam di kursi dekat jendela.
"Mbah," katanya, suaranya bergetar, menyerahkan bayi itu ke pangkuan neneknya sendiri sesuai tradisi yang tak tertulis namun selalu dijalankan dalam keluarga itu — bahwa bayi baru harus mendapat sentuhan dan doa pertama dari sesepuh keluarga sebelum diperkenalkan pada dunia yang lebih luas.
Syarifah Fatimah menerima bayi itu dengan gerakan yang meski lambat karena usia, tetap penuh kehati-hatian dan kelembutan yang hanya dimiliki tangan yang sudah menggendong bertahun-tahun cucu sebelumnya. Ia menatap wajah kecil yang masih merah itu, mata bayi yang masih terpejam rapat, hidung mungil yang bergerak-gerak pelan mengikuti napasnya yang masih tersengal-sengal dari perjuangan pertamanya memasuki dunia.
Lama sekali ia menatap wajah itu. Begitu lama hingga seisi ruangan — anak-anak Slamet yang mengerumuni, Slamet sendiri yang berdiri menunggu dengan napas tertahan, bahkan Mbah Kirno yang baru saja keluar dari kamar sambil membawa peralatannya — semuanya ikut terdiam, seolah tahu bahwa apa pun yang akan diucapkan perempuan tua itu berikutnya akan menjadi sesuatu yang penting, sesuatu yang akan diingat.
Di luar jendela, tanpa disadari siapa pun di dalam ruangan yang tenggelam dalam momen itu, langit mulai berubah warna. Kegelapan pekat yang sejak tadi menyelimuti Wonokromo perlahan-lahan digantikan oleh semburat biru gelap yang lembut di ufuk timur — pertanda bahwa waktu sahur telah lewat dan waktu subuh sudah semakin dekat. Dari kejauhan, samar-samar, terdengar suara kokok ayam pertama yang bersahutan dari satu rumah ke rumah lain, tanda kehidupan kampung mulai bergeliat meski matahari sendiri masih beberapa saat lagi menampakkan diri.
Syarifah Fatimah akhirnya membuka mulutnya, suaranya pelan namun cukup jelas terdengar oleh semua yang ada di ruangan itu.
"Bocah iki," katanya, jarinya yang keriput mengelus pelan pipi bayi yang masih merah itu, "duwe soko sing bedo. Mbah ngrasakke wiwit maune. Nanging Mbah durung ngerti persis, apa iki."
Anak ini punya sesuatu yang berbeda. Nenek merasakannya sejak tadi. Tapi Nenek belum tahu persis, apa ini.
Ia terdiam sejenak, matanya masih tak lepas dari wajah bayi itu, seolah sedang membaca sesuatu yang tertulis dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mata yang sudah cukup tua dan cukup banyak menyaksikan pergantian generasi.
"Wong Jawa ngerti," lanjutnya, kini suaranya sedikit lebih keras, cukup untuk memastikan kata-katanya sampai ke telinga Slamet yang berdiri kaku beberapa langkah darinya, "anak pamungkas iku mesti gawa berkah. Utawa gawa beban."
Kalimat ini — kalimat yang sama yang sudah ia ucapkan sekilas sebelumnya di adegan pembuka, kini diulanginya dengan bobot yang jauh lebih dalam, dengan konteks yang jauh lebih jelas bagi siapa saja yang cukup jeli mendengarkan.
"Kadhang," ia melanjutkan, suaranya nyaris berbisik namun entah kenapa terdengar begitu jelas dalam keheningan ruangan itu, "loro-lorone pisan. Berkah kanggo akeh wong. Beban kanggo sing nggendong."
Kadang, dua-duanya sekaligus. Berkah untuk banyak orang. Beban untuk yang menggendongnya.
Slamet, mendengar kalimat itu, tak bisa menahan diri untuk bertanya — pertanyaan yang sudah lama ia pendam sejak ibunya pertama kali mengucapkan kalimat serupa bertahun-tahun lalu, jauh sebelum kelahiran anak-anaknya yang lain.
"Mbah," katanya, suaranya nyaris tak terdengar, "Panjenengan... pripun mangertos bab menika? Kulo mboten nate cerito bab pusaka wonten ing bayi."
Nenek... bagaimana Nenek tahu soal ini? Saya tidak pernah cerita soal pusaka pada bayi.
Syarifah Fatimah mengangkat wajahnya dari bayi dalam pangkuannya, menatap putranya dengan tatapan yang campuran antara kasih sayang dan sesuatu yang lebih dalam — semacam pengetahuan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan lewat logika biasa.
"Simbah ora ngerti bab pusaka, Le," jawabnya jujur. "Nanging simbah ngerti bab... panggilan." Ia menatap kembali ke wajah bayi yang masih tertidur pulas di pangkuannya, tak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian dan pembicaraan sepenting ini. "Almarhum Abah simbah, Habib Salim, mbiyen tau ngendika — ana wektune, Gusti bakal ngirim wong sing dadi lantaran. Lan lantaran iku biasane ora katon istimewa nalika lair. Malah asring katon prasaja, ben ora dilirik wong sing salah."
Nenek tidak tahu soal pusaka, Nak. Tapi nenek tahu soal... panggilan. Almarhum ayah nenek, Habib Salim, dulu pernah berkata — ada waktunya, Allah akan mengirim orang yang jadi perantara. Dan perantara itu biasanya tidak terlihat istimewa saat lahir. Malah sering terlihat sederhana, agar tidak dilirik orang yang salah.
Kalimat itu — gema dari nubuat yang sama yang pernah diucapkan Habib Salim puluhan tahun sebelumnya kepada Eyang Wongsokusumo muda — kini menemukan jalannya kembali, diucapkan oleh putrinya sendiri, di atas tubuh kecil seorang bayi yang belum genap satu jam menghirup udara dunia.
Adzan subuh, ketika akhirnya berkumandang beberapa saat kemudian dari arah masjid kampung yang tak jauh dari rumah petak itu, terdengar berbeda pagi itu bagi siapa pun yang cukup peka merasakannya — suara muazin yang mengalun panjang, memecah keheningan dini hari, seolah sengaja disinkronkan oleh takdir untuk menyambut kedatangan seorang jiwa baru ke dunia.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Suara itu menembus dinding rumah, memenuhi ruangan tempat keluarga besar itu berkumpul mengelilingi bayi yang baru lahir, membuat Syarifah Fatimah otomatis mengangkat bayi itu sedikit lebih tinggi di pangkuannya, mendekatkan telinga kecil itu ke arah suara adzan yang berkumandang — sebuah tindakan naluriah dari kebiasaan Islam mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi yang baru lahir, meski secara formal ritual itu akan dilakukan Slamet sendiri sesaat lagi.
Di luar jendela, cahaya subuh mulai menyelinap masuk lewat celah-celah tirai, menggantikan cahaya kuning temaram lampu teplok dengan warna biru keperakan yang lembut, pertanda bahwa malam panjang penuh drama dan kelahiran ini akhirnya, perlahan-lahan, memberi jalan pada hari yang baru.
Slamet melangkah maju, mengambil alih bayinya dari pangkuan ibunya dengan gerakan penuh hormat, lalu membawanya mendekat ke jendela yang mulai diterangi cahaya subuh, seolah ingin memperkenalkan anaknya pada hari pertama yang akan disaksikan matanya — meski mata itu sendiri masih terpejam rapat, belum siap membuka diri pada dunia yang menantinya.
Ia mendekatkan mulutnya ke telinga kanan bayinya, dan dengan suara yang bergetar namun mantap, mulai mengumandangkan adzan — panggilan pertama yang akan menjadi salah satu dari sekian banyak panggilan yang akan menentukan arah hidup Jati Pamungkas, jauh sebelum ia bahkan bisa memahami satu kata pun dari makna yang terkandung di dalamnya.
ADEGAN 7 — BENDA TERBUNGKUS KAIN LUSUH
(Sudut pandang Slamet — beberapa saat setelah adzan, ketika rumah mulai tenang kembali)
Setelah adzan selesai dikumandangkan, setelah bayi itu kembali diserahkan ke pelukan ibunya yang kelelahan namun bahagia, setelah anak-anak yang lain satu per satu mulai terkantuk-kantuk di sudut ruangan dan Syarifah Fatimah kembali ke kursi kayunya dekat jendela untuk melanjutkan zikir yang sempat tertunda, Slamet Wongsokusumo mengambil kesempatan untuk keluar sebentar dari rumah — alasan yang ia berikan pada siapa pun yang bertanya hanyalah "arep wudhu, arep sholat subuh," namun tujuan sesungguhnya jauh lebih personal, jauh lebih mendesak dari sekadar memenuhi kewajiban shalat.
Ia melangkah ke halaman belakang rumah yang sempit — tak lebih dari sepetak tanah berukuran dua kali tiga meter yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian dan menyimpan kayu bakar, dikelilingi dinding bambu yang sudah mulai lapuk di beberapa sisi. Di sudut halaman itu, tersembunyi di balik tumpukan kayu bakar yang sengaja disusun sedemikian rupa, terdapat sebuah lubang kecil yang ditutupi papan kayu — tempat persembunyian yang sudah bertahun-tahun ia gunakan untuk menyimpan satu-satunya harta yang benar-benar berarti baginya, jauh melebihi nilai materi apa pun yang bisa dibayangkan.
Cahaya subuh yang mulai merambat naik dari ufuk timur memberikan penerangan yang cukup baginya untuk bekerja tanpa perlu membawa lampu teplok yang bisa menarik perhatian. Ia berjongkok, jari-jarinya yang kasar oleh bertahun-tahun kerja keras menggeser papan penutup itu dengan hati-hati, mengeluarkan sebuah bungkusan kain putih yang sudah menguning dimakan usia — bungkusan yang sama yang diwariskan Eyang Wongsokusumo kepadanya puluhan tahun lalu dalam sebuah upacara sunyi tengah malam.
Tangannya gemetar saat membuka lipatan kain itu perlahan-lahan, satu lapis demi satu lapis, seolah setiap lapisan kain adalah lapisan waktu yang harus dilalui dengan penuh kehati-hatian untuk mencapai inti dari apa yang tersimpan di dalamnya.
Di dalam bungkusan itu, akhirnya tersingkap sebuah keris kecil — tidak sebesar keris-keris pusaka yang biasa digambarkan dalam cerita-cerita rakyat, justru ukurannya cukup sederhana, bilahnya berukuran tak lebih dari dua puluh lima sentimeter, dengan gagang yang terbuat dari kayu tua yang sudah menghitam dimakan waktu, dihiasi ukiran-ukiran halus yang polanya sudah nyaris tak terbaca karena usia yang begitu tua — sebuah usia yang, jika benar cerita yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya, telah melampaui seribu dua ratus tahun.
Bilah keris itu sendiri memiliki lekukan yang tidak biasa — bukan lekukan berliku khas keris-keris Jawa yang lebih dikenal luas oleh masyarakat, melainkan bentuk yang lebih sederhana, lebih purba, mengingatkan pada bentuk senjata-senjata yang biasa ditemukan dalam relief-relief candi kuno yang berasal dari masa sebelum pengaruh Hindu-Buddha benar-benar mengakar sempurna di tanah Jawa.
Slamet menatap benda itu dalam diam yang panjang, cahaya subuh yang semakin terang memantul lembut di permukaan logam yang sudah berpatina gelap kehijauan, memberikan kesan bahwa benda itu menyimpan kehidupan tersendiri, sebuah kesadaran purba yang tertidur namun tak sepenuhnya mati, menunggu momen yang tepat untuk terbangun kembali.
"Bapak," bisiknya pelan, seolah sedang berbicara dengan Eyang Wongsokusumo yang sudah lama tiada, "kulo... kulo mboten ngertos menapa mangke wektu ingkang panjenengan ngendikakaken sampun dumugi."
Bapak... saya tidak tahu apakah sekarang waktu yang Bapak katakan sudah tiba.
Ia mengingat kembali malam ketika ia menerima warisan ini, malam yang jauh sekali jaraknya, ketika ia masih seorang pemuda yang baru menikah, belum memiliki satu pun anak, belum bisa membayangkan beban yang akan menyertai tanggung jawab menjaga rahasia ini seumur hidupnya. Eyang Wongsokusumo, dengan wajah yang sudah dipenuhi kerut-kerut usia, mata yang sudah mulai keruh oleh katarak namun masih menyimpan ketajaman yang mengerikan setiap kali menatap lurus ke mata anaknya sendiri, telah berkata dengan suara yang meski pelan namun terasa seperti gemuruh yang menembus tulang: "Kowe bakal ngerti dhewe kapan wektu kuwi."
Bagaimana caranya ia akan tahu? Pertanyaan itu sudah menghantuinya selama puluhan tahun, melewati pernikahannya dengan Ratnaningsih, melewati kelahiran delapan anaknya yang lain — masing-masing kelahiran selalu disertai dengan momen seperti ini, momen ketika ia akan mengeluarkan pusaka ini dalam diam-diam, menatapnya lama, mencoba merasakan sesuatu, tanda apa pun, yang akan memberitahunya bahwa inilah anak yang dimaksud ayahnya — namun setiap kali, ia hanya menemukan keheningan yang sama, benda logam yang dingin dan diam, tanpa memberikan petunjuk apa pun.
Tapi malam ini — atau lebih tepatnya, dini hari menjelang subuh ini — sesuatu terasa berbeda. Sejak awal ia mendengar jeritan pertama istrinya yang menandakan proses persalinan telah dimulai, benda ini, yang biasanya hanya ia sentuh sesekali dalam setahun untuk memastikan kondisinya masih terjaga, tiba-tiba terasa memanggilnya dengan intensitas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bahkan sempat membawanya masuk ke saku sarungnya sebelum bayi itu lahir — tindakan impulsif yang tak sepenuhnya bisa ia jelaskan secara logis, seolah tubuhnya sendiri bergerak mengikuti insting yang jauh lebih tua dari kesadaran rasionalnya.
Sekarang, dalam cahaya subuh yang perlahan menguat, menatap keris kecil yang tergeletak di telapak tangannya yang gemetar, Slamet merasakan sesuatu yang bahkan tak sanggup ia gambarkan dengan kata-kata yang tepat — sebuah kehangatan samar yang menjalar dari gagang keris ke telapak tangannya, sebuah getaran halus yang mungkin saja hanya imajinasinya sendiri yang dipengaruhi kelelahan semalaman menunggu kelahiran anak, namun terasa begitu nyata hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia teringat kembali pada bayi yang baru saja lahir, wajah kecil yang merah dan menangis dengan tenaga yang begitu penuh kehidupan, tangis yang entah kenapa terdengar berbeda di telinganya dibandingkan tangis kedelapan anaknya yang lain saat mereka baru lahir — bukan lebih keras secara fisik, namun ada sesuatu dalam nada tangis itu yang membuat dadanya bergetar dengan cara yang tak pernah ia alami sebelumnya.
Dan kalimat ibunya, yang baru saja diucapkan beberapa saat lalu di ruang depan — "Bocah iki duwe soko sing bedo" — terus terngiang di telinganya, bergema bersamaan dengan kalimat ayahnya bertahun-tahun silam, dan kalimat Habib Salim yang diwariskan turun-temurun sebagai nubuat keluarga: bahwa perantara yang dijanjikan itu tidak akan terlihat istimewa saat lahir, agar tidak dilirik oleh mereka yang salah.
Slamet menutup matanya, menggenggam keris kecil itu erat-erat dalam kedua telapak tangannya, menundukkan kepala dalam posisi yang menyerupai doa, meski bibirnya tidak mengucapkan kalimat-kalimat baku yang biasa diajarkan dalam shalat atau zikir — melainkan sebuah percakapan personal, hampir seperti sebuah pengakuan, yang ditujukan pada leluhurnya yang sudah lama tiada, pada Allah yang ia yakini mengatur segala sesuatu dengan hikmah yang sering kali tak terjangkau akal manusia biasa.
"Menawi leres piyambakipun," bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan angin subuh yang berhembus pelan menerpa dedaunan pohon pisang yang tumbuh liar di sudut halaman, "kulo nyuwun, Gusti, paringana kulo kekiyatan kangge njagi piyambakipun. Lan menawi mboten leres piyambakipun, kulo taksih badhe njagi amanah menika ngantos wonten ingkang leres."
Kalau benar dia, saya mohon, Ya Allah, berikan saya kekuatan untuk menjaganya. Dan kalau bukan dia, saya akan tetap menjaga amanah ini sampai ada yang benar.
Sebuah doa yang sederhana, namun mengandung beban yang begitu berat, diucapkan oleh seorang pria yang selama ini dikenal orang-orang kampung Wonokromo hanya sebagai pegawai rendahan yang pendiam — tak seorang pun dari mereka, bahkan Kasdu yang malam itu sempat mendengar suara tangis Jati dari kejauhan, yang tahu bahwa pria yang mereka kenal sehari-hari itu sesungguhnya sedang menanggung beban sejarah yang panjangnya membentang lebih dari seribu tahun.
Ketika akhirnya Slamet membungkus kembali keris itu dengan kain putihnya, mengembalikannya ke tempat persembunyian di bawah tumpukan kayu bakar, langit di atas Wonokromo sudah sepenuhnya berubah — kegelapan malam telah digantikan sempurna oleh cahaya subuh yang lembut namun mulai menguat, awan-awan tipis yang tersisa dari hujan semalam kini berwarna keunguan dan jingga pucat, dipantulkan cahaya matahari yang masih bersembunyi di balik cakrawala namun sudah mulai mengirimkan sinyal kedatangannya.
Suara-suara kampung mulai terdengar lebih jelas — langkah kaki orang-orang yang bergegas menuju masjid untuk shalat subuh berjamaah, suara sapu lidi yang mulai membersihkan halaman-halaman rumah, kokok ayam yang kini bersahutan tanpa henti dari berbagai penjuru kampung, dan di kejauhan, samar-samar, suara becak pertama yang mulai beroperasi mengantarkan pedagang menuju Pasar Wonokromo yang akan segera buka.
Slamet berdiri dari posisi jongkoknya, menatap sekali lagi ke arah tempat persembunyian pusaka yang baru saja ia tutup kembali, sebelum akhirnya melangkah masuk kembali ke dalam rumah — kali ini dengan langkah yang terasa sedikit lebih ringan, meski beban yang sesungguhnya, beban yang baru saja mulai ia sadari sepenuhnya malam ini, justru baru saja dimulai.
Ia tidak tahu bahwa keputusannya untuk tidak mengungkapkan apa pun malam itu, untuk menyimpan kembali pusaka itu dalam persembunyiannya dan menunggu tanda yang lebih jelas, adalah keputusan yang akan ia pertahankan selama bertahun-tahun ke depan — sebuah keputusan yang, meski lahir dari kehati-hatian dan kasih sayang seorang ayah yang tak ingin membebani anaknya terlalu dini, juga akan menjadi salah satu benang cerita yang akan terus berkembang sepanjang perjalanan hidup Jati Pamungkas, hingga saatnya tiba bagi kebenaran itu untuk terungkap dengan sendirinya.
ADEGAN 8 — KEDELAPAN KAKAK MENGGENDONG JATI
(Kembali ke ruang depan, pagi mulai merekah sempurna)
Ketika Slamet melangkah masuk kembali ke dalam rumah, cahaya pagi yang keemasan sudah sepenuhnya menerobos masuk lewat celah-celah dinding papan dan jendela yang kini dibiarkan terbuka lebar oleh Sulastri, menggantikan cahaya kuning temaram lampu teplok yang sejak semalam menjadi satu-satunya sumber penerangan. Debu-debu halus yang beterbangan di udara ruangan tampak berkilauan diterpa sinar matahari pagi yang menembus miring lewat jendela, menciptakan pemandangan yang, bagi siapa pun yang cukup peka menangkapnya, terasa hampir seperti adegan dari sebuah lukisan klasik — cahaya suci yang menerangi sebuah kelahiran yang baru saja terjadi.
Nyi Mas Ratnaningsih, meski tubuhnya masih terasa lemah dan nyeri di seluruh persendian akibat perjuangan semalaman, bersikeras untuk dipindahkan ke ruang depan, didudukkan di atas dipan kayu dengan bantal-bantal yang disusun menopang punggungnya, agar seluruh keluarganya bisa berkumpul bersama menyambut pagi pertama kehidupan anak kesembilan mereka — sebuah tradisi tak tertulis yang selalu dijalankan keluarga itu setiap kali ada kelahiran baru, memastikan bahwa momen ini menjadi milik seluruh keluarga, bukan hanya milik kedua orang tua.
"Ndhuk, Sulastri," panggilnya lembut meski suaranya masih terdengar parau kelelahan, "gendong adhimu, ben mbakyu-mbakyune isa ndeleng."
Sulastri, dengan mata yang masih sembab bekas menangis haru semalam, melangkah mendekat dengan hati-hati, kedua tangannya terulur menerima bayi mungil itu dari pangkuan ibunya dengan gerakan yang canggung namun penuh kelembutan seorang kakak sulung yang, meski baru enam belas tahun, sudah terbiasa merawat adik-adiknya sejak kecil.
Bayi Jati, yang kini sudah dibedong rapi dengan kain putih bersih hasil jahitan tangan ibunya sendiri beberapa bulan sebelum kelahirannya, membuka matanya untuk pertama kalinya di hadapan kakak-kakaknya — sepasang mata kecil yang masih belum bisa fokus sepenuhnya, namun cukup untuk membuat Sulastri terpaku menatapnya dengan campuran rasa haru dan takjub yang sulit ia gambarkan dengan kata-kata.
"Mata-e," bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri, "kok... beda, ya."
"Beda piye, Mbak?" tanya Kusno yang berdiri di sampingnya, ikut menatap wajah kecil sang adik.
Sulastri menggeleng, tak sanggup menjelaskan dengan tepat apa yang ia maksud. Ada sesuatu dalam sorot mata bayi itu — meski masih sangat samar, masih sangat khas mata bayi yang baru lahir yang biasanya belum menunjukkan ekspresi berarti — yang terasa lebih tenang, lebih... memperhatikan, dibandingkan bayi-bayi lain yang pernah ia lihat, termasuk adik-adiknya sendiri saat mereka baru lahir.
Ia menggendong Jati dengan hati-hati, merasakan beban ringan tubuh mungil itu di lengannya, mencium aroma khas bayi baru lahir yang bercampur dengan wangi minyak telon yang baru saja dioleskan Mbah Kirno sebelum berpamitan pulang. Ia mengayun-ayunkan tubuhnya pelan, sebuah gerakan naluriah yang entah dari mana ia pelajari, mungkin diwariskan begitu saja lewat insting yang mengalir dalam darah seorang perempuan yang sudah terbiasa mengasuh.
"Assalamualaikum, Dik," bisiknya lembut, mendekatkan wajahnya ke wajah kecil bayi itu. "Aku Mbak Lastri. Wis suwe aku ngenteni kowe lair."
Setelah beberapa saat, Sulastri memindahkan Jati ke pelukan Kusno, yang menerimanya dengan gerakan yang jauh lebih kaku dan tegang — khas anak laki-laki berusia empat belas tahun yang belum terbiasa menggendong bayi serapuh ini.
"Ati-ati, Mas. Kepalane kudu ditopang," instruksi Sulastri cepat, melihat cara Kusno memegang bayi itu yang kurang tepat.
Kusno mengangguk, buru-buru memperbaiki posisi tangannya, wajahnya yang biasanya datar dan tenang kini menunjukkan ketegangan yang jarang terlihat, keringat kecil mulai muncul di dahinya meski udara pagi itu masih cukup sejuk.
Jati, seolah merasakan ketegangan yang dipancarkan kakaknya, mulai bergerak-gerak gelisah dalam gendongan, bibirnya yang mungil mengerucut sebagai tanda awal akan menangis. Kusno, panik, langsung mengayun-ayunkan tubuhnya dengan gerakan yang terlalu cepat dan kaku, yang alih-alih menenangkan justru semakin membuat bayi itu rewel.
"Mas, ojo kasar-kasar!" seru Sri yang berdiri di sampingnya, dengan nada khas anak kecil yang merasa dirinya lebih tahu.
"Aku ora kasar! Iki carane wong nggendong bayi!"
Perdebatan kecil itu, meski terdengar sepele, mengundang tawa kecil dari Nyi Mas Ratnaningsih yang menyaksikan dari dipan — tawa lelah namun tulus, tawa seorang ibu yang bahagia menyaksikan interaksi alami di antara anak-anaknya, sebuah momen kecil kebahagiaan sederhana yang, di tengah segala beban dan rahasia besar yang menyelimuti kelahiran anak kesembilan ini, terasa begitu manusiawi dan menenangkan.
Slamet, yang baru saja masuk dan menyaksikan momen itu dari ambang pintu, tersenyum tipis — senyum pertama yang benar-benar tulus terlihat di wajahnya sejak semalam, senyum yang untuk sesaat berhasil melupakan beban berat yang baru saja ia sadari kembali di halaman belakang beberapa menit sebelumnya.
Giliran berikutnya jatuh pada Sri, yang menggendong Jati dengan penuh kehati-hatian berlebihan, seolah bayi itu terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja jika ia bergerak terlalu cepat. Ia duduk diam di lantai beralas tikar, tak berani bergerak sedikit pun, matanya yang berbinar penuh kekaguman tak lepas dari wajah kecil adiknya yang kini sudah mulai tenang kembali.
"Sri, wis to. Genti sing liyo," Sulastri akhirnya menegur setelah beberapa menit berlalu dan Sri masih enggan menyerahkan bayi itu ke kakak berikutnya.
"Sedhelo meneh, Mbak. Lagi sepisan iki," rengek Sri, memeluk Jati sedikit lebih erat, meski tetap menjaga kehati-hatiannya.
Giliran si kembar Wagimin dan Wagiman menjadi momen yang paling menghibur pagi itu — kedua anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu berebut siapa yang akan menggendong lebih dulu, hingga akhirnya Sulastri harus menengahi dengan memutuskan bahwa mereka akan menggendong bersama-sama, masing-masing menopang satu sisi tubuh bayi itu dengan pengawasan ketat dari kakak sulung mereka.
"Adhine abot yo, Mas?" tanya Wagimin pada saudara kembarnya.
"Ora patiya. Ringan kok."
"Aku mengko péngin duwe adhik meneh po ya."
"Lha iki wis adhi anyar, bodho."
Tawa kecil kembali pecah di ruangan itu, tawa yang meski sederhana, terasa begitu berharga setelah malam panjang yang penuh ketegangan dan drama yang baru saja mereka lalui bersama.
Yuni, gadis berusia delapan tahun yang semalam sempat menangis ketakutan mendengar suara-suara dari balik pintu kamar, kini menggendong Jati dengan air mata yang kembali menetes — namun kali ini air mata bahagia, bukan lagi ketakutan. Ia mencium pipi kecil adiknya berkali-kali, membisikkan kata-kata sayang yang khas anak-anak seusianya, sederhana namun tulus.
"Aku bakal njogo kowe, Dik," bisiknya. "Aku ora bakal nakal-nakal maneh, ben kowe iso ndeleng conto sing apik."
Bambang, anak keenam yang berusia enam tahun, menggendong Jati dengan durasi paling singkat di antara semua kakaknya — bukan karena ia tidak antusias, melainkan karena tubuhnya sendiri masih terlalu kecil untuk menopang beban bayi dengan aman, sehingga Sulastri dengan cepat mengambil alih setelah hanya beberapa detik, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dan akhirnya, Endang, si bungsu yang kini resmi bukan lagi bungsu, digendong oleh ibunya sendiri didekatkan pada Jati — dua bayi/balita yang kini menjadi dua anak terkecil dalam keluarga itu, saling menatap satu sama lain dengan ekspresi bingung khas anak-anak seusia mereka yang belum sepenuhnya memahami konsep memiliki saudara baru.
"Iki adhimu, Ndhuk," kata Nyi Mas Ratnaningsih lembut pada Endang, yang hanya menatap dengan mata besar penuh kebingungan sebelum akhirnya mengulurkan jari mungilnya, tanpa sengaja menyentuh pipi Jati yang lembut — sebuah sentuhan pertama antara dua saudara yang, meski tak seorang pun di ruangan itu menyadarinya saat itu, akan menjadi salah satu ikatan yang bertahan sepanjang kehidupan mereka di masa depan, jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan pagi itu.
Matahari pagi kini sudah sepenuhnya terbit di atas Wonokromo, sinarnya yang hangat menembus jendela ruang depan, menerangi seluruh keluarga yang berkumpul mengelilingi bayi kesembilan mereka dengan cahaya keemasan yang lembut. Suara-suara kampung yang sudah sepenuhnya bangun terdengar dari luar — pedagang sayur yang berteriak menawarkan dagangannya, suara sepeda yang berdenting lewat gang sempit, anak-anak tetangga yang mulai bermain di halaman, kehidupan normal yang terus berjalan tanpa peduli pada drama besar yang baru saja terjadi di salah satu rumah petak sederhana di antara mereka.
Bagi dunia luar, pagi itu hanyalah pagi biasa seperti pagi-pagi lainnya di Wonokromo. Tapi bagi keluarga yang berkumpul di ruangan sempit itu, pagi itu menandai awal dari sesuatu yang, meski belum sepenuhnya mereka pahami, akan mengubah arah hidup mereka semua selamanya.
ADEGAN 9 — WONOKROMO SUBUH: KAMPUNG YANG TERJAGA
(Bidikan kamera imajiner melebar keluar dari rumah petak, menyapu seluruh kampung Wonokromo yang mulai bangun)
Seandainya kamera yang mengikuti kisah ini bisa menembus dinding dan naik lebih tinggi, melayang di atas atap-atap seng kampung Wonokromo yang berjejalan seperti gelombang logam berkarat yang membeku, pemandangan yang akan tertangkap pagi itu adalah sebuah kampung yang, meski baru saja menjadi saksi satu kelahiran kecil yang tak seorang pun sadari kelak akan menjadi begitu penting, tetap bergerak dengan ritme yang sama seperti setiap pagi lainnya — sebuah ironi yang akan terus berulang sepanjang hidup Jati Pamungkas, bahwa dunia besar tak pernah benar-benar berhenti untuk menyaksikan hal-hal kecil yang akan mengubah nasibnya sendiri.
Cahaya matahari pagi yang keemasan menyapu genting-genting seng yang masih basah oleh sisa hujan semalam, menciptakan kilauan yang menyilaukan di sana-sini, seolah seluruh kampung ditaburi serpihan kaca yang berkelip-kelip setiap kali angin pagi menggoyangkan dedaunan pohon-pohon mangga dan pisang yang tumbuh liar di sela-sela rumah. Uap tipis mengepul dari genting-genting itu, terangkat perlahan ke udara pagi yang masih sejuk, menciptakan kabut tipis yang membuat kampung itu, untuk sesaat, tampak seperti dilapisi selubung magis yang lembut sebelum akhirnya menguap sepenuhnya diterpa hangatnya matahari yang semakin meninggi.
Di jalan besar yang membatasi kampung dengan dunia luar, suara knalpot bus kota yang berderu kasar mulai terdengar, membawa penumpang-penumpang pertama yang berangkat kerja pagi itu — pegawai-pegawai kantoran dengan kemeja lusuh yang disetrika seadanya, buruh-buruh pabrik dengan bekal nasi bungkus daun pisang terselip di bawah lengan, dan di antara kerumunan itu, seorang pengemis tua dengan baju compang-camping yang warnanya sudah tak lagi bisa dikenali — mungkin dulu cokelat, mungkin dulu abu-abu — duduk bersandar di dinding sebuah toko yang belum buka, wajahnya kusut berdebu, matanya setengah terpejam menahan kantuk setelah semalaman tidur beralaskan trotoar yang keras dan dingin.
Pengemis tua itu, tanpa mengetahui apa pun tentang drama yang baru saja terjadi beberapa gang dari tempatnya duduk, menengadahkan tangannya yang keriput dan kotor setiap kali ada orang lewat, suaranya serak memohon sedekah dengan nada yang sudah menjadi rutinitas bertahun-tahun, tak lagi mengandung harapan besar, hanya kebiasaan bertahan hidup yang dijalankan tanpa banyak berpikir lagi.
Di dalam kampung sendiri, Pasar Wonokromo — yang beberapa tahun kemudian akan menjadi tempat Jati kecil belajar berdagang dari kakak ibunya — sudah mulai riuh sejak sebelum subuh, para pedagang sayur dan ikan menggelar dagangan mereka di atas tikar-tikar plastik yang dibentangkan di sepanjang trotoar becek, bau amis ikan segar bercampur dengan aroma tanah basah dan asap knalpot kendaraan yang mulai lalu lalang menciptakan aroma khas pasar tradisional yang, bagi siapa pun yang besar di lingkungan seperti ini, terasa seperti aroma rumah itu sendiri.
Seorang pedagang sayur perempuan paruh baya, keringat sudah mulai membasahi kerudungnya yang lusuh meski matahari baru saja terbit, berteriak lantang menawarkan bayam dan kangkung segar pada pembeli-pembeli pertama yang datang pagi itu — ibu-ibu rumah tangga dengan keranjang belanja rotan yang sudah usang, wajah mereka masih menyimpan sisa kantuk namun mata mereka sudah tajam menawar harga dengan lihai, sebuah tarian tawar-menawar yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pasar tradisional sejak dahulu kala.
Di sudut pasar yang lain, seorang tukang becak tua duduk di atas becaknya yang catnya sudah kusam dan pudar, menunggu penumpang pertama sambil mengunyah sepotong singkong rebus yang dibungkus daun pisang, matanya menerawang jauh ke arah jalan raya, mungkin memikirkan berapa banyak rupiah yang bisa ia kumpulkan hari itu untuk menyambung hidup keluarganya sendiri di rumah.
Kehidupan pasar itu, dengan segala hiruk-pikuknya, dengan segala perjuangan kecil setiap orang yang terlibat di dalamnya untuk sekadar bertahan hidup satu hari lagi, berjalan tanpa henti — sebuah mesin raksasa yang terus berputar tanpa peduli bahwa beberapa ratus meter dari sana, seorang bayi yang membawa empat warisan darah kerajaan besar Nusantara baru saja menghirup napas pertamanya di dunia yang sama sekali tak mengenal belas kasihan pada mereka yang lemah.
Kembali ke gang sempit tempat rumah keluarga Slamet berada, kehidupan kampung mulai bergeliat dengan ritme yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tetangga-tetangga yang mendengar kabar kelahiran semalam — kabar yang menyebar dengan cepat lewat mulut ke mulut khas kampung padat penduduk, dimulai dari Mak Sarni yang tak sabar membagikan apa yang ia dengar semalam kepada siapa pun yang lewat di depan rumahnya — mulai berdatangan satu per satu, membawa buah tangan sederhana: sebungkus gula, beberapa butir telur, atau sekadar doa dan ucapan selamat yang diucapkan dengan tulus meski tanpa hadiah materi apa pun.
"Wah, Bu Ratna, selamat nggih. Pun lahiran malih?" sapa seorang tetangga perempuan yang datang membawa sebungkus kecil gula pasir, wajahnya menampakkan senyum tulus meski matanya juga menyimpan rasa penasaran yang wajar — sembilan anak bukanlah jumlah yang lazim bahkan untuk ukuran kampung padat seperti Wonokromo di masa itu.
"Alhamdulillah, Bu. Lanang," jawab Nyi Mas Ratnaningsih dari dipannya, suaranya masih terdengar lelah namun penuh kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.
Kasdu, pemuda "penjaga" tak resmi blok yang semalam mendengar kabar kelahiran dari kejauhan pos ronda, juga menyempatkan diri mampir sebentar ke depan rumah itu — bukan untuk masuk, karena ia tahu batas kesopanan yang tak boleh dilewati seorang pemuda yang lebih dikenal karena kepalan tangannya daripada tata kramanya, melainkan hanya berdiri sejenak di depan pintu, menyampaikan ucapan selamat singkat pada Slamet yang kebetulan sedang berdiri di teras.
"Selamet, Pak Slamet. Muga-muga anake dadi bocah sing apik," katanya, kikuk namun tulus.
Slamet mengangguk, tersenyum tipis. "Matur nuwun, Kas."
Sebuah momen kecil dan sederhana, namun bermakna — bukti bahwa meski Wonokromo dikenal keras dan penuh hierarki jalanan yang tak kenal ampun, di baliknya tetap tersimpan solidaritas dan kepedulian antarwarga yang tulus, sebuah nilai yang kelak akan diwariskan pula dalam diri Jati sepanjang hidupnya — bahwa kekerasan dan kelembutan bisa hidup berdampingan dalam satu tempat yang sama, bahkan dalam satu jiwa yang sama.
Di kejauhan, dari arah masjid kampung yang sejak subuh tadi sudah mengumandangkan azan pertama, kini terdengar suara pengajian anak-anak yang mulai belajar mengaji pagi itu — suara-suara kecil yang melafalkan huruf hijaiyah dengan nada yang belum sempurna, dibimbing oleh seorang ustaz kampung yang sabar mengulang-ulang setiap huruf hingga anak-anak muridnya bisa melafalkannya dengan benar.
Suara itu, terbawa angin pagi yang lembut, menembus jendela rumah keluarga Slamet, mencapai telinga bayi Jati yang kini sudah tertidur pulas kembali dalam pelukan ibunya setelah lelah oleh serangkaian gendongan dari kakak-kakaknya. Meski ia sendiri, sebagai bayi yang baru berusia beberapa jam, tak mungkin memahami makna suara itu, ada sesuatu yang terasa simbolis dalam kebetulan itu — bahwa napas-napas pertamanya di dunia diiringi oleh lantunan huruf-huruf suci yang kelak akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya, jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan siapa pun pagi itu.
Matahari terus naik, semakin tinggi, semakin hangat, menyinari seluruh Wonokromo dengan cahaya yang sama, tanpa membeda-bedakan antara rumah petak sempit dan rumah yang lebih layak, antara pengemis tua yang duduk di trotoar dan bayi yang baru lahir membawa empat warisan darah kerajaan besar Nusantara. Bagi matahari, bagi alam semesta, semua sama saja — hanya manusia yang kelak akan menuliskan cerita berbeda-beda dari cahaya yang sama itu.
Dan di antara jutaan cerita yang mungkin ditulis pagi itu di seluruh penjuru Surabaya, satu cerita kecil baru saja dimulai di sebuah rumah petak sempit di Wonokromo — cerita yang, meski belum seorang pun tahu persis ke mana arahnya, sudah membawa benih dari empat sungai sejarah besar yang mengalir jauh sebelum republik ini bahkan lahir sebagai sebuah bangsa.
ADEGAN 10 — NYI MAS RATNANINGSIH DAN FIRASATNYA
(Siang hari yang sama, ketika rumah mulai sepi — para tetangga sudah pulang, anak-anak sebagian sudah berangkat ke sekolah atau membantu di pasar, hanya menyisakan Nyi Mas Ratnaningsih dan bayinya)
Matahari sudah bergeser jauh dari ufuk timur, kini berada hampir tepat di atas kepala, memancarkan cahaya siang yang terik menembus atap seng rumah petak itu, membuat udara di dalam ruangan terasa panas dan pengap meski jendela-jendela sudah dibuka lebar-lebar untuk membiarkan angin masuk. Sulastri dan Kusno sudah kembali beraktivitas seperti biasa — Sulastri sibuk di dapur menyiapkan makan siang sederhana, Kusno sudah berangkat menjajakan koran sore meski hanya beberapa jam setelah semalaman tak tidur menunggui kelahiran adiknya. Anak-anak yang lain sebagian bermain di luar, sebagian tertidur kelelahan di sudut-sudut rumah, dan Slamet sendiri sudah berangkat ke kantornya, memaksakan diri bekerja seperti biasa meski matanya masih menyimpan kantuk yang berat dan pikirannya masih dipenuhi kegelisahan yang belum sepenuhnya reda sejak subuh tadi.
Untuk pertama kalinya sejak kelahiran semalam, Nyi Mas Ratnaningsih benar-benar sendirian bersama bayinya — sebuah momen langka di tengah rumah yang biasanya selalu ramai oleh sembilan — kini sepuluh — jiwa yang tinggal berdesakan dalam satu atap yang sama.
Ia berbaring miring di atas dipan, menghadap bayinya yang tertidur di sampingnya, tangan kanannya menopang kepala sementara tangan kirinya perlahan mengelus pipi kecil Jati yang masih kemerahan, kulitnya yang lembut terasa hangat di bawah sentuhan jarinya yang kasar oleh bertahun-tahun kerja keras mengurus rumah tangga dan membantu berdagang.
Rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya sejak semalam masih terasa berat di setiap sendi, namun pikirannya sendiri jauh lebih sibuk dari yang bisa diredakan oleh istirahat fisik semata. Ia menatap wajah kecil yang tertidur pulas di hadapannya, dan untuk kesekian kalinya sejak subuh tadi, pikirannya kembali melayang jauh — bukan ke masa depan yang belum terjadi, melainkan ke masa lalu yang telah membentuk siapa dirinya sekarang, ke pesan-pesan yang diwariskan ayahnya bertahun-tahun silam di tanah Priangan yang jauh.
Getih iki ora bakal ilang, senajan uripmu prasaja.
Kalimat ayahnya itu terus terngiang, bergema dalam kesunyian pikirannya siang itu, seolah waktu bertahun-tahun yang memisahkannya dari masa remaja di keraton Sumedang tak pernah benar-benar berlalu. Ia mengingat kembali wajah ayahnya yang keriput, matanya yang menyimpan kepedihan seorang raja yang harus tunduk pada kekuasaan asing, namun tetap menyimpan harapan bahwa suatu hari, entah kapan, darah yang diwariskannya akan kembali menemukan makna yang lebih besar dari sekadar gelar kosong yang dipertahankan demi kepentingan kolonial.
Ia juga mengingat neneknya, Raden Ayu Kusumaningdyah, dengan kisah-kisah yang dibisikkannya menjelang tidur tentang kejayaan dan kejatuhan Majapahit, tentang bagaimana kerajaan sebesar apa pun bisa runtuh dari dalam jika perpecahan dibiarkan mengakar. Pelajaran itu — bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemegahan lahiriah, melainkan pada persatuan dan keteguhan iman — telah menjadi kompas moral yang membimbing setiap keputusan besar dalam hidupnya, termasuk keputusannya menikah dengan Slamet meski ditentang keras oleh kerabat keratonnya sendiri.
Namun kini, menatap bayinya yang kesembilan, ada dimensi baru dalam perenungannya yang belum pernah ia rasakan sedalam ini pada delapan kelahiran sebelumnya — sebuah kesadaran yang perlahan-lahan mengkristal dalam pikirannya sejak detik pertama ia mendengar tangisan pertama Jati menembus dinding kamar semalam.
Ia belum pernah menceritakan pada siapa pun, bahkan pada Slamet sendiri, tentang firasat yang mulai menghantuinya sejak bulan-bulan terakhir kehamilannya — firasat yang datang dalam bentuk mimpi-mimpi yang berulang, samar namun konsisten, tentang sebuah cahaya yang muncul dari kegelapan, tentang suara-suara yang berbisik dalam bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami namun terasa familier, seolah berasal dari kenangan leluhur yang tertanam jauh dalam darahnya sendiri.
Dalam salah satu mimpi yang paling sering berulang, ia melihat dirinya sendiri berdiri di tengah sebuah lapangan luas, dikelilingi ribuan orang yang wajahnya tak jelas, semuanya menatap ke satu arah yang sama — ke arah seorang pemuda yang berdiri membelakanginya, wajahnya tak pernah terlihat jelas dalam mimpi itu, namun postur tubuhnya, cara ia berdiri dengan tegak dan tenang di tengah kerumunan yang begitu besar, memberikan kesan kepemimpinan yang tak terbantahkan.
Setiap kali terbangun dari mimpi itu, jantungnya akan berdebar kencang, keringat dingin membasahi tubuhnya meski malam itu tidak panas, dan sebuah pertanyaan yang sama akan terus menghantuinya sepanjang sisa malam: apakah pemuda dalam mimpi itu adalah anak yang sedang ia kandung?
Ia tidak pernah cukup berani menceritakan mimpi-mimpi itu pada siapa pun, bahkan pada ibu mertuanya, Syarifah Fatimah, yang mungkin akan lebih memahami makna di baliknya mengingat latar belakang spiritual keluarga suaminya. Ada rasa takut yang tak sepenuhnya bisa ia jelaskan — takut bahwa jika ia mengucapkannya keras-keras, jika ia membiarkan firasat itu keluar dari batas kepalanya sendiri dan menjadi kenyataan yang diakui orang lain, maka beban yang menyertainya akan menjadi terlalu nyata untuk ditanggung.
Kini, menatap wajah bayinya yang tertidur pulas, dengan cahaya siang yang menerangi setiap detail kecil wajah mungil itu — alis tipis yang baru mulai terbentuk, bulu mata halus yang bergetar pelan mengikuti napasnya, bibir kecil yang sesekali bergerak seolah sedang menyusu dalam tidurnya — Nyi Mas Ratnaningsih merasakan gelombang emosi yang begitu kompleks hingga sulit ia pisahkan satu dari yang lain: kebahagiaan seorang ibu yang baru melahirkan, kelelahan fisik yang menumpuk, namun juga ketakutan yang samar, ketakutan seorang perempuan yang menyadari bahwa jiwa kecil di hadapannya ini mungkin akan menanggung beban yang jauh lebih besar dari apa yang pantas ditanggung siapa pun, apalagi seorang bayi yang bahkan belum genap satu hari hidup di dunia.
"Nak," bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah kesunyian rumah yang untuk sesaat menjadi begitu tenang, "ibu ora ngerti apa sing bakal kok adhepi mbesuk. Ibu ora ngerti apa firasat ibu bener apa ora." Ia mengelus lembut rambut halus bayinya yang masih basah oleh minyak telon, matanya mulai berkaca-kaca namun ia menahan diri untuk tidak menangis, khawatir suara isaknya akan membangunkan Jati yang sedang tertidur nyenyak.
"Nanging ibu janji," lanjutnya, kini suaranya lebih mantap meski masih berbisik, "ibu bakal njogo kowe sabisa-bisane. Ibu bakal ngajari kowe kabeh sing ibu ngerti — babagan iman, babagan kasabaran, babagan piye carane tetep dadi wong apik senajan donya iki kadang kejem tanpa alesan." Ibu tidak tahu apa yang akan kamu hadapi nanti. Ibu tidak tahu apakah firasat ibu benar atau tidak. Tapi ibu janji, ibu akan menjagamu sebisa-bisanya. Ibu akan mengajarimu semua yang ibu tahu — tentang iman, tentang kesabaran, tentang bagaimana caranya tetap jadi orang baik meski dunia ini kadang kejam tanpa alasan.
Ia teringat kembali pada pesan terakhir ayahnya sebelum keberangkatannya merantau ke Jawa Timur puluhan tahun lalu — pesan tentang darah yang tidak akan hilang meski hidupnya sederhana, tentang waktu yang pasti akan tiba ketika darah itu dibutuhkan kembali untuk tujuan yang lebih besar dari sekadar kekuasaan pribadi. Ia juga teringat pada kisah-kisah tentang runtuhnya Majapahit yang diceritakan neneknya, tentang bagaimana kejayaan besar bisa runtuh justru oleh perpecahan dari dalam, sebuah pelajaran yang terasa semakin relevan mengingat situasi bangsa ini sendiri — bangsa yang baru seperempat abad merdeka, masih mencari bentuknya sendiri, masih bergulat dengan berbagai persoalan yang jauh dari sederhana.
Apakah anaknya ini — anak kesembilan, anak pamungkas, pembawa empat garis darah kerajaan besar yang pernah berkuasa di tanah Jawa dan Nusantara — memang ditakdirkan untuk memainkan peran dalam babak sejarah bangsa ini yang belum tertulis? Ataukah ini semua hanya kekhawatiran berlebihan seorang ibu yang terlalu lelah dan terlalu banyak memikirkan warisan leluhurnya sendiri, memproyeksikan harapan-harapan besar pada seorang bayi yang sesungguhnya, pada akhirnya, hanya akan tumbuh menjadi manusia biasa seperti kebanyakan orang lain?
Nyi Mas Ratnaningsih tidak memiliki jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu siang itu. Yang ia miliki hanyalah firasat, doa, dan tekad seorang ibu untuk melakukan yang terbaik bagi anaknya, apa pun takdir yang menantinya kelak.
Di luar jendela, awan-awan putih bergerak perlahan melintasi langit biru yang cerah, bayangannya sesekali menyapu atap-atap seng Wonokromo, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang terus berubah — sebuah pengingat halus bahwa hidup, seperti awan-awan itu, akan terus bergerak dan berubah, membawa serta segala kemungkinan yang belum bisa diprediksi siapa pun, bahkan oleh seorang ibu yang membawa dalam dirinya kebijaksanaan dari dua garis keturunan kerajaan besar yang telah menyaksikan pasang-surut sejarah selama berabad-abad.
Jati, tak menyadari apa pun dari perenungan panjang ibunya, hanya tertidur pulas, dadanya yang kecil naik-turun dengan ritme yang tenang, sepenuhnya tak berdosa dan tak terbebani oleh apa pun yang telah dibicarakan dan direnungkan orang-orang dewasa di sekitarnya sejak semalam.
Untuk saat ini, ia hanyalah seorang bayi yang perlu disusui, digendong, dan dicintai — sesederhana itu, meski di balik kesederhanaan itu, tersimpan benih dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa dipahami siapa pun di ruangan sempit itu siang itu.
ADEGAN 11 — AYAH DAN KEPUTUSAN DIAM
(Sore hari yang sama — Slamet pulang kerja, matahari mulai condong ke barat)
Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat ketika Slamet Wongsokusumo melangkah pulang dari kantornya, bayangan tubuhnya memanjang di atas jalan tanah yang mulai mengering setelah dua hari diguyur hujan. Wajahnya menampakkan kelelahan yang berlapis-lapis — kelelahan fisik karena semalaman tak tidur, kelelahan mental karena beban pikiran yang terus menggerogoti sejak subuh tadi, dan kelelahan yang lebih dalam lagi, kelelahan seorang pria yang selama bertahun-tahun telah belajar memikul rahasia besar dalam diam, tanpa seorang pun — bahkan istrinya sendiri yang paling ia percaya — benar-benar tahu betapa beratnya beban itu menekan pundaknya setiap hari.
Ia berjalan melewati jalan besar yang memisahkan kampung dari dunia luar, melewati pedagang-pedagang kaki lima yang mulai berkemas menjelang senja, melewati sekumpulan anak-anak yang masih bermain kejar-kejaran di tanah lapang kecil dekat pertigaan, tawa mereka yang riang menggema di udara sore yang mulai menghangat keemasan. Cahaya matahari yang miring menembus di sela-sela pepohonan, menciptakan garis-garis bayangan panjang yang bergerak-gerak setiap kali angin sore menggoyangkan dedaunan, sebuah pemandangan yang di hari-hari biasa akan ia nikmati dengan tenang, namun sore itu hanya terlintas begitu saja di tepi kesadarannya yang dipenuhi pikiran-pikiran lain yang jauh lebih berat.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya terus berputar pada satu pertanyaan yang sama, pertanyaan yang sudah menghantuinya sejak dini hari tadi di halaman belakang rumah: haruskah aku memberi tahu Ratnaningsih tentang firasat ini? Haruskah aku mulai mempersiapkan Jati, sejak sekarang, untuk kemungkinan bahwa dialah yang dimaksud leluhur-leluhurku?
Ia mengingat kembali kata-kata ayahnya, Eyang Wongsokusumo, yang diucapkan puluhan tahun lalu dalam upacara sunyi tengah malam ketika pusaka itu pertama kali berpindah tangan: "Aja nate kandha sopo-sopo." Jangan pernah bilang siapa-siapa. Sebuah instruksi yang tegas, tanpa pengecualian, tanpa ruang untuk interpretasi yang lebih longgar.
Namun di sisi lain, ia juga mengingat kegelisahan yang dirasakannya sendiri selama puluhan tahun menjaga rahasia ini sendirian — kesepian yang datang dari memikul beban sebesar ini tanpa seorang pun untuk berbagi, tanpa seorang pun untuk sekadar mendengarkan kekhawatirannya, memvalidasi ketakutannya, atau membantunya memikirkan langkah apa yang seharusnya diambil.
Apakah kesepian itu adalah harga yang harus dibayar demi keamanan rahasia ini? Ataukah justru kesepian itu sendiri adalah beban tambahan yang tidak perlu, yang bisa dikurangi jika saja ia berani membagikannya pada orang yang tepat — istrinya sendiri, yang meski tak pernah secara terbuka menceritakan latar belakang keraton keluarganya, jelas menyimpan kebijaksanaan dan pemahaman spiritual yang mungkin bisa membantu memahami situasi ini dengan lebih baik?
Ketika ia sampai di depan gang rumahnya, langkahnya melambat, matanya menatap ke arah rumah petak sederhana yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama bertahun-tahun, tempat di mana sembilan — kini genap sembilan — anaknya dibesarkan dengan susah payah dari penghasilan seorang pegawai rendahan. Cahaya lampu teplok yang mulai dinyalakan di dalam rumah, menandakan senja sudah semakin mendekati malam, memancar lembut dari jendela-jendela yang setengah terbuka.
Ia berhenti sejenak di depan pintu, menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak pikirannya sebelum melangkah masuk. Dalam benaknya, ia membayangkan skenario yang mungkin terjadi jika ia menceritakan semuanya pada Ratnaningsih malam ini — bagaimana reaksinya, apakah ia akan terkejut, ataukah justru ia akan menerimanya dengan tenang mengingat latar belakangnya sendiri yang juga menyimpan darah keturunan besar?
Namun kemudian, pikiran lain muncul, pikiran yang lebih menakutkan: bagaimana jika mengetahui kebenaran ini terlalu dini justru akan mengubah cara mereka memperlakukan Jati? Bagaimana jika, tanpa disadari, mereka mulai memperlakukannya berbeda dari kedelapan kakaknya, memberikan perhatian atau tekanan berlebihan yang justru akan merusak masa kecilnya yang seharusnya sederhana dan bahagia seperti anak-anak lain? Bukankah nubuat Habib Salim sendiri mengatakan bahwa perantara yang dijanjikan itu harus tumbuh tanpa terlihat istimewa, agar tidak dilirik oleh mereka yang salah — dan bukankah "mereka yang salah" itu bisa saja termasuk orang tuanya sendiri, jika mereka memperlakukannya dengan cara yang berbeda sejak kecil?
Slamet berdiri lama di depan pintu rumahnya, matahari sore yang tersisa memantul lembut di wajahnya yang penuh pergolakan batin, sebelum akhirnya ia mengambil keputusan — keputusan yang akan ia pegang teguh selama bertahun-tahun ke depan, keputusan yang lahir bukan dari ketakutan semata, melainkan dari kasih sayang mendalam seorang ayah yang ingin melindungi anaknya dari beban yang mungkin belum saatnya ia tanggung.
Ia memutuskan untuk tetap diam. Bukan diam selamanya, bukan pula diam yang menutup diri sepenuhnya dari istrinya — namun diam yang bijaksana, diam yang menunggu waktu yang tepat, diam yang membiarkan Jati tumbuh sebagaimana anak-anak lain, mendapatkan kasih sayang yang sama, disiplin yang sama, kesempatan yang sama untuk menemukan jati dirinya sendiri tanpa dibayangi ekspektasi besar yang belum tentu benar adanya.
Nek wektune wis teko, pikirnya, mengulangi kembali kata-kata ayahnya dalam hati, aku bakal ngerti dhewe. Lan nalika wektu kuwi teko, aku lagi bakal crita kabeh — marang Ratnaningsih, marang Jati dhewe, marang sapa wae sing pantes ngerti.
Kalau waktunya sudah tiba, aku akan tahu sendiri. Dan ketika waktu itu tiba, aku baru akan cerita semuanya — pada Ratnaningsih, pada Jati sendiri, pada siapa pun yang pantas tahu.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah, disambut oleh pemandangan yang menghangatkan hatinya meski pikirannya masih dipenuhi kegelisahan — Ratnaningsih yang sudah duduk di dipan menyusui Jati dengan tenang, cahaya lampu teplok yang lembut menerangi wajah keduanya dengan kehangatan yang menenangkan, sementara di sekitar mereka, anak-anak yang lain sibuk dengan aktivitas masing-masing: Sulastri yang membantu menyiapkan makan malam di dapur, Kusno yang baru pulang dari menjajakan koran sore dengan wajah lelah namun bangga karena berhasil menjual semua dagangannya, si kembar yang bermain kelereng di sudut ruangan, dan Bambang yang tertidur pulas di pangkuan Sri setelah kelelahan bermain seharian.
Sebuah potret keluarga sederhana yang, meski menyimpan rahasia sebesar apa pun di baliknya, tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang sama seperti keluarga-keluarga lain di Wonokromo — makan seadanya, tidur berdesakan, namun tetap dipenuhi kasih sayang yang tulus dan tak ternilai harganya.
Slamet duduk di samping istrinya, menatap wajah Jati yang sedang menyusu dengan tenang, matanya bertemu sesaat dengan mata Ratnaningsih yang menatapnya balik dengan tatapan yang sulit ia baca — apakah istrinya juga menyimpan kekhawatiran yang sama dengannya? Apakah ia juga merasakan firasat yang sama tentang anak kesembilan mereka?
Ia ingin bertanya. Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidahnya, siap diucapkan. Namun kemudian, ia menahan diri, mengingat kembali keputusannya sendiri beberapa saat lalu di depan pintu rumah.
Durung wektune, batinnya. Durung wektune.
Belum waktunya. Belum waktunya.
Ia hanya tersenyum tipis pada istrinya, mengelus pelan kepala Jati yang masih menyusu, membiarkan momen sederhana itu menjadi apa adanya — sebuah momen keluarga biasa, tanpa beban sejarah besar yang menyertainya, setidaknya untuk malam ini.
ADEGAN 12 — PENUTUP: CAHAYA PERTAMA
(Malam kedua — kembali ke Jati sebagai bayi, menutup bab dengan nuansa foreshadowing halus)
Malam kembali turun di atas Wonokromo, malam kedua dalam kehidupan Jati Pamungkas, jauh lebih tenang dibandingkan malam pertama yang penuh hujan, jeritan, dan drama kelahiran yang menegangkan. Langit yang semalam tertutup awan hujan kini bersih sempurna, dipenuhi taburan bintang yang berkelip-kelip seperti debu-debu perak yang ditaburkan tangan tak kasat mata di atas kanvas gelap yang membentang tanpa batas. Bulan sabit tipis menggantung rendah di ufuk barat, cahayanya yang lembut keperakan menyinari atap-atap seng Wonokromo dengan kilau yang jauh lebih syahdu dibandingkan kilau keemasan matahari yang menyinarinya siang tadi.
Di dalam rumah petak sempit itu, seluruh keluarga sudah mulai tertidur satu per satu, kelelahan dua hari terakhir akhirnya menuntut istirahat yang layak. Anak-anak yang lebih besar tidur berdesakan di dipan-dipan yang tersedia, sementara yang lebih kecil tidur beralaskan tikar yang digelar di lantai, napas mereka yang teratur menciptakan simfoni kecil kedamaian yang mengisi ruangan yang siang harinya begitu riuh oleh aktivitas.
Nyi Mas Ratnaningsih sendiri sudah tertidur, tubuhnya yang masih lelah oleh proses persalinan akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang tak tertahankan, meski tangannya tetap menjaga posisi melindungi bayinya yang tidur di sampingnya, sebuah insting keibuan yang tak pernah padam bahkan dalam tidur paling lelap sekalipun.
Hanya Slamet yang masih terjaga, duduk bersila di sudut ruangan dekat jendela, matanya menatap keluar ke arah langit malam yang bersih, pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang belum terjawab, meski keputusannya untuk tetap diam sudah bulat ia ambil sore tadi.
Cahaya bulan sabit yang menembus jendela menciptakan garis cahaya keperakan yang jatuh tepat di atas dipan tempat istri dan bayinya tertidur, menerangi wajah kecil Jati dengan pendar lembut yang, bagi mata Slamet yang menatapnya dalam diam, tampak hampir seperti sesuatu yang sengaja diarahkan — sebuah kebetulan kosmis yang terlalu puitis untuk sekadar disebut kebetulan semata.
Ia bangkit pelan, berjalan dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan siapa pun, mendekati dipan tempat bayinya tidur. Ia berjongkok di samping dipan, menatap wajah kecil yang tertidur damai itu dalam cahaya bulan yang lembut, mengamati setiap detail yang belum sempat ia perhatikan dengan saksama sejak kelahirannya semalam — bentuk hidung yang mungil namun tegas, dagu yang sedikit menonjol, sesuatu yang mengingatkannya samar-samar pada wajah ayahnya sendiri, Eyang Wongsokusumo, dalam foto-foto lama yang tersimpan di kotak kayu tua milik keluarga.
"Jati," bisiknya pelan, mencoba nama itu sekali lagi di lidahnya, seolah ingin memastikan bahwa nama yang dipilih istrinya itu benar-benar cocok untuk anak yang akan menanggung begitu banyak warisan tak terlihat. "Jati Pamungkas."
Kayu jati — keras, kuat, tak mudah lapuk dimakan waktu, sering digunakan untuk membangun rumah-rumah yang bertahan hingga generasi, atau untuk mengukir benda-benda pusaka yang diwariskan turun-temurun. Sebuah nama yang, disadari atau tidak oleh kedua orang tuanya, membawa makna simbolis yang begitu dalam bagi seorang anak yang akan menjadi wadah bagi begitu banyak sejarah dan tanggung jawab yang jauh melampaui usianya.
Angin malam yang lembut berhembus masuk lewat celah jendela, menggoyangkan sedikit nyala lampu teplok yang hampir padam karena minyaknya sudah menipis, menciptakan bayangan-bayangan yang menari pelan di dinding ruangan. Di kejauhan, suara jangkrik malam mulai bersahutan, mengisi kesunyian dengan melodi alami yang menenangkan, sebuah kontras yang begitu jauh berbeda dengan kegaduhan hujan dan jeritan yang mewarnai malam kelahiran semalam.
Slamet mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dengan lembut telapak tangan kecil bayinya yang terkepal dalam tidur. Sentuhan itu, sekecil apa pun, seolah memicu sesuatu — tangan mungil itu perlahan membuka, jari-jari kecilnya yang lentik menggeliat pelan sebelum akhirnya, dalam gerakan refleks khas bayi, menggenggam jari telunjuk ayahnya dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran makhluk sekecil itu.
Slamet terpaku, matanya yang lelah tiba-tiba berkaca-kaca lagi, untuk kesekian kalinya dalam dua hari terakhir ini merasakan emosi yang begitu meluap hingga sulit ia bendung. Ada sesuatu dalam genggaman kecil itu — sebuah kekuatan yang tak sepadan dengan ukuran fisiknya, sebuah ketegasan yang seolah berkata: aku di sini, aku akan bertahan, apa pun yang menantiku di depan.
"Bapak janji," bisiknya, suaranya bergetar hampir tak terdengar, "bapak bakal njogo kowe. Senajan bapak durung ngerti persis kowe iku sopo, senajan bapak durung ngerti kapan wektune. Nanging bapak janji, bapak bakal ana kanggo kowe, Le."
Bapak janji, bapak akan menjagamu. Meski bapak belum tahu persis kamu itu siapa, meski bapak belum tahu kapan waktunya. Tapi bapak janji, bapak akan ada untukmu, Nak.
Di luar jendela, bulan sabit terus bergerak perlahan melintasi langit yang bersih, bintang-bintang berkelip dengan sabar seolah menyaksikan momen kecil dan intim itu dengan kesabaran kosmis yang telah mereka miliki selama miliaran tahun, menyaksikan kelahiran dan kematian yang tak terhitung jumlahnya, setiap satu dari mereka pernah terasa sepenting ini bagi mereka yang mengalaminya secara langsung.
Wonokromo, kampung yang keras dan penuh perjuangan, tertidur dalam damai malam itu, tak menyadari bahwa dalam salah satu rumah petak sempitnya, sebuah kisah baru saja dimulai — kisah yang akan membawa seorang anak jauh melampaui gang-gang sempit dan atap-atap seng yang menjadi dunia pertamanya, menuju lapangan-lapangan hijau di negeri seberang, menuju hutan-hutan lebat di ujung timur Nusantara, menuju panggung sejarah yang bahkan tak bisa dibayangkan oleh siapa pun yang hadir menyaksikan kelahirannya malam kemarin.
Namun semua itu masih sangat jauh di depan, tersembunyi dalam kabut waktu yang belum terjangkau oleh siapa pun — bahkan oleh perempuan yang membawa firasat dan mimpi-mimpi tentang pemuda yang berdiri di tengah kerumunan besar, bahkan oleh pria yang menyimpan pusaka berusia lebih dari seribu tahun di bawah tumpukan kayu bakar, bahkan oleh nenek tua yang zikirnya belum pernah putus sejak detik pertama tangis cucunya terdengar.
Untuk sekarang, ia hanyalah Jati — bayi kecil yang tertidur pulas dalam cahaya bulan yang lembut, jari mungilnya menggenggam erat jari ayahnya, tak tahu apa-apa tentang empat garis darah kerajaan besar yang mengalir dalam nadinya, tak tahu apa-apa tentang beban dan berkah yang telah dinubuatkan jauh sebelum ia lahir, tak tahu apa-apa tentang jalan panjang yang sudah menantinya sejak ia menghirup napas pertama di tengah hujan Wonokromo.
Ia hanya seorang bayi. Untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.
Dan di suatu tempat yang jauh, jauh melampaui gang sempit Wonokromo, jauh melampaui Surabaya, jauh melampaui bahkan batas waktu yang bisa dipahami akal manusia biasa, takdir — jika memang ada yang namanya takdir — mulai menuliskan babak pertama dari sebuah kisah yang akan membentang sepanjang seratus bab, empat garis keturunan, lima puluh tahun perjalanan hidup, dan satu tujuan akhir yang bahkan belum bisa dibayangkan oleh siapa pun yang hadir malam itu di sebuah rumah petak sempit di Wonokromo, Surabaya, pada bulan Juli tahun 1973.
English Version Notice
English Translation Coming Soon
We deeply regret that this epic chapter is not yet available in English. We kindly ask for your patience. The English version will be published shortly.
Please stay tuned for our official updates on Facebook, Instagram, X, TikTok, and LinkedIn.