[Deskripsi gambar utama bab]

Panembahan Wonokromo

Bab 007 — Ketika Dunia Berbicara Terlalu Keras

Safar 40 H / 661 M — Ketenangan yang cukup untuk melewati malam pertama di bawah langit Madinah.

BAGIAN 1 — Tempat menurunkan beban harinya

Gerbang kecil halaman rumah tertutup pelan di belakang mereka. Suara kayunya ringan. Namun entah mengapa, di telinga Abdullah, suara itu terasa berbeda sore ini. Karena sepanjang hari, ia terus keluar masuk rumah itu seperti biasa. Pergi. Pulang. Berangkat lagi. Hal-hal kecil yang selama ini terasa biasa. Namun setelah pagi tadi, setelah rumah Syekh Umar, pasar, dan seluruh pembicaraan tentang timur— hal biasa mendadak terasa seperti nikmat yang diam-diam besar. Harits berjalan di samping Abdullah. Untuk beberapa waktu, keduanya tidak berbicara.

Angin petang bergerak lembut melalui lorong-lorong Madinah. Di beberapa rumah, orang-orang mulai menyalakan pelita. Seorang ibu memanggil anaknya pulang. Beberapa lelaki terlihat menggiring kambing dan domba menuju kandang. Sedangkan dari kejauhan, suara orang-orang di pasar terdengar semakin sedikit. Kota Nabi sedang bergerak menuju malam. Dan Madinah pada waktu seperti ini selalu memiliki ketenangan yang berbeda. Bukan sunyi. Karena kota itu tidak pernah benar-benar sunyi. Melainkan tenang. Tenang seperti manusia yang mulai menurunkan beban harinya satu demi satu. Harits akhirnya berkata: “Engkau lebih baik sekarang.” Abdullah menoleh sedikit. “Hm?” “Wajahmu.” Harits menunjuk asal. “Tadi seperti manusia yang baru kehilangan sepuluh unta.” Abdullah tersenyum kecil. “Sekarang?” Harits memperhatikan cukup lama. Lalu menjawab: “Sekarang seperti manusia yang kehilangan lima.” Abdullah menggeleng sambil tertawa kecil. Harits ikut tersenyum. Lalu setelah beberapa langkah, wajahnya kembali lebih tenang. “Aku serius.” Abdullah memandang ke depan. Langit Madinah mulai berubah: emas, jingga, dan sedikit kemerahan di ujung barat. Harits melanjutkan pelan: “Rumahmu mengembalikan sebagian dirimu.” Langkah Abdullah melambat sedikit. Karena kalimat itu benar. Sepanjang siang, di antara: • tawa anak-anak, • suara kambing, • roti hangat, • dan Maryam, sesuatu memang terasa kembali. Belum utuh. Tetapi kembali.

Dan untuk pertama kalinya sejak rumah Syekh Umar, Abdullah mulai menyadari: Mungkin ketenangan tidak selalu datang setelah jawaban ditemukan. Kadang ia datang ketika manusia diingatkan: apa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan. Mereka terus berjalan melewati lorong-lorong Madinah. Langit di atas kota Nabi perlahan berubah semakin lembut. Cahaya matahari yang tadi memenuhi dinding batu kini mulai miring, menciptakan bayangan panjang di sepanjang jalan. Petang selalu memiliki suasana yang berbeda. Seolah kota yang sejak pagi sibuk berbicara, berdagang, berjalan, dan bekerja— mulai menurunkan suaranya sedikit demi sedikit. Di depan sebuah rumah, seorang ayah tampak mengangkat anak kecilnya ke pundak. Tak jauh dari sana, dua perempuan sedang menggulung tikar yang sejak siang dipakai menjemur gandum. Sedangkan dari arah jalan lain, beberapa penggembala menggiring kambing pulang sambil sesekali berseru satu sama lain. Kehidupan kecil.

Hal-hal yang selama ini jarang diperhatikan Abdullah. Namun sekarang, entah mengapa, matanya seperti menangkap lebih banyak daripada biasanya. Harits berjalan sambil sesekali menendang kerikil kecil di jalan. Lalu tiba-tiba berkata: “Aku memikirkan sesuatu.” Abdullah menoleh. “Apa?” Harits mengerutkan dahi. “Kalau suatu hari benar-benar pergi...” ia memandang jalan di depan, “aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Iskandar bahwa kambing itu mungkin tidak ikut.” Abdullah tertawa kecil. “Engkau masih memikirkan itu?” Harits tampak tersinggung kecil. “Aku serius.” Abdullah menggeleng sambil tersenyum. Namun beberapa langkah kemudian, senyumnya perlahan memudar. Karena di balik kalimat Harits tadi, tersimpan sesuatu yang jauh lebih nyata. Kalau suatu hari benar-benar pergi... Maka akan ada banyak hal kecil yang tidak ikut bersama mereka. Bukan hanya kambing. Bukan hanya rumah. Tetapi: • pohon yang ditanam bertahun-tahun, • lorong yang dikenali kaki mereka, • tetangga, • suara pasar, • dan kehidupan yang tumbuh perlahan bersama waktu. Dan tiba-tiba Abdullah memahami sesuatu yang baru: Hijrah bukan hanya perkara menuju tempat baru. Hijrah juga tentang menerima bahwa ada bagian kehidupan yang tidak mungkin dibawa.

Mereka terus berjalan. Lalu dari kejauhan, atap masjid mulai terlihat. Dan bersamaan dengan itu, sesuatu di dalam dada Abdullah terasa sedikit berubah. Belum tenang. Tetapi seperti manusia yang mulai mendekati tempat pulang setelah berjalan jauh. Atap masjid itu semakin jelas seiring langkah mereka mendekat. Bukan bangunan paling megah. Bukan pula yang paling tinggi. Namun bagi Abdullah, sejak dahulu tempat itu selalu memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Karena manusia tidak selalu kembali ke sebuah tempat hanya karena dindingnya. Kadang mereka kembali karena hati mereka mengenali ketenangan di sana.

Lorong menuju kawasan masjid mulai lebih ramai. Beberapa orang tampak berjalan dengan arah yang sama: • saudagar yang baru menutup urusan hari itu, • penuntut ilmu, • pengembara, • dan lelaki tua yang berjalan pelan sambil membawa tongkat. Matahari semakin turun. Langit Madinah kini dipenuhi warna: jingga, keemasan, dan garis tipis kemerahan di ufuk. Lalu dari kejauhan, suara adzan mulai terdengar. Allahu Akbar... Langkah Abdullah berhenti sesaat. Bukan karena terkejut. Karena ia sudah mendengar suara itu sepanjang hidupnya. Tetapi hari ini rasanya berbeda. Karena sejak pagi, ia terlalu lama mendengar: • pasar, • jalur, • kabar, • dan kegelisahan manusia. Dan sekarang, untuk pertama kalinya hari itu, semua suara itu seperti perlahan menjauh. Allahu Akbar... Harits ikut berhenti. Keduanya diam. Di sekitar mereka, orang-orang juga mulai melambat. Sebagian mempercepat langkah menuju masjid. Sebagian menundukkan kepala. Sebagian menghentikan percakapan. Dan tiba-tiba Abdullah teringat sesuatu yang dahulu pernah diajarkan ayahnya: Ketika dunia berbicara terlalu keras... cari tempat di mana engkau dapat kembali mendengar akhirat. Angin petang bergerak pelan. Suara adzan terus mengalun. Dan di bawah langit Madinah yang mulai berubah menuju malam, Abdullah merasakan sesuatu yang sejak pagi hilang: dadanya mulai bernapas lebih lapang.

Suara adzan terus mengalun di atas Madinah. Menyentuh: • lorong-lorong batu, • atap rumah, • pasar yang mulai sunyi, • dan manusia-manusia yang perlahan mengurangi urusan dunia mereka. Di jalan, beberapa orang mempercepat langkah. Seorang pedagang kurma menutup keranjang dagangannya dengan kain. Dua musafir yang tadi masih berbicara pelan menghentikan percakapan mereka. Sedangkan seorang ayah menggandeng anak kecilnya menuju arah masjid. Kota itu bergerak bersama satu panggilan yang sama. Dan setiap kali Abdullah melihat pemandangan seperti ini, hatinya selalu tersentuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Karena manusia berasal dari: • suku berbeda, • negeri berbeda, • pekerjaan berbeda, • dan kehidupan berbeda. Namun ketika adzan terdengar, semua kaki menuju arah yang sama.

BAGIAN 2 — Bayang-bayang di ambang pelataran

Harits melirik Abdullah. “Lebih baik?” Abdullah memandang ke depan. Ke arah masjid. Ke arah manusia-manusia yang berjalan. Lalu menjawab pelan: “Sedikit.” Harits mengangguk kecil. Tidak menambah apa-apa. Karena ada jenis kegelisahan yang tidak hilang karena nasihat panjang. Ia hanya perlahan mengecil ketika hati manusia kembali kepada tempat yang benar. Mereka kembali berjalan. Langkah demi langkah. Semakin dekat. Dan semakin dekat pula, suasana masjid mulai terasa: suara sandal di tanah, suara manusia saling memberi salam, dan lantunan ayat yang dibaca pelan oleh beberapa orang yang datang lebih awal. Lalu tepat sebelum memasuki pelataran, Abdullah mendadak berhenti kecil. Harits menoleh. “Apa?” Abdullah memandang pelataran masjid. Matanya bergerak perlahan. Karena di tengah orang-orang yang berjalan masuk, ia melihat sesuatu yang terasa aneh: dua lelaki yang dikenalnya dari rumah Syekh Umar pagi tadi. Saudagar Syam. Dan lelaki Quraisy itu. Keduanya berdiri agak jauh di bawah bayangan dinding. Tidak berbicara keras. Namun wajah mereka tampak terlalu serius untuk percakapan biasa. Dan ketika Abdullah melihat arah pandangan mereka... dadanya terasa menegang sedikit. Karena di tangan salah satu dari mereka, terlihat gulungan kulit peta yang sangat dikenalnya.

Abdullah mempersempit pandangannya sedikit. Jarak mereka tidak terlalu dekat. Namun cukup untuk membuatnya mengenali gulungan kulit itu. Kulit berwarna pucat dengan tali pengikat gelap di bagian tengah. Peta yang pagi tadi dibuka di rumah Syekh Umar. Atau setidaknya, sangat mirip. Harits mengikuti arah pandangnya. Beberapa detik. Lalu wajah lelaki Badui itu ikut berubah sedikit. “Aku tidak menyukai wajah manusia yang memegang peta saat menjelang shalat.” Abdullah menoleh kecil. “Apa hubungannya?” Harits mengangkat bahu. “Aku tidak tahu.” Ia memandang ke arah mereka lagi. “Tetapi sejak pagi setiap kali peta muncul, kabarnya selalu membuat hidup lebih berat.” Abdullah hampir tersenyum kecil. Hampir. Namun kali ini pikirannya tidak benar-benar sampai ke sana. Karena kedua lelaki itu tampak berbeda dibanding pagi tadi. Di rumah Syekh Umar, mereka berbicara: • pelan, • hati-hati, • dan tertutup. Tetapi sekarang... wajah mereka menyimpan sesuatu yang lebih tegang. Saudagar Syam itu beberapa kali menoleh ke sekitar. Sedangkan lelaki Quraisy di sampingnya tampak membuka sedikit gulungan kulit itu lalu segera menutupnya lagi. Bukan seperti manusia yang sedang mengobrol biasa. Lebih seperti manusia yang sedang memastikan sesuatu. Atau menunggu seseorang.

Suara adzan masih terdengar. Manusia terus berjalan menuju masjid. Dan untuk sesaat, Abdullah merasa seluruh kegelisahan siang tadi seperti hendak kembali masuk ke dadanya. Namun tepat saat itu, ia teringat: Ketika hati gelisah... jangan berlari lebih dulu kepada ketakutan. Ia menarik napas pelan. Lalu mengalihkan pandangannya dari kedua lelaki itu. Harits menoleh. “Tidak mendekat?” Abdullah menggeleng perlahan. “Bukan sekarang.” Harits memperhatikan sahabatnya sesaat. Lalu mengangguk kecil. Karena ia memahami. Sejak pagi, Abdullah sudah terlalu lama berjalan mengikuti: • kabar, • peta, • dan kegelisahan manusia. Dan sore ini, ia datang ke masjid bukan untuk mengejar semua itu lagi. Ia datang untuk sesuatu yang lain. Mereka kembali melangkah menuju pelataran. Sandal-sandal mulai ditinggalkan di tepi. Suara manusia merendah. Dan ketika kaki Abdullah melewati ambang pelataran masjid... untuk pertama kalinya hari itu, dunia terasa sedikit lebih jauh.

Batu pelataran masjid masih menyimpan sisa hangat matahari petang. Langkah Abdullah melambat dengan sendirinya. Begitu melewati ambang itu, suasana di sekitarnya berubah. Bukan karena suara tiba-tiba hilang. Karena orang-orang tetap berjalan. Tetap memberi salam. Tetap berbicara pelan. Tetapi iramanya berbeda. Lebih tenang. Lebih ringan. Seolah manusia di tempat ini perlahan melepaskan sesuatu dari pundak mereka sebelum masuk lebih jauh. Seorang lelaki tua yang berjalan di depan mereka berhenti sebentar untuk merapikan sandalnya. Di sisi lain, dua penuntut ilmu muda masih mengulang hafalan dengan suara pelan sambil berjalan. Sedangkan dekat salah satu tiang, seorang musafir tampak duduk sendirian dengan wajah lelah setelah perjalanan jauh.

Masjid selalu seperti itu. Manusia datang membawa: • urusan, • kelelahan, • kehilangan, • harapan, • dan beban mereka masing-masing. Namun ketika masuk, semuanya berdiri di tempat yang sama. Harits menoleh kepada Abdullah. “Aku menunggumu di luar sesudah shalat.” Abdullah mengangkat alis kecil. “Engkau tidak masuk?” Harits mendengus pelan. “Aku masuk.” Lalu ia melirik ke arah dua lelaki tadi. “Tetapi seseorang harus tetap memperhatikan manusia yang terlalu akrab dengan peta.” Abdullah hampir tertawa. Hampir. Lalu menggeleng kecil. “Engkau terlalu banyak curiga.” Harits mengangkat bahu. “Dan sampai hari ini aku belum menyesalinya.” Keduanya berjalan beberapa langkah lagi. Lalu arah mereka mulai sedikit terpisah. Abdullah melangkah lebih ke dalam. Melewati: • tiang-tiang, • lingkaran kecil manusia, • dan cahaya petang yang masuk dari sela bangunan. Lalu ia berhenti. Diam. Memandang ruang masjid beberapa saat. Karena tiba-tiba, setelah hari yang terasa begitu panjang... setelah: • rumah Syekh Umar, • Salman, • pasar, • Maryam, • anak-anak, • Basrah, • dan seluruh kegelisahan, akhirnya ia sampai pada tempat yang sejak pagi sebenarnya paling ingin ia datangi. Dan untuk pertama kalinya sejak matahari terbit, Abdullah tidak ingin memikirkan masa depan. Ia hanya ingin duduk.

Abdullah berjalan lebih dalam dengan langkah pelan. Tidak tergesa. Tidak pula memandang ke sekitar terlalu banyak. Seolah tubuhnya sudah mengenali jalan itu tanpa perlu dipikirkan. Di salah satu sisi, sekelompok penuntut ilmu masih duduk membentuk lingkaran kecil. Seorang guru tua membaca hadits dengan suara tenang. Beberapa orang mendengarkan sambil menunduk. Sedangkan yang lain mengulang pelan agar hafalan tidak terlepas. Di sisi lain, beberapa musafir sedang berbicara dengan suara rendah. Dan dekat salah satu tiang, seorang lelaki tampak membaca Qur'an dengan kepala sedikit tertunduk. Semua berjalan seperti biasa. Masjid tidak berubah. Dan justru karena itu, sesuatu di dalam dada Abdullah terasa semakin tenang. Karena sejak pagi, ia terlalu banyak melihat manusia yang berubah: • wajah yang gelisah, • bisikan yang hati-hati, • dan pembicaraan yang dipenuhi kekhawatiran. Tetapi di tempat ini, Qur'an masih dibaca. Ilmu masih diajarkan. Dan manusia masih datang membawa diri mereka kepada Allah. Abdullah akhirnya memilih tempat dekat salah satu tiang. Tidak terlalu ramai. Tidak pula terlalu jauh. Lalu ia duduk perlahan.

Dan sesudah duduk... ia baru menyadari sesuatu: betapa lelah pikirannya hari itu. Bukan tubuhnya. Karena ia bahkan belum berjalan jauh. Tetapi pikirannya. Sejak pagi, ia seperti terus berlari: dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran lain. Rumah Syekh Umar. Basrah. Pasar. Salman. Maryam. Anak-anak. Dan kemungkinan yang belum terjadi tetapi sudah memenuhi dadanya. Abdullah menghembuskan napas perlahan. Lalu menundukkan kepala. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi... ia berhenti mengejar pikirannya sendiri. Di dekatnya, seorang qari tua sedang membaca Qur'an dengan suara pelan. Tidak keras. Hampir seperti gumaman. Namun lantunan ayat itu mengalir lembut di udara masjid. Dan Abdullah tidak mengangkat kepala. Karena entah mengapa... hari ini ia merasa hanya ingin mendengarkan.

Lantunan Qur'an itu terus mengalun pelan. Tidak tinggi. Tidak pula dibuat indah berlebihan. Hanya suara seorang lelaki tua yang membaca ayat-ayat yang mungkin telah ia ulang ribuan kali sepanjang hidupnya. Namun justru karena itu, suara tersebut terasa tenang. Tenang seperti air yang mengalir lama di tempat yang sama. Abdullah tetap menundukkan kepala. Matanya memandang batu lantai di hadapannya. Pikirannya tidak benar-benar kosong. Masih ada: • Basrah, • rumah Syekh Umar, • peta, • dan pembicaraan tentang timur. Tetapi kini semuanya tidak lagi berlari seperti tadi. Lebih pelan. Jauh lebih pelan. Dan untuk pertama kalinya, ia mulai dapat melihat kegelisahannya sendiri dari jarak yang berbeda. Lalu tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang membuatnya diam lebih lama: Sejak pagi, ia terlalu sibuk bertanya: Bagaimana kalau...? Bagaimana kalau keluarga besar benar-benar pergi? Bagaimana kalau keadaan memburuk? Bagaimana kalau Madinah berubah? Bagaimana kalau keluarganya harus meninggalkan rumah? Namun hari itu, belum sekali pun ia bertanya: Apa yang Allah inginkan dariku? Pertanyaan itu datang begitu tenang. Tidak menghantam. Tidak mengguncang. Tetapi justru karena itu, ia terasa lebih dalam. Abdullah menutup mata perlahan. Karena tiba-tiba ia merasa malu sedikit kepada dirinya sendiri. Sejak pagi, ia begitu sibuk memikirkan: • jalan keluar, • kemungkinan, • dan rasa takut. Sampai hampir lupa: bahwa manusia tidak diperintahkan mengetahui masa depan. Mereka diperintahkan mencari petunjuk. Di dekatnya, lantunan Qur'an masih berjalan. Dan angin petang masuk pelan dari sisi masjid. Lalu Abdullah membuka mata perlahan. Menarik napas. Sangat pelan. Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak meminta jawaban. Ia hanya meminta petunjuk.

Masjid semakin tenang ketika langit bergerak menuju malam. Cahaya petang yang tadi masuk dari sela bangunan perlahan memudar. Pelita-pelita mulai dinyalakan. Cahayanya kecil. Lembut. Berpendar di antara: • tiang-tiang, • dinding, • dan manusia-manusia yang datang membawa urusan mereka masing-masing. Abdullah masih duduk di tempatnya. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Dan anehnya, untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tidak merasa perlu mengejar pikirannya. Karena beberapa beban memang tidak mengecil ketika dikejar. Ia mengecil ketika manusia berhenti memegangnya terlalu erat.

Tak jauh dari tempatnya, lelaki tua yang membaca Qur'an tadi perlahan menutup mushafnya. Lalu menatap Abdullah sesaat. Tatapan singkat. Namun cukup untuk membuat Abdullah mengangguk hormat kecil. Lelaki tua itu membalas anggukan tersebut. Lalu berkata pelan: “Hari yang panjang?” Abdullah sedikit terdiam. Lalu tersenyum tipis. “Sangat.” Lelaki tua itu mengangguk kecil. Seolah jawaban itu tidak mengejutkannya. Kemudian ia berkata lagi: “Kadang manusia datang ke masjid karena mencari jawaban.” Ia berhenti sebentar. Lalu menatap pelita kecil di dekat tiang. “Tetapi sering kali...” suaranya tenang, “Allah hanya memberi ketenangan lebih dahulu.” Abdullah diam. Karena kalimat itu terasa terlalu dekat. Terlalu tepat. Lelaki tua itu tidak bertanya: apa masalahnya. Tidak pula bertanya: siapa Abdullah. Ia hanya berdiri perlahan, merapikan kainnya, lalu tersenyum kecil. “Dan kadang...” ia menatap Abdullah sekali lagi, “ketenangan itu sudah cukup untuk hari pertama.”

Hari pertama. Kalimat itu membuat Abdullah mengangkat wajah sedikit. Hari pertama. Seolah lelaki tua itu mengetahui: sesuatu baru saja dimulai. Bukan perpindahan. Bukan perjalanan. Tetapi sesuatu di dalam dirinya. Lelaki itu lalu pergi pelan, meninggalkan Abdullah di dekat tiang. Dan untuk beberapa saat, Abdullah hanya memandang pelita kecil yang cahayanya bergerak lembut terkena angin. Lalu untuk pertama kalinya hari itu, ia bertanya dalam hati: Apakah ini benar-benar awal dari sesuatu?

Pertanyaan itu tinggal beberapa saat di dalam hati Abdullah. Tidak dijawab. Tidak pula dikejar. Karena untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak merasa harus segera menemukan jawaban untuk segala sesuatu. Di luar masjid, malam mulai turun perlahan di atas Madinah. Suara langkah manusia semakin sedikit. Pelita-pelita kecil tampak menyala di beberapa sudut. Sedangkan dari arah rumah-rumah, sesekali angin membawa: • aroma roti, • kayu bakar, • dan kehidupan malam yang mulai berkumpul kembali di dalam keluarga masing-masing. Abdullah mengangkat wajah perlahan. Memandang bagian langit yang terlihat dari sela bangunan. Gelap mulai turun. Dan anehnya, ia justru merasa lebih ringan dibanding ketika matahari masih tinggi. Hari yang dimulai dengan: • keresahan, • peta, • dan kabar yang menyesakkan, kini berakhir dengan sesuatu yang jauh lebih tenang: kesadaran bahwa ia tidak harus memikul semuanya sendirian. Di kejauhan, orang-orang mulai bersiap merapikan shaf. Beberapa suara pelan saling memberi salam terdengar di antara tiang-tiang masjid. Lalu Abdullah menundukkan pandangannya. Dan tanpa sadar, wajah-wajah mulai muncul satu demi satu di benaknya: Maryam. Iskandar. Fatimah. Harits. Rumah kecil mereka. Halaman. Kandang. Kambing kecil yang terus membuat masalah. Lalu ia tersenyum kecil sendiri. Karena tiba-tiba ia menyadari sesuatu: Sejak pagi ia terus memikirkan: bagaimana menyelamatkan keluarganya. Namun belum sempat benar-benar mensyukuri: bahwa Allah telah memberinya keluarga yang layak diperjuangkan.

Dan di tengah masjid Nabi yang mulai tenang itu, Abdullah menundukkan kepala perlahan. Lalu berbisik sangat pelan: “Alhamdulillah.” Satu kata. Pendek. Tetapi malam itu, rasanya lebih lapang daripada seluruh percakapan panjang sejak pagi. Sesudah itu Abdullah tidak berbicara lagi. Ia hanya duduk. Diam. Membiarkan ketenangan masjid mengisi ruang-ruang kosong yang sejak pagi dipenuhi kegelisahan. Di dekatnya, orang-orang mulai berdiri perlahan. Sebagian merapikan pakaian. Sebagian menggeser tempat duduk. Sebagian lagi berjalan pelan mencari shaf. Suara langkah di atas lantai batu terdengar lembut. Lalu seseorang mengucapkan salam. Yang lain membalas.

Kehidupan masjid bergerak dengan tenang, seperti sungai yang mengalir tanpa tergesa. Abdullah mengangkat kepala perlahan. Dan tiba-tiba, tanpa sengaja, matanya bergerak ke arah pelataran luar. Ke tempat tadi ia melihat: saudagar Syam, lelaki Quraisy, dan gulungan peta itu. Kosong. Mereka sudah tidak ada. Abdullah memperhatikan beberapa saat. Lalu menundukkan pandangannya kembali. Dan anehnya... kali ini ia tidak mengejar pikiran itu. Tidak bertanya: ke mana mereka pergi. Tidak pula memikirkan: siapa yang mereka tunggu. Karena hari ini ia mulai belajar sesuatu: bahwa tidak semua pintu harus dibuka dalam satu hari. Dan tidak semua beban harus dipikul sekaligus. Di sampingnya, seorang anak kecil berjalan sambil menggandeng tangan ayahnya. Matanya mengantuk. Langkahnya pendek-pendek. Namun tangannya menggenggam erat. Abdullah memperhatikan pemandangan itu sesaat. Lalu entah mengapa, ia teringat Iskandar lagi. Nanti pulang sebelum malam. Kalimat itu datang lagi. Dan kali ini, Abdullah tersenyum kecil. Karena tiba-tiba ia sadar: Hari ini terasa sangat panjang. Namun ketika pulang nanti, Iskandar mungkin hanya akan bertanya: “Ayah... kambingnya sudah lebih patuh?” Dan entah mengapa, pikiran itu terasa jauh lebih menenangkan daripada Basrah.

Tak lama kemudian, barisan mulai dirapikan. Orang-orang berdiri perlahan. Suara percakapan kecil mereda sedikit demi sedikit. Yang tersisa hanya: • langkah kaki, • salam pendek, • dan gerakan manusia yang mencari tempat dalam shaf. Abdullah ikut berdiri. Merapikan kainnya perlahan. Lalu melangkah menuju barisan. Di kanan kirinya, manusia berdiri: • saudagar, • pengembara, • penuntut ilmu, • pekerja, • dan orang-orang yang mungkin sedang membawa beban yang tidak diketahui siapa pun. Dan seperti selalu, ketika berdiri di dalam shaf, semua perbedaan itu menghilang. Tidak ada: • keluarga besar, • manusia kecil, • orang kaya, • ataupun pemilik jalur perdagangan. Hanya hamba. Abdullah menarik napas perlahan. Dan untuk sesaat, ia kembali teringat: rumah Syekh Umar, pasar, Salman, Maryam, anak-anak, dan seluruh hari panjang itu. Lalu ia mengingat sesuatu yang baru saja dipahaminya: Manusia terlalu sering memikirkan: bagaimana menjaga kehidupan mereka. Namun kadang mereka lupa: siapa yang selama ini menjaga mereka.

seorang lelaki tua bijak berjanggut putih lebat mengenakan sorban tradisional bertekstur kasar, sedang membungkuk khusyuk di atas meja kayu tua yang diterangi sebatang pelita minyak kuno. Jari telunjuknya yang berkerut menunjuk dengan tegas ke arah lingkaran bertuliskan 'Basrah' pada sebuah peta kulit kambing kuno yang dipenuhi tulisan kaligrafi Arab klasik, dikelilingi oleh tumpukan kitab-kitab bermutu tinggi yang mulai menguning.
"Sementara sebagian manusia mencari kedamaian malam, di sudut tersembunyi Madinah, jemari tua mulai bergerak memastikan kepastian takdir yang tertulis di atas peta Basrah.

BAGIAN 3 — Rahasia kecil yang mengusir Basrah

Takbir mulai terdengar. Shaf menjadi hening. Dan ketika Abdullah mengangkat kedua tangannya... untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tidak membawa: • peta, • Basrah, • jalur, • dan ketakutan. Ia hanya membawa dirinya sendiri. Di luar masjid, malam turun semakin sempurna di atas Madinah. Pelita menyala di rumah-rumah. Orang-orang berkumpul bersama keluarga mereka. Dan jauh di kota yang tenang itu, di beberapa rumah tertutup, mungkin masih ada manusia yang membicarakan: • jalur timur, • simpanan logam, • dan kemungkinan perpindahan. Namun untuk malam ini... untuk beberapa saat saja... Abdullah memilih berhenti mengejar semua itu. Karena malam ini, ia hanya ingin menjadi seorang hamba. Dan tanpa Abdullah sadari, di tempat lain kota Madinah, seseorang baru saja membuka sebuah peta lain di atas meja kecil yang diterangi pelita. Dan jari tua itu berhenti tepat pada satu nama: Basrah.

Pelita kecil itu bergerak pelan terkena angin malam. Cahayanya naik turun di atas dinding rumah tua yang sunyi. Ruangan itu tidak besar. Tidak pula mewah. Hanya: • meja kayu, • beberapa gulungan kulit, • kendi air, • dan rak kecil berisi catatan perjalanan yang mulai menguning dimakan usia. Di atas meja, peta itu terbentang. Jemari tua tadi masih diam di satu tempat. Basrah. Beberapa saat, tak ada suara selain gesekan kecil pelita dan angin malam yang sesekali menyelinap melalui celah dinding. Lalu suara lain terdengar dari belakang ruangan: “Engkau masih melihat tempat itu?” Jemari tua tadi tidak bergerak. Tidak langsung menjawab. Hingga beberapa tarikan napas kemudian, barulah suara berat itu terdengar: “Aku melihat jalan.” Lelaki kedua mendekat perlahan. Umurnya lebih muda. Namun rambut di dekat pelipisnya sudah mulai dipenuhi warna putih. Ia menatap peta. Lalu memandang lelaki tua di depannya. “Atau engkau sedang melihat sesuatu yang lebih jauh daripada jalan?” Kesunyian turun.

Lelaki tua itu akhirnya menarik tangannya perlahan dari peta. Lalu bersandar kecil. “Hari ini...” suaranya rendah, “aku mendengar nama Basrah terlalu sering.” Pelita kembali bergerak kecil. Bayangan wajah mereka bergeser di dinding. “Rumah-rumah mulai menyimpan logam.” “Jalur mulai ditanyakan.” “Dan manusia mulai berbicara pelan.” Lelaki yang lebih muda itu diam. Karena ia juga melihatnya. Di pasar. Di rumah-rumah. Di wajah orang-orang. Lalu ia bertanya: “Apakah menurutmu waktunya sudah dekat?” Pertanyaan itu menggantung. Lama. Sangat lama. Sampai akhirnya lelaki tua itu berkata pelan: “Aku tidak takut ketika manusia mulai berbicara tentang pergi.” Matanya kembali kepada peta. “Aku takut...” suaranya hampir menjadi gumaman, “ketika manusia mulai diam-diam bersiap.” Pelita kembali bergerak.

Dan malam Madinah terus berjalan. Di satu tempat, Abdullah sedang berdiri dalam shaf. Di tempat lain, anak-anak mungkin masih tertawa di halaman rumah. Dan di ruangan kecil ini— sebagian orang mulai memandang masa depan bukan lagi sebagai kemungkinan. Melainkan sesuatu yang perlahan sedang berjalan menuju mereka. Lelaki yang lebih muda itu tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat meja sambil memandang peta. Matanya bergerak perlahan: dari Madinah, ke jalur utara, ke jalur dagang, lalu turun menuju timur. Basrah. Nama itu kembali berhenti di sana. Pelita kecil bergerak lagi terkena angin. Bayangan cahaya menari pelan di atas kulit peta yang mulai kusam. Akhirnya lelaki itu berkata: “Hari ini aku melewati pasar.” Lelaki tua tidak mengangkat wajah. “Dan?” “Orang-orang tidak berbicara seperti biasanya.” Kesunyian kecil turun. Lalu ia melanjutkan: “Dulu mereka berbicara tentang: • harga gandum, • kafilah, • musim, • dan ternak.” Matanya mengecil sedikit. “Sekarang terlalu banyak yang bertanya: • jalur aman, • keadaan Kufah, • dan perjalanan ke timur.” Lelaki tua itu menutup mata beberapa saat. Karena siang tadi ia juga mendengar hal serupa. Bukan dari saudagar besar. Bukan pula dari orang berpengaruh. Tetapi dari manusia biasa. Dan itulah yang paling mengganggunya. Karena ketika pembicaraan keluarga besar turun ke pasar... berarti perubahan tidak lagi tinggal di rumah-rumah tertutup. Ia mulai berjalan di tengah manusia. Lelaki tua itu akhirnya menghela napas pelan.

Lalu menggulung peta perlahan. Gerakannya lambat. Seperti manusia yang sedang menutup sesuatu yang belum selesai. “Besok.” Lelaki muda mengangkat wajah. “Besok apa?” Lelaki tua menatap nyala pelita. Lalu berkata sangat pelan: “Aku ingin bertemu Umar.” Kesunyian turun. Karena di Madinah, nama itu tidak perlu disebut lengkap. Dan malam itu... sementara Abdullah sedang mencari ketenangan di masjid, orang lain mulai bergerak mencari kepastian. Malam semakin turun di atas Madinah. Pelita-pelita mulai menjadi satu-satunya cahaya di banyak rumah. Lorong-lorong yang siang tadi dipenuhi langkah manusia kini mulai lengang. Namun kota itu belum tidur. Karena Madinah pada malam hari tidak benar-benar sunyi. Dari kejauhan masih terdengar: • suara pintu kayu ditutup, • langkah orang yang pulang, • sesekali suara unta, • dan percakapan pelan dari rumah-rumah yang belum memadamkan pelita. Sedangkan di masjid, shalat baru saja selesai. Barisan mulai bergerak perlahan. Sebagian orang langsung pulang. Sebagian tetap duduk. Sebagian lagi berkumpul dalam lingkaran kecil.

Abdullah masih di tempatnya. Duduk. Diam. Tangannya berada di atas lutut. Matanya memandang lantai beberapa saat. Karena ia belum ingin berdiri. Belum ingin kembali kepada: • peta, • Basrah, • kemungkinan, • dan pembicaraan tentang hari esok. Untuk sesaat saja, ia ingin membiarkan dirinya tinggal lebih lama di tempat yang tenang ini. Lalu langkah kaki terdengar mendekat. Pelan. Tidak tergesa. Abdullah mengangkat wajah. Harits. Lelaki Badui itu berdiri sambil melipat kedua tangannya. Wajahnya tampak biasa. Terlalu biasa. Dan Abdullah mengenalnya cukup lama untuk tahu: jika Harits terlihat terlalu biasa, biasanya ia sedang memikirkan sesuatu. “Apa?” Harits mengangkat alis. “Apa?” “Engkau sedang memikirkan sesuatu.” Harits diam. Lalu duduk perlahan di samping Abdullah. Beberapa detik. Lalu: “Dua lelaki tadi.” Abdullah tidak menoleh. Namun dadanya menegang kecil. Harits melanjutkan: “Mereka pergi sebelum shalat selesai.” Sunyi. “Dan?” Harits menatap pelataran masjid. Lalu menjawab pelan: “Mereka tidak pulang sendiri.” Abdullah akhirnya menoleh. Harits menatap lurus ke depan. “Ada orang ketiga.” Kesunyian turun perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak shalat selesai... nama Basrah terasa kembali masuk ke dalam malam Abdullah.

Abdullah tidak segera bertanya. Namun ia juga tidak mengalihkan pandangannya. Karena selama bertahun-tahun mengenal Harits, ia memahami satu hal: Lelaki itu bukan orang yang mudah memberi perhatian pada sesuatu. Tetapi jika ia memperhatikannya... biasanya ada alasan. Di sekitar mereka, masjid perlahan mulai lengang. Sebagian orang pulang. Sebagian masih duduk membaca Qur'an. Sedangkan pelita kecil di dekat tiang terus bergerak pelan karena angin malam. Abdullah akhirnya berkata: “Siapa?” Harits menggeleng kecil. “Aku tidak mengenalnya.” Sunyi. Lalu ia menambahkan: “Atau mungkin pernah melihatnya.” “Tetapi aku tidak ingat.” Abdullah menunggu. Harits jarang berbicara berputar-putar kecuali sedang mengurutkan sesuatu di kepalanya. Lelaki Badui itu mengusap dagunya perlahan. “Pakaiannya biasa.” “Tidak seperti saudagar.” “Tidak juga seperti pengembara.” “Tetapi dua orang itu...” ia berhenti, “memperlakukannya berbeda.” Abdullah mengerutkan dahi sedikit. “Berbeda bagaimana?” Harits diam cukup lama. Lalu menjawab: “Seperti manusia yang sedang menunggu jawaban.” Angin malam masuk melalui sisi masjid. Membawa udara lebih dingin dibanding petang tadi.

Abdullah memandang lantai batu di hadapannya. Lalu tanpa sadar, potongan-potongan hari itu mulai bergerak lagi di dalam pikirannya: Rumah Syekh Umar. Peta. Basrah. Logam yang mulai dipindahkan. Nama keluarga-keluarga besar. Dan sekarang... orang ketiga. Namun beberapa detik kemudian, Abdullah justru menghembuskan napas pelan. Lalu menggeleng kecil. Harits menoleh. “Apa?” Abdullah tersenyum tipis. “Aku baru sadar sesuatu.” “Apa?” Abdullah menatap lurus ke depan. Lalu berkata pelan: “Aku datang ke masjid untuk menenangkan hati.” Ia menoleh kecil. “Lalu Allah mengirimmu membawa peta lagi.” Sunyi. Satu detik. Dua detik. Lalu Harits mendengus pelan. “Aku seharusnya pulang saja.” Dan untuk pertama kalinya sejak pembicaraan tentang orang ketiga dimulai, Abdullah tertawa kecil lagi.

Tawa kecil itu tidak berlangsung lama. Namun cukup. Cukup untuk memecahkan ketegangan yang perlahan mulai kembali naik. Harits menggeleng sambil menghela napas berlebihan. “Lihat?” Ia menunjuk Abdullah. “Sejak pagi aku sudah bilang.” Abdullah mengangkat alis. “Apa?” “Peta membawa kesialan.” Abdullah memejamkan mata sebentar sambil menahan senyum. “Engkau mulai berbicara seperti orang tua di pasar.” “Tidak.” Harits menggeleng cepat. “Aku berbicara berdasarkan pengalaman hari ini.” Sunyi kecil turun. Lalu keduanya tersenyum tipis. Di sekitar mereka, masjid semakin sepi. Beberapa pelita mulai dipadamkan. Seorang lelaki tua berjalan keluar sambil membawa tongkat. Sedangkan beberapa penuntut ilmu masih duduk jauh di sisi lain. Malam semakin larut.

Harits akhirnya berkata lebih pelan: “Aku tidak tahu apa artinya.” Abdullah menoleh. Kali ini nada suara Harits berubah. Lebih sungguh-sungguh. “Mungkin tidak berarti apa-apa.” “Mungkin aku hanya terlalu memperhatikan.” Ia menatap pelataran. “Tetapi sejak pagi...” ia berhenti, “aku tidak menyukai perasaan ini.” Abdullah diam. Karena sebenarnya ia memahami. Bukan hanya Harits. Sejak pagi, seluruh Madinah seperti dipenuhi perasaan yang sama. Perasaan yang sulit diberi nama. Belum menjadi ketakutan. Belum menjadi kepastian. Tetapi juga bukan ketenangan. Lebih seperti manusia yang berdiri sebelum badai.

Angin belum datang. Langit belum gelap. Tetapi burung-burung sudah mulai bergerak lebih rendah. Lalu Abdullah menghela napas pelan. Kemudian berkata: “Besok.” Harits menoleh. “Apa?” “Besok aku ingin menemui Syekh Umar lagi.” Sunyi. Harits memperhatikan wajah Abdullah. Lama. Lalu: “Jadi engkau benar-benar tidak tenang.” Abdullah tersenyum kecil. “Tidak.” Ia memandang pelita yang bergerak pelan. Lalu berkata lebih pelan: “Aku hanya ingin memastikan apakah yang bergerak ini kabar...” Matanya mengarah ke luar masjid. Ke arah Madinah yang mulai tenggelam dalam malam. “…atau sejarah.”

Setelah kalimat itu, tak ada yang langsung berbicara. Harits memandang Abdullah beberapa saat. Lalu mengalihkan pandangannya ke luar masjid. Ke arah Madinah yang kini mulai diselimuti malam sepenuhnya. Pelita-pelita kecil tampak menyala di kejauhan seperti titik-titik cahaya yang tersebar di antara rumah-rumah. Dan untuk sesaat, dua sahabat itu hanya diam. Karena ada kalimat yang lebih baik dibiarkan tinggal sebentar sebelum ditanggapi. Apakah ini kabar... atau sejarah? Harits akhirnya menghembuskan napas panjang. Lalu mengusap wajahnya perlahan. “Aku membenci saat engkau mulai berbicara seperti orang-orang tua bijak.” Abdullah menoleh kecil. “Kenapa?” Harits mengangkat bahu. “Karena biasanya sesudah itu sesuatu benar-benar terjadi.” Abdullah tertawa kecil. Pendek. Namun kali ini lebih ringan. Karena untuk pertama kalinya sejak siang, ia merasa dapat berbicara tentang kegelisahannya tanpa tenggelam di dalamnya.

Harits berdiri perlahan. Merapikan kainnya. Lalu menatap Abdullah. “Pulang?” Abdullah tidak langsung menjawab. Matanya bergerak ke luar. Malam. Pelita. Langit gelap di atas Madinah. Lalu tanpa sengaja, kalimat kecil itu datang lagi: Nanti pulang sebelum malam. Iskandar. Abdullah tersenyum sendiri. Lalu berdiri. “Pulang.” Harits mengangkat alis. “Cepat sekali.” Abdullah menatapnya datar. “Ada kambing yang sedang dilatih.” Sunyi. Lalu Harits memalingkan wajah. “Aku tidak percaya.” “Apa?” “Basrah membuatmu berubah.” Keduanya berjalan keluar dari masjid. Dan malam Madinah menyambut mereka dengan angin yang lebih dingin. Namun kali ini, langkah Abdullah terasa berbeda dibanding saat datang. Karena ia belum membawa jawaban. Tetapi ia pulang membawa sesuatu yang hari itu lebih dibutuhkannya: ketenangan yang cukup untuk melewati malam pertama.

Mereka keluar dari masjid dengan langkah yang lebih pelan. Malam telah turun sempurna sekarang. Langit Madinah gelap dan luas, dipenuhi bintang-bintang yang tampak lebih dekat dibanding kota-kota besar di utara. Angin malam bergerak lembut melalui lorong-lorong. Membawa udara dingin gurun yang perlahan menggantikan sisa hangat siang. Beberapa rumah masih menyalakan pelita. Dari sebagian rumah, terdengar: • suara keluarga bercakap pelan, • anak kecil tertawa, • dan bunyi peralatan dapur yang sedang dirapikan. Sedangkan sebagian rumah lain mulai sunyi. Hari mereka telah selesai. Abdullah berjalan sambil memandang jalan di depan. Dan ia baru menyadari sesuatu: Saat datang tadi, ia hampir tidak memperhatikan kota. Pikirannya terlalu penuh. Terlalu sesak. Tetapi sekarang, ia melihat lebih banyak.

Di dekat sumur, dua lelaki tua masih berbicara pelan. Tak jauh dari sana, seorang ibu sedang menunggu anaknya masuk ke rumah. Dan di ujung lorong, seekor kucing kecil melintas cepat di antara bayangan dinding. Kehidupan kecil. Kehidupan yang tetap berjalan meskipun manusia dipenuhi kekhawatiran. Harits berjalan di sampingnya sambil sesekali melihat ke langit. Lalu berkata: “Aku memikirkan sesuatu lagi.” Abdullah langsung menghela napas panjang. “Tidak.” Harits mengerutkan dahi. “Aku belum bicara.” “Tetap tidak.” “Kenapa?” Abdullah menatap lurus ke depan. “Karena setiap kali engkau memikirkan sesuatu hari ini...” ia menoleh kecil, “hidupku menjadi lebih rumit.” Sunyi. Satu detik. Dua detik. Lalu Harits tertawa. Benar-benar tertawa. “Baik.” Ia mengangkat kedua tangan menyerah. “Kalau begitu aku simpan sampai besok.” Abdullah memejamkan mata sesaat. “Itu justru lebih buruk.” Mereka kembali tertawa kecil. Dan untuk pertama kalinya hari itu, jalan pulang terasa lebih dekat daripada biasanya. Karena di ujung perjalanan itu... ada rumah yang menunggu.

Mereka terus berjalan menembus lorong-lorong Madinah yang mulai sepi. Langkah kaki mereka terdengar lebih jelas sekarang. Karena suara siang telah benar-benar turun. Yang tersisa hanya malam. Dan Madinah pada malam hari memiliki wajah yang berbeda. Tidak ramai. Tetapi hidup. Di beberapa rumah, pelita masih menyala. Bayangannya bergerak lembut di balik celah pintu. Dari salah satu rumah, terdengar suara seseorang membaca Qur'an dengan nada pelan. Dari rumah lain, seorang ibu tampak memanggil anaknya yang masih bermain terlalu lama di luar. Dan di kejauhan, anjing-anjing penjaga sesekali menggonggong pelan.

Harits berjalan sambil menguap kecil. “Aku lapar lagi.” Abdullah bahkan tidak menoleh. “Engkau lapar sejak matahari terbit.” “Karena hari ini terlalu panjang.” “Engkau makan tiga kali.” “Tubuhku bekerja keras.” Abdullah mengangkat alis. “Mengerjakan apa?” Harits tampak berpikir. Lama. Sangat lama. Lalu menjawab: “Mengawasi peta.” Abdullah menutup mata sesaat. “Aku menyesal mengajakmu.” Harits tampak puas. Benar-benar puas. Dan untuk beberapa langkah berikutnya, keduanya kembali diam.

Namun diam kali ini berbeda. Tidak berat. Tidak dipenuhi kegelisahan. Hanya dua sahabat yang pulang setelah hari yang panjang. Lalu di kejauhan, Abdullah mulai mengenali lorong menuju rumahnya. Pagar kecil. Pohon kurma. Dinding rumah. Dan pelita kecil yang menyala di dekat pintu. Langkahnya melambat sedikit. Karena tiba-tiba ia menyadari sesuatu: Pelita itu belum dipadamkan. Maryam masih menunggu. Dan entah mengapa— di tengah: • Basrah, • peta, • orang ketiga, • dan kegelisahan sepanjang hari, melihat pelita kecil di depan rumah itu terasa seperti menemukan daratan setelah berjalan jauh di lautan.

Pelita kecil itu bergoyang pelan diterpa angin malam. Cahayanya tidak besar. Tidak terang. Namun dari kejauhan, Abdullah langsung mengenalinya. Karena sejak dulu Maryam memang memiliki kebiasaan kecil seperti itu: jika Abdullah pulang agak malam, ia membiarkan pelita tetap menyala. Bukan karena Abdullah tidak hafal jalan pulang. Bukan pula karena halaman rumah mereka sulit ditemukan. Tetapi karena kadang manusia tidak menyalakan cahaya agar seseorang menemukan rumah. Mereka menyalakannya agar seseorang tahu: ada yang menunggu. Harits memperhatikan pelita itu. Lalu mengangkat alis. “Aku mulai mengerti sesuatu.” Abdullah langsung menoleh. “Tidak.” “Aku belum bicara.” “Tetap tidak.” Harits tampak tersinggung. “Aku hanya ingin mengatakan...” ia menunjuk rumah itu, “sekarang aku mengerti mengapa engkau terus ingin pulang.”

Langkah Abdullah melambat sedikit. Karena untuk sesaat, ia tidak tahu harus menjawab apa. Lalu Harits melanjutkan: “Rumahmu berisik.” Sunyi. Abdullah menatapnya datar. Harits mengangguk serius. “Sangat berisik.” “Ada Iskandar.” “Ada Fatimah.” “Ada kambing pencuri itu.” “Dan kadang ada engkau.” Abdullah memejamkan mata. “Kadang?” “Tetapi...” Harits berhenti sebentar. Kali ini nada suaranya berubah. Lebih pelan. “Rumahmu hidup.” Kesunyian kecil turun. Karena kalimat itu tidak terdengar seperti gurauan. Tidak pula seperti pujian. Hanya kalimat sederhana. Tetapi cukup untuk membuat Abdullah memandang pelita kecil di depan rumahnya sedikit lebih lama.

Lalu tanpa sadar, ia teringat lagi perkataan Salman: "Anak-anak membuat manusia takut kehilangan rumah." Dulu ia hanya memahami kalimat itu dengan pikirannya. Hari ini... ia mulai memahaminya dengan hati. Dan ketika langkahnya semakin dekat ke gerbang kecil rumah itu— dari dalam terdengar suara: “AYAH PULANG!” Suara itu disusul bunyi langkah kaki kecil. Cepat. Terlalu cepat. Lalu: “Pelan!” Suara Maryam terdengar dari dalam rumah. “Iskandar— jangan berlari—” Terlambat. Pintu kecil halaman terbuka. Dan beberapa detik kemudian Iskandar sudah melesat keluar seperti anak panah. Rambutnya berantakan. Kain pundaknya miring. Dan wajahnya dipenuhi sesuatu yang sejak pagi tidak pernah berkurang: kegembiraan. “Ayah!” Abdullah bahkan belum sempat membuka kedua tangannya ketika— buk! Tubuh kecil itu sudah menabraknya. Harits langsung memalingkan wajah. “Dia melakukannya lagi.” Abdullah menahan tubuh anaknya sambil tertawa kecil. “Bukankah tadi Ayah bilang pelan?” “Aku lupa.” Jawabannya terlalu cepat. Terlalu jujur.

Lalu Fatimah muncul dari belakang sambil memeluk kambing kecil itu. Benar-benar memeluk. Seolah takut ada orang yang akan membawanya pergi malam itu juga. “Ayah.” Abdullah menoleh sambil tersenyum. “Hm?” Fatimah tampak sangat serius. Sangat serius. “Dia lebih baik.” Sunyi. Abdullah berkedip. Harits berkedip. Lalu Iskandar berseru cepat: “Tidak! Dia belum!” “Sudah.” “Belum.” “Sudah.” “Belum!” Harits menatap langit. Lalu menghela napas panjang. “Aku baru berjalan sepanjang Madinah...” katanya pelan, “dan ternyata aku pulang ke pertempuran yang sama.”

Dari ambang pintu rumah, Maryam berdiri sambil menahan senyum. Pelita kecil di dekat pintu bergerak pelan diterpa angin malam. Dan Abdullah memperhatikan semuanya diam-diam. Lalu tanpa sadar... ia tersenyum lebih lama daripada hari-hari biasanya. Karena malam itu ia pulang tanpa membawa jawaban. Tetapi ia pulang kepada sesuatu yang jauh lebih penting: alasan mengapa jawaban itu harus dicari.

Halaman rumah kembali hidup. Seolah sepanjang sore hingga malam, rumah itu memang menunggu satu hal: Abdullah pulang. Iskandar masih memegang tangan ayahnya. Kuat. Sangat kuat. Seolah takut Abdullah tiba-tiba berubah pikiran lalu pergi lagi. Sedangkan Fatimah berjalan di sisi lain sambil tetap menggendong kambing kecil itu. Padahal hewan itu jelas sudah terlalu besar untuk digendong seperti bayi. Namun Fatimah tampaknya tidak peduli. Harits masuk paling belakang. Lalu berhenti di halaman. Matanya bergerak: ke kandang, ke rumah, ke pelita, ke anak-anak. Lalu ia menggeleng kecil sendiri. Abdullah menoleh. “Apa?” Harits menghela napas panjang. “Aku sedang memikirkan nasibku.” Sunyi. “Nasibmu?” “Hm.” Ia menunjuk Iskandar. “Anak ini.” Lalu ke Fatimah. “Anak ini.” Kemudian ke kambing. “Dan makhluk ini.” Ia memejamkan mata sesaat. “Mereka terlalu sering berbicara kepadaku.” Fatimah mengerutkan dahi. “Karena engkau datang.” “Aku tahu.” “Lalu kenapa mengeluh?” Sunyi. Harits menatap Abdullah. Abdullah menatap balik. Lalu Harits berkata pelan: “Aku kalah.” Dan halaman kembali dipenuhi tawa.

Maryam berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan semuanya. Sejak Abdullah pulang, wajah suaminya berubah. Sedikit. Tidak banyak. Tetapi ia melihatnya. Bahunya lebih ringan. Langkahnya lebih tenang. Dan mata yang sejak siang dipenuhi sesuatu yang jauh, sekarang terasa lebih dekat. Lalu mata Abdullah bertemu dengannya. Hanya sebentar. Namun Maryam langsung memahami. Masalahnya belum selesai. Basrah belum hilang. Kegelisahan itu masih ada. Tetapi sesuatu telah berubah. Abdullah tidak pulang membawa jawaban. Ia pulang membawa ketenangan. Dan kadang... untuk melewati malam pertama, itu sudah cukup.

Malam bergerak semakin larut. Sedikit demi sedikit suara rumah mulai berkurang. Di dapur, peralatan telah dirapikan. Di kandang, hewan-hewan mulai tenang. Pelita kecil di halaman masih menyala, tetapi nyalanya lebih pelan sekarang. Harits akhirnya pulang setelah cukup lama menjadi korban: • pertanyaan Iskandar, • pembelaan Fatimah, • dan kambing kecil yang entah mengapa terus berjalan mengikutinya. Sebelum pergi, lelaki itu sempat berdiri di gerbang sambil menghela napas panjang. “Besok aku tidak datang.” Iskandar langsung mengangkat kepala. “Kenapa?” Harits menunjuk kambing kecil itu. “Aku ingin hidup lebih lama.” Fatimah langsung memeluk kambingnya. “Dia tidak jahat.” Harits menatap Abdullah. “Lihat? Mereka sudah berubah.” Lalu ia pergi sambil menggeleng sendiri. Dan sesudah itu, rumah perlahan menjadi lebih tenang.

Tak lama kemudian Iskandar mulai menguap. Sekali. Dua kali. Lalu tetap bersikeras bahwa dirinya belum mengantuk. Fatimah juga mulai memeluk kambing kecilnya sambil berbicara semakin pelan. Kalimat-kalimatnya mulai tidak jelas. Dan pada akhirnya Maryam hanya tersenyum kecil. “Sudah.” “Masuk.” “Besok masih ada pagi.” Iskandar sempat menoleh kepada Abdullah. “Ayah.” “Hm?” “Besok kambingnya pasti lebih patuh.” Abdullah tersenyum kecil. “InsyaAllah.” Lalu anak kecil itu mengangguk puas, seolah masalah besar dunia telah selesai. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki kecil menghilang ke dalam rumah. Lalu sunyi turun perlahan.

Sekarang tinggal: • Abdullah, • Maryam, • pelita, • dan malam Madinah. Angin bergerak lembut melalui halaman. Membawa udara dingin yang jauh berbeda dibanding siang tadi. Maryam duduk dekat tiang rumah. Abdullah duduk tidak jauh darinya. Untuk beberapa waktu, tak ada yang berbicara. Hanya suara malam. Lalu Maryam berkata pelan: “Sekarang ceritakan semuanya.” Tidak ada desakan dalam suaranya. Tidak ada kecemasan yang dipaksa keluar. Hanya seorang istri yang sejak siang menunggu suaminya siap berbicara. Abdullah memandang pelita beberapa saat. Lalu menghela napas panjang. “Aku takut.” Sunyi. Maryam tidak bergerak. Karena selama bertahun-tahun, jarang sekali Abdullah memulai pembicaraan dengan kalimat seperti itu. “Aku takut...” suaranya lebih pelan sekarang, “bukan karena perjalanan.” Matanya bergerak: ke rumah, ke halaman, ke pelita. “Aku takut kehilangan semua ini.” Angin malam bergerak kecil. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Abdullah tidak berbicara tentang Basrah. Ia berbicara tentang hatinya.

Sesudah itu Abdullah diam. Benar-benar diam. Tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak pula mencoba memperbaikinya. Karena kadang kalimat yang paling jujur justru yang paling pendek. Aku takut kehilangan semua ini. Pelita kecil di dekat mereka bergerak pelan. Cahayanya naik turun karena angin malam. Bayangan mereka bergeser lembut di dinding rumah. Maryam menundukkan pandangan beberapa saat. Tidak menjawab cepat. Karena ia tahu: ada jenis pengakuan yang tidak membutuhkan jawaban segera. Ia hanya perlu diterima terlebih dahulu. Di kejauhan, anjing penjaga kembali menggonggong pendek. Lalu suasana kembali tenang.

Maryam mengangkat wajah perlahan. Memandang: • halaman, • kandang, • pelita, • dan rumah kecil yang mereka bangun sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Rumah itu tidak hadir begitu saja. Ada hari-hari sempit. Ada masa ketika: • makanan sedikit, • pekerjaan belum tetap, • dan masa depan belum jelas. Ada masa Abdullah pulang membawa lelah. Ada masa Maryam menyimpan keresahan sendiri. Lalu tahun demi tahun berlalu. Sedikit demi sedikit: muncul kandang. Muncul tawa anak-anak. Muncul kehidupan. Dan sekarang... semua itu terasa begitu biasa sampai manusia hampir lupa betapa mahalnya nikmat tersebut. Maryam akhirnya berkata pelan: “Aku juga.” Abdullah menoleh. Maryam tidak memandangnya. Matanya masih ke depan. “Aku juga takut.” Sunyi. Lalu ia tersenyum kecil. Sangat kecil. “Aku takut Iskandar tumbuh jauh dari lorong-lorong yang dikenalnya.” Matanya bergerak ke arah kamar anak-anak. “Aku takut Fatimah mencari kambing itu saat bangun pagi.” Lalu lebih pelan: “Aku takut Madinah berubah.” Kesunyian turun lagi. Namun kali ini berbeda. Karena untuk pertama kalinya sejak semua kegelisahan itu datang... mereka berhenti saling menenangkan. Dan mulai saling jujur.

Angin malam bergerak pelan melewati halaman. Pelita kecil kembali bergoyang. Dan untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan. Tetapi karena setelah kejujuran datang, kadang manusia membutuhkan sedikit diam. Abdullah memandang halaman rumah mereka. Siang tadi tempat itu dipenuhi: • langkah kaki kecil, • suara kambing, • tawa, • dan keributan yang tidak ada habisnya. Sekarang semuanya tenang. Pintu kamar anak-anak tertutup. Kandang juga sunyi. Dan rumah itu akhirnya beristirahat setelah hari yang panjang. Abdullah menghela napas perlahan. Lalu berkata pelan: “Di masjid tadi...” Maryam mengangkat wajah sedikit. “Hm?” “Aku baru sadar sesuatu.” Ia diam sebentar. Mencari kata-kata. “Sejak pagi aku terus bertanya...” matanya menunduk, “bagaimana kalau ini terjadi... bagaimana kalau itu terjadi...” Pelita kembali bergerak kecil. “Tetapi aku belum bertanya...” suaranya lebih pelan sekarang, “apa yang Allah inginkan dari kita.” Maryam memperhatikannya diam. Dan Abdullah melanjutkan: “Aku terlalu sibuk mencari jawaban.” “Padahal mungkin...” ia menatap langit malam, “yang pertama harus dicari bukan jawaban.” Sunyi. Lalu Maryam berkata: “Petunjuk.”

Abdullah menoleh. Maryam tersenyum kecil. “Itu yang keluarga kita lakukan sejak dulu, bukan?” Ketika diberi kelapangan... mereka lebih banyak bersedekah. Dan ketika kesulitan datang... mereka lebih banyak: • membaca Qur'an, • shalat, • dan berdzikir. Bukan karena semua masalah langsung selesai. Tetapi karena mereka tidak ingin ketakutan menjadi pemimpin hati. Abdullah diam. Karena kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sebenarnya sudah ia tahu. Sudah hidup bersamanya bertahun-tahun. Namun hari ini, ia perlu mendengarnya lagi. Lalu Maryam menatap suaminya. “Kalau besok keadaan berubah...” suaranya tenang, “kita hadapi besok.” Matanya bergerak ke rumah kecil mereka. “Tetapi malam ini...” ia tersenyum tipis, “aku tidak ingin Basrah duduk di rumah kita.” Abdullah berkedip. Lalu untuk beberapa detik— ia tertawa kecil.

Tawa Abdullah kali ini berbeda. Tidak besar. Tidak lama. Tetapi benar-benar tawa yang keluar tanpa dipaksa. Karena sepanjang hari, Basrah memang terasa seperti tamu yang tidak diundang. Masuk: • ke rumah Syekh Umar, • ke pasar, • ke percakapan, • ke pikirannya, • bahkan hampir ke dalam rumahnya sendiri. Dan sekarang Maryam mengusirnya hanya dengan satu kalimat. Aku tidak ingin Basrah duduk di rumah kita. Abdullah menggeleng kecil sambil tersenyum. “Aku baru sadar.” Maryam mengangkat alis. “Apa?” “Engkau lebih bijak daripada Syekh Umar.” Maryam langsung menoleh cepat. “Jangan mengatakan itu.” “Kenapa?” “Karena besok kalau beliau mendengarnya...” ia menahan senyum kecil, “aku yang malu.” Abdullah kembali tertawa pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, beban di wajahnya hampir tidak terlihat.

Malam terus berjalan. Pelita semakin kecil. Angin terasa lebih dingin. Di kejauhan, suara Madinah semakin tenang. Abdullah memandang langit. Bintang-bintang memenuhi kegelapan di atas kota Nabi. Dan ia tiba-tiba teringat sesuatu: Pagi tadi. Rasanya seperti terjadi beberapa hari lalu. Padahal matahari yang sama baru saja tenggelam. Rumah Syekh Umar. Peta. Saudagar Syam. Salman. Masjid. Harits. Anak-anak. Hari yang panjang. Hari yang mengubah sesuatu di dalam dirinya tanpa benar-benar ia sadari. Maryam mengikuti arah pandangnya. Keduanya memandang langit yang sama. Lalu Abdullah berkata sangat pelan: “Aku merasa sesuatu sedang mendekat.” Maryam diam. Ia tidak bertanya: apa. Karena ia mengerti. Abdullah juga tidak tahu.

Beberapa saat kemudian, Abdullah menundukkan pandangannya ke halaman kecil rumah mereka. Rumah. Pelita. Malam. Dan ketenangan yang terasa begitu sederhana. Lalu untuk pertama kalinya hari itu, ia memahami sesuatu: Perubahan besar jarang datang dengan suara keras. Kadang ia datang seperti angin— pelan. Hampir tidak terdengar. Sampai manusia sadar... hidup mereka telah mulai berubah.

English Version Notice

English Translation Coming Soon

We deeply regret that this epic chapter is not yet available in English. We kindly ask for your patience. The English version will be published shortly.

Please stay tuned for our official updates on Facebook, Instagram, X, TikTok, and LinkedIn.

← Bab Sebelumnya Bab Berikutnya →